Uwan Zukri, Inspirasi Untuk Negeri

Oleh : Israr Iskandar

Sumatera Barat sejak awal 1960-an sampai masa-masa sesudahnya sering disebut-sebut mengalami krisis ketokohan, khususnya di lapangan politik dan intelektual. Banyaknya putra-putri  terbaik daerah dan anak-anak muda terdidik terlibat dalam pemberontakan PRRI (1958-1961) menyebabkan tidak tumbuhnya secara lempang etos kepemimpinan dan kecendekiaan Minang di pentas nasional seperti masa-masa sebelumnya.

Memang setelah Kudeta G30S/PKI meletus pada tahun 1965 dan rezim Orde Baru kemudian tampil di panggung kekuasaan negara sejak 1966/1967, Sumbar bangkit lagi dari keterpurukan akibat pergolakan politik masa lalu.  Dibandingkan rezim Demokrasi Terpimpin yang dipengaruhi kaum komunis, rezim Orde Baru yang antikomunis dianggap lebih “bersahabat” dengan suku bangsa Minang.  Daerah ini, khususnya di bawah kepemimpinan Gubernur Harun Zain, Azwar Anas dan Hasan Basri Durin, bahkan meraih cukup banyak prestasi pembangunan yang membanggakan.

Namun di panggung politik dan intelektual, masa “keemasan”  yang pernah dicapai generasi perintis dimaksud memang sudah lewat.  Apalagi kalau melihat kondisi riil di ranah sendiri. Selain sebagai dampak panjang pengalaman pahit masa PRRI dan Orde Lama, corak politik Orde Baru sendiri juga seolah tak memungkinkan munculnya pemikiran dan gebrakan alternatif dari ranah. Kata sejarawan Taufik Abdullah, Sumbar masa Orde Baru (secara umum) cenderung “manut” saja pada corak pemikiran dan kebijakan yang sudah ditentukan penguasa  di pusat.

Namun demikian, dalam batas tertentu kondisi psikologi sosial dan politik yang agak berbeda dan agak lebih baik dialami kalangan Minang di rantau. Di masa Orde Baru masih cukup banyak tokoh nasional berasal dari puak ini, sekalipun secara umum jumlah dan reputasinya tidak semenonjol tokoh-tokoh Minang perintis Republik. Mereka tak hanya aktif di pemerintahan, tetapi juga di luar pemerintahan.

Zukri Saad adalah salah satu tokoh asal Sumbar yang kiprahnya menonjol di masa Orde Baru, khususnya di lapangan masyarakat sipil. Pada dirinya kita seolah bertemu dengan tokoh Minang corak lama yang kritis terhadap kekuasaan (politik dan ekonomi) sekaligus memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan visi jauh ke depan. Sejak menjadi mahasiswa di ITB tahun 1970-an ia sudah terjun di dunia aktivis, terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, dan bahkan kemudian bergerak di berbagai sektor pemberdayaan masyarakat.

Setelah tamat kuliah, Zukri melanjutkan “passion”-nya itu dengan mendirikan dan bergabung dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Beliau bahkan pernah menjadi Ketua WALHI, organisasi LSM yang bergerak dalam pemberdayaan lingkungan, masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Ketika beliau kemudian menyatakan pulang dan menetap di Sumbar sejak pertengahan 1990-an, mungkin banyak kalangan merasa heran juga. Bukankah  tanah rantau lebih “bertuah”? Bukankah dia lulusan kampus saintek terbaik dan bahkan sudah pula menjalani “karir”-nya yang cemerlang sebagai tokoh aktivis masyarakat sipil?

Biasanya kalau orang Minang yang sudah sukses di rantau lalu kemudian memutuskan pulang ke ranah lebih banyak karena tarikan politik, misalnya untuk menjadi bupati, walikota atau gubernur. Setelah jabatan politik di Sumbar dijalankan mereka umumnya kembali menetap di rantau. Sebab memang sejak lama cukup banyak juga pemimpin eksekutif di Sumbar adalah tokoh Minang yang “diimpor” dari tanah rantau.

Namun kepulangan Zukri ke Sumbar tidak dalam konteks demikian. Beliau tetap istiqamah pada pada jalur dan idealismenya. Uwan Zukri tetap tampil sebagai (meminjam istilah seniornya Mantan Menteri Koperasi Adi Sasono) “manusia merdeka”. Beliau bahkan menyebut suatu istilah sendiri:  “merantau kembali ke kampung halaman”, sekalipun sejak masa-masa sebelumnya ia (yang memiliki banyak jaringan gerakan itu) sudah sering juga pulang ke Sumbar dalam kapasitasnya sebagai pegiat LSM.

Saya mengenal secara pribadi Uwan Zukri di awal reformasi, saat saya bekerja di Mimbar Minang, harian yang diterbitkan Koperasi Ekuator Minang Media (KEMM), suatu koperasi yang dipimpin Uwan Zukri dengan beragam jenis usaha, termasuk penerbitan koran dan buku. Bergabung dan memimpin usaha koperasi dengan cita-cita besar semacam itu (walaupun tidak berlangsung lama) dan kemudian ikut dalam gerakan menolak dominasi korporasi asing (Cemex) di BUMN Semen Padang awal 2000-an menunjukkan konsistensi jalan idealisme Zukri.

Bagi saya dan rekan-rekan jurnalis-penulis muda di daerah saat itu, Uwan Zukri yang veteran LSM dan eks demonstran 1970-an itu jelas menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi, baik dengan membaca tulisan singkat-padatnya di rubrik “Inspirasi” saat itu maupun interaksi langsung dengan beliau yang selalu bersemangat dan membangkitkan optimisme. Tulisan-tulisan Zukri itu jelas sebagai wujud cintanya pada Ranah Minang, walaupun saya tidak tahu, apakah atau sejauh mana ide-ide progresif dan visioner beliau tersebut diperhatikan dan dimanfaatkan kalangan pejabat daerah.

Akhirul kalam, semoga Uwan Zukri Saad selalu sehat dan tidak berhenti memberi inspirasi, motivasi dan jalan optimisme kepada anak-anak bangsa, terutama generasi muda Minangkabau.

————

Israr Iskandar, Dosen di Jurusan Ilmu sejarah Universitas Andalas – Padang. Pendidikan S1 bidang Ilmu Sejarah Universitas Andalas, S2      bidang Ilmu Politik Universitas Indonesia, dan kini sedang menempuh S3 bidang Ilmu Sejarah, juga di Universitas Indonesia. Pernah bekerja sebagai wartawan Harian Mimbar Minang(1999 – 2002) dan peneliti di CIRUS Jakarta (2003 – 2008). Tuliasan yang sudah dipublikasikan dalam bentuk buku antara lain Elit lokal, Pemerintah dan Modal Asing, Kasus Semen Padang (2007); Cara baik Bung Hatta (2012); Dari Bangku Sekolah ke Medan Tempur (2013) serta berbagai artikel di jurnal dan media massa, seperti Republika, Koran Tempo, The Jakarta Post; Media Indonesia; Padang Ekspress, Singgalang dan Geotimes.

Adikku Zukri | Azmi Saad