Uwan Zukri Dian Yang Tak Kunjung Padam

Oleh : Soekirman

Mengenal Zukri sejak 1983 di Pusat Pendidikan Militer di kawasan Hegarmanah Bandung kesan pertamaku sebagai anak kampung bangga, termotivasi dan tentu sedikit minder. Apa pasal ? Sebagai anak Sumatera Utara dan belajar tertinggi hanya sampai di Universitas Sumatera Utara – USU Medan, aku terkesan padanya yang anak ITB yang pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Aku yang hanya pemain lokal, penyalur surat kabar Salemba dan Kampus di Medan era 1978, sering ter-obsesi ingin ranggi seperti Zukri dan para aktifis di pulau Jawa.

Ternyata Zukri bukan klas klimis dan elitis kampus yg berkoar di mimbar dan ruang bisu. Dia seperti banyak teman lain, adalah sedikit sarjana yang lakukan dakwah bilhal dengan berkotor tangan, berlumpur bersama masyarakat akar rumput.

Sejak saat itu aku mengenal Zukri dan Yayasan Mandiri Bandung. Yayasan tempat dimana para aktifis ITB dan perguruan tinggi Bandung lakukan karya nyata menjadi tempatku studi banding.  Aku yg telah berkiprah di dunia LSM sejak 1980 dengan Bintarni, mulai menyimak kiprah Zukri di Yayasan Mandiri. Selain Zukri ada nama lain yg juga jadi teman tukar ide dan pengalaman seperti kang Iwan Abdurrahman, Toni Pangcu, Muchtar Abbas, MS Zulkarnain, Hendra Gegep, Sugeng Setiadi dll.

Cerita tentang idealisme perjuangan melawan tirani, cerita sakral bekerja sambil mendalami ilmu agama di pondok pesantren hingga cerita bagaimana cari mertua yang baik di kota kembang, selalu jadi topik segar diantara kami. Langkah kami selalu dituntun Tuhan. Kami pun dipertemukan dibanyak tempat di Indonesia.

Sebagai aktifis Walhi, banyak teman dan event yang menjadi media kami belajar, berdebat dan bergerak dalam advokasi lingkungan. Di Medan, disamping kegiatan community development yang kulakukan, secara bersama aku juga aktif dalam advokasi seperti melawan penggunaan pestisida, pembangunan dam Asahan, Hutan Tanaman Industri PT. Inti Indo rayon, rencana pabrik semen Bahorok, hingga menolak Ladiagalaska memotong TNGL di Aceh. Konservasi hutan mangrove yang semakin terkikis di pesisir timur Langkat dan pantai timur Deli Serdang, adalah bagian kerja yang selalu kami kerjakan bersama Zukri di tahun 80-an.

Penutur dan Motivator. Dari uwan Zukri aku mendengar cerita ttg Muchtar Abbas, seorang mahasiswa ITB yg jatuh cinta dengan sebuah pondok pesantren di Pabelan – Magelang, Jawa tengah. Saking cintanya Muchtar, putra Aceh itu terpilih jadi kepala desa, dan hasil kerjanya diberi ganjaran Kalpataru oleh pemerintah RI. Terbius cerita yg dituturkan Zukri, kupaksa harus mengunjungi Pabelan didekat Muntilan, tidak seberapa jauh dari candi Borobudur. Adalah Toni Pangcu yg membawaku sowan ke pimpinan pesantren Almarhum Kyai Hamam Dja’far, di pondoknya yang adem ditengah desa. Itulah pengalaman hidup di pondok dan sholat jamaah dengan santri serta mendapat wejangan dari sang Kyai kharismatik. Khayalku terbayang bagaimana para wali Allah di Jawa memberi wejangan agama dan ilmu kehidupan bagi kawula Jawa di zaman awal babad Mataram Islam.

Dari kunjunganku ke Pabelan, telah mengukuhkan semangat utk meniru idealisme dan dedikasi pelayanan pengasuh pesantren kepada masyarakat. Melalui yayasan Bitra Indonesia di Medan, kami menghimpun kekuatan moral para aktifis mahasiswa untuk  nyemplung ke tengah masyarakat. Poros hubungan dengan teman se ide di tingkat nasional kami bangun melalui lembaga pengembangan swadaya masyarakat Walhi, Bina desa, Bina swadaya, PKBI, YLBHI, Yayasan Dian Desa Yogyakarta dll.

Bung Zukri yang saat itu menetap di Padang, ia mengistilahkan “merantau ke kampung halaman jilid satu”. Kedekatan wilayah, menjadikan kami kerap bertemu. Poros kampus, pesantren dan lembaga gereja kami bangun. Di Medan kami bentuk forum LSM Sumatera Utara tahun 1986 di Balai desa Sei Rampah. Di Aceh aku aktif menyemangati aktifis dengan pelatihan Pelancar Musyawarah. Teman-teman LSM dari  Yadesa, Flower Aceh, LBH, PKBI, adalah kelompok penggerak masyarakat yang selalu berdiskusi di hotel Aceh, hotel tua berlokasi persis di depan masjid Baitul Rahman – kota Banda aceh.

Hampir semua lintasan penting menyambung cerita gerakan self reliance dan gerakan intelektual kampus, Zukri selalu hadir dan tentulah berkontribusi.

Pendeknya untuk menumbuhkan innovator publik, Zukri selalu hadir dan tampil. Sebagai contoh kiprah teman-teman LSM di Jambi, berkiprah lebih giat lewat lembaga jaringan WARSI. Demikian pupa gerakan di Riau yg dimotori Yayasan Obor desa, Philomina dan Puaka Alam, dilatarbelakangnya ada nama urang awak yang satu ini sebagai fasiltator pertumbuhan lembaga.

Medan, diskusi lintas kampus yang melibatkan anak USU, Unimed, IAIN, UISU, UMSU, Univ Katholik, SM Raja, STIKP dan UMA, aku himpun dalam program pengembangan mahasiswa marginal telah melahirkan pemikir muda yang peka terhadap masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Bung Zukri dan aku  yang sama terpilih sebagai Fellow Ashoka International pada 1986, menjadikan fenomena sosial dan dinamika masyarakat sebagai studi kasus dan menguji paradigma perubahan sosial yang sedang terjadi ditengah masyarakat. Dengan beberapa fellow Ashoka lainnya di Sumatera Utara, seperti Ned Purba dan Yohanna dari Siantar, dr. Sofyan Tan penggagas pendidikan pembauran, Dina Lumbantobing, dkk kami bekerja membangun kesadaran kemandirian masyarakat Sumatera Utara.

Mulai Moderat dengan Pemerintah.  Awal 1998, Zukri adalah narasumber berbagai forum pemuda dan mahasiswa. Indonesia seperti perempuan hamil tua. Kejenuhan terhadap sistem Orde Baru yang semakin represif memerlukan kehadirannya. Banyak ahli politik kepemimpinan orba akan segera berakhir. Gerakan mahasiswa bangkit dimana-mana.

Sebagai kelompok usia menengah, yang masih bisa fleksibel keatas senioren dan kelompok milenial tentu Uwan zukri banyak diminta pendapatnya.  Sampai kulminasi waktu di 21 Mei 1998, dimana akhirnya pak Harto menyatakan berhenti, Zukri tetap berkoresponden denganku.  Kebetulan saat itu entah beliau di Padang atau di Jakarta aku tak tahu. Aku sendiri sedang di Germany mengikuti pelatihan Community participation International- di DSE Muenchen. Persis saat itu putra bungsu kami lahir dan kami beri nama Feldafing utk mengenang nama tempat dimana kami dilatih. Berkomunikasi dg Zukri melalui internet yg terus kami lakukan. Kerusuhan dan pembakaran, serta penjarahan terjadi seantero negeri. Sungguh menyedihkan sekali negeri kita, akibat demokrasi yang tersumbat.

Pasca reformasi semua aktifis disibukkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Periode 1999 hingga 2004 adalah masa transisi yg sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banyak aktifis ikut di politik. Tapi pada umumnya kembali kepada pemberdayaan masyarakat dilapangan.

Kulminasi berikut terjadi saat negeri kita Provinsi Aceh dihantam gelombang laut Tsunami, 26 Desember 2004. Tak pernah terjadi dalam sejarah anak bangsa TNI dan GAM melakukan gencatan senjata, demi bahu membahu menolong korban yang ratusan ribu jumlahnya. Tak kurang aku dan Zukri ikut memikirkan bagaimana  cara membantu teman-teman aktifis di Aceh. Aceh menangis panjang. Sosial ekonomi dan trauma healing diperlukan. Ahli infrastruktur dan tokoh LSM ditunggu di bumi Serambi Makkah. Di rentang waktu pasca Tsunami Zukri, beberapa kali singgah di Medan.

Teman2  pergerakan banyak yg tenaganya dibutuhkan di jalur formal. Ada Bung Jusman SD yg jadi petinggi industri pesawat, kemudian jadi Menteri Perhubungan.  Mas Adi sasono kemudian Menteri Koperasi. Iwan Basri, belakangan terdengar menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di DIY. Sugeng Setiadi yang juga berada di seputar kepresidenan. Ms Zulkarnaen berada dekat legislatif dan banyak lagi teman-teman Zukri yang duduk di pemerintahan. Apa yang ingin kukatakan? Bahwa sejak saat itulah \Bung Zukri semakin moderat dan terus menerus mencari cara ideal membangun lewat jalur formal, tanpa harus memiliki jabatan dan kekuasaan formal.

Cita-cita kami sebagai Artefak. Pernah kami bergurau rada serius.  Tahun 2000 Zukri membantu kami menyusun konsep ecolodge Yayasan Bitra Indonesia untuk pusat pelatihan petani di Sibolangit. Kami menyebutnya TCSS – Training Center Sayum Sabah. Lokasi tempat pelatihan konservasi yang terletak dipinggir sungai itu, didesain teman Zukri, seorang Arsitek alumni ITB yg telah lama menetap di Pekanbaru. Desain nya sengaja menyatu dengan alam. Kelak kami harapkan jadi sekolah alam. Dan, aku bayangkan diriku akan jadi pelatih. Lebih tepatnya maestro pelatih pemberdayaan masyarakat.

Aku bilang ke Zukri. “Tempat ini bukan tujuan wisatanya, Soekirman yang akan jadi obyek wisata”. Arti nya sengaja orang berkunjung ke TCSS untuk mengunjungi Artefak, dan Artefak tersebut adalah sosok Soekirman. Ketika di Padang maka artefaknya adalah Zukri Zaad.  Kebetulan beliau punya kegiatan pertanian di dataran tinggi Alahan Panjang – Kabupaten Solok. Beberapa kali aku sempat singgah di pertanian Zukri dan ikut membantunya mendampingi masyarakat sampai ke Muara Labuh – Solok Selatan.

Apakah Artefak itu akan jadi kenyataan? Sudah 20 tahun berlalu, kami masih eksis, masih berkiprah. Bahkan setelah ketiga anak Zukri selesai pendidikan sarjana di Jawa, beliau berniat  pulang kampung lagi. Katanya ini perantauan ketiga ke kampung halaman.  Aku sendiri masih bertugas menjadi Bupati Kabuapten Serdang Bedagai. Entah siapa kelak yang berkunjung ke kami, dengan sengaja untuk melihat kami sebagai Artefak? Kita lihatlah nanti dalam episode hari tua Soekirman dan Zukri saad. Selamat menapak usia 65 Bung, itu baru kategori Lansia Muda. Jangan pernah merasa tua.

Serdang Bedagai, 17 Agustus 2020

————

Ir. H. Soekirman, Bupati Kabupaten Serdang Bedagai – Sumatera Utara, menetap di Sei Rampah. Menyelesaikan studi S1 di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, sekaligus menjadikan almamaternya sebagai tempatnya berkarya sebagai Dosen, 1984 – 2005. Namun aktifitas di luar kampus, melalui Yayasan Bitra Indonesia dan terakhir sebagai petinggi Kabupaten, telah menghantarkannya ke berbagai belahan dunia untuk mengikuti berbagai pelatihan, seminar dan lokakarya di bidang lingkungan hidup, ekonomi dan terakhir di bidang pemerintahan. Sejak tahun 2005 berkarir sebagai Wakil Bupati Serdang Bedagai dan kini sebagai Bupati, pernah menjadi calon Wakil Gubernur Sumatera Utara pada tahun 2015.

Adikku Zukri | Azmi Saad