Uwan Zukri, Sang Kyai Lingkungan

Oleh : Sulaiman N. Sembiring

Mengingat kembali sosok Zukri Saad yang akrab dipanggil Uwan Zukri, yang di daerah Minang artinya Abang Zukri sungguh sesuatu yang sangat menyenangkan, sekaligus mengharukan. Menyenangkan karena selama bertahun-tahun “berjalan bersama”, Uwan telah saya jadikan sebagai salah satu guru saya belajar dan mendapatkan banyak ilmu kehidupan sebagai aktivis lingkungan. Menyenangkan karena Uwan pandai bercerita, dan cerita itu penuh dengan makna. Semisal, “ Kau tau Man””, katanya suatu ketika. Hanya 3 (tiga) jenis orang yang akan dikenang secara hakiki oleh sejarah. Pertama, orang yang menanam pohon, orang yang menulis sebuah buku, dan ketiga orang yang memiliki cucu laki-laki”. “Lho, kok laki-laki Uwan? “. “Iya, karena dia akan bercerita kelak, bahwa kakeknya dulu adalah yang menanam pohon atau menulis buku ini”.

Menyenangkan, karena Uwan memiliki wawasan yang luas dalam arti yang sesungguhnya. Mampu menjelaskan sesuatu dengan sangat mudah, menarik dan sekaligus mengajak lawan bicara untuk berpikir atas hal yang sedang dia jelaskan. Saya perhatikan kenapa demikian, karena Uwan adalah seorang pembaca dan kolektor buku yang luar biasa, seorang penulis kolom selama bertahun-tahun di beberapa media cetak dan seorang kawan diskusi yang tangguh. Tidak mau menerima begitu saja argumen lawan diskusi atau debat, tetapi hormat apabila lawan diskusinya menyampaikan hal-hal yang menurut dia juga benar – walau secara usia jauh di bawahnya, seperti saya yang berjarak umur 10 tahun lebih muda. Dia ikut menyimak ketika saya menjelaskan dengan semangat, mengenai 14 Politik Hukum Pengelolaan Sumber Daya Alam, ataupun Mekanisme Konsultasi Publik dalam penyusunan peraturan perundang-undangan. Ia ikut berpikir, seperti biasanya, ketika saya membahas persoalan hukum secara keilmuan maupun penerapan hukum. Kadangkala mencengangkan dan menyedihkan, karena masih banyak ketidak-adilan dalam penegakan hukum.

Saya melihat Uwan juga belajar cepat dari apa yang kawan dan lawan bicaranya sampaikan. Hal mana tampak dari kemampuannya untuk menjadi fasilitator suatu diskusi, seperti diskusi hukum sumberdaya alam yang acapkali kami lakukan dimana-mana. Saya sebagai pembicara dan Uwan sebagai fasilitatornya.

Wawasan itu menurut saya juga adalah akumulasi atas darah minangnya, yang sejak kecil diajari kuat dalam logika, tangkas dalam berdebat dan pandai dalam membawakan diri dimanapun berada. Serta tentu, pelajaran masa-masa ia menimba ilmu saat kuliah di ITB sebagai salah satu sekolah terbaik di negeri ini. Walaupun saya agak meragukan pemahaman Uwan atas bidang ilmu yang dia geluti di ITB yaitu Kimia Murni, bidang yang justru hampir tidak pernah saya dengar dia bahas dalam diskusi-diskusi kami. Tapi tak bisa saya bantah dan ragukan, bahwa Uwan lebih banyak kuliah di luar kampus dengan berbagai aktifitas seorang aktifis di zamannya. Ia kini adalah legenda.

Kalau ada yang ingin mengenal salah satu “backpacker sejati” sejak tahun delapan puluhan, Uwan lah orangnya. Uwan telah menjelajahi lebih dari 70 (tujuh puluh) Negara dengan bermodalkan hanya sebuah rangsel, dan juga telah menyinggahi hampir setiap jengkal tanah nusantara dari Aceh sampai Papua. Uwan dengan luar biasa bahkan bisa bercerita dengan dialek lokal, seperti saudara kita di Papua, atau Makassar dan memiliki banyak kawan-kawan di sana. Itu mampu membuat kita terpana.

Pertemanan dengan Uwan juga mengharukan. Diantara perjalanan dan masa-masa rehat kami di Indonesian House, London UK sekitar tahun 2009, saat menghadiri diskusi mengenai Verifikasi Legalitas Kayu di Chatam House; atau kala mendaki gunung Kerinci dan kala bertemu masyarakat adat di Penajam Paser Utara Kalimantan Timur maupun kala berhari-hari memfasilitasi masyarakat di Desa-desa Muba di Sumatera Selatan untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, maka keluarlah cerita mengenai pengalaman-pengalaman pribadi mengharukan.

Dari kawin yang terlambat di usia 38 tahun, menjadi aktivis dan petualang jalanan di Jakarta tanpa rumah kos atau kontrakan. Tidur hanya di atas mobil Panther hijau tuanya dan kadangkala di parkiran sebuah hotel, sehingga dikira seorang supir. Teringat, kala menikahi perempuan Boru Harahap – Kakak Irina yang luar biasa dalam mendidik tiga anak mereka Jaka, Rindu dan Kelana. Tentu lainlagi cerita ketika berhadapan dengan Parsadaan Marga Harahap yang sangat kuat, tapi sekaligus menempatkan menantu laki-laki sebagai orang luar yang harus menghamba pada keluarga dari marga istri, lazimnya yang berlaku pada adat batak. Hal yang kadang tidak mudah, apalagi Uwan datang dari Kultur Minang yang sangat kuat dengan matrialinialnya, dimana adat yang berlaku justru sebaliknya.

Atau kala salah satu anak kesayangannya divonis mengidap leukemia sehingga harus dirawat selama berbulan-bulan di RSCM, yang harus ia dampingi dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, dan seringkali pas tidak ada. “Kadang aku menangis Man….anak sakit tapi uang tak ada…”. Katanya. Saking berbulan-bulan harus mendampingi cahaya matanya itu di rumah sakit, sampai-sampai Uwan Zukri punya kunci pagar sendiri untuk keluar masuk ruang rawat inap anaknya.

Kala itu, selain berzikir dan berdoa untuk kesembuhan anaknya, Uwan Zukri membaca berbagai literatur untuk pengobatan anaknya. Oleh karenanya jangan heran kalau pemahaman Uwan Zukri soal leukemia tidak kalah dengan dokter spesialis bidang itu. Atau kala ketiga anaknya terjebak di dalam salah satu gedung yang runtuh saat latihan beladiri Aikido dan secara tiba-tiba Padang dilanda Gempa Besar dengan magnitude 7,6 Skala Richter di tahun 2009 sore silam, dan anak-anak tidak bisa dihubungi karena Kota Padang lumpuh dan komunikasi telepon dan listrik mati, dia harus berjuang untuk mencari dan menyelamatkan anak-anaknya. Di usia yang tidak lagi muda, Uwan survive dalam membesarkan anak-anaknya dan tentu bersama Kakak Irina, dan sampai dengan masa-masa SMA nya Kelana, harus terus pulang-pergi dari Padang tempat kediaman mereka ke kota lain, untuk kemudian mencari sesuap nasi dan biaya sekolah anak di negeri jauh bahkan hingga pelosok kampung, baik untuk melakukan riset atau sebagai fasilitator handal yang sulit mencari duanya. Mengharukan, karena ketiga anak-anaknya kemudian berhasil kuliah di dua universitas terkemuka, ITB dan Universitas Indonesia.

Ide-ide besar Uwan Zukri juga banyak, termasuk salah satunya pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur Sumatera Barat, yang berada persis di tengah-tengah Pulau Sumatera. Ia berpendapat bahwa khususnya supir truk dan bis dari Aceh, Sumut, Jambi dan Riau yang hendak ke Pulau Jawa dan Bali cukup berkendara sampai ke Pelabuhan Teluk Bayur Sumatera Barat. Truk dan bis masuk ke dalam dek kapal, selanjutnya si supir bisa istirahat atau mengaji dan dalam waktu dua hingga tiga malam sampai di Pelabuhan Tanjung Priok atau Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan keadaan segar bugar. Kalkulasinya, langkah tersebut akan menurunkan angka kecelakaan di lintas Sumatera-Jawa, membuat jalan lintas lebih awet karena tidak dilintasi truk-truk besar sebagaimana biasa dan praktek pungutan liar di jalan juga jadi berkurang. Bukankah sebenarnya Uwan tengah bicara Tol Laut dalam konteks Negara maritim? Hanya saya lupa bertanya tentang pendapat Uwan, mengapa justru yang banyak dibangun sekarang adalah tol darat.

Namun begitulah. Ide-ide besar barangkali tidak pernah terealisasi kala politik ekonomi nasional maupun lokal jauh dari pemikiran-pemikiran ideal yang ada, fakta riil akan kondisi rakyat dan hal-hal yang sebenarnya justru sangat dibutuhan, dan pula sangat mudah dicerna akal sehat seorang pemimpin. Pernah saya berdialog singkat dengan Bapak Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat (2005-2009) sebelum beliau dilantik yang juga kenal baik dengan Uwan Zukri, “ Bagaimana dengan ide-ide besar Uwan yang menurut saya sangat baik itu Pak Gubernur?” Jawabnya singkat. “Uwan idenya banyak yang brilian, tetapi sulit untuk dijalankan”.

Kehidupan Uwan sebagai Aktivis lingkungan nasional telah tertoreh dalam sejarah gerakan lingkungan, terutama sejak Uwan berkiprah di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada tahun delapan puluhan, dan terakhir sebagai salah satu Direktur Nasional. Ia dikenang banyak orang. Ia merasa kepala nya lebih besar dari kepala orang-orang pada umumnya sehingga sulit mencari topi yang pas, atau mungkin ingin mengatakan juga ia lebih pintar dari banyak orang. Diskusi berjam-jam tentang gerakan lingkungan, masyarakat adat, bagaimana merubah mindset para pemilik perusahaan sampai dengan berdebat habis dengan politisi di parlemen yang berkali-kali ia lakukan, sangat dinikmati oleh teman-teman aktivisnya. Banyak lembaga swadaya masyarakat di Indonesia, kalau bukan dia pendirinya, maka ia adalah perawatnya, yang turut menjaga dan membesarkan.

Saya ingin menyebut dia seorang professor karena memang dia layak menjadi professor lingkungan dengan berbagai kontribusinya dalam advokasi lingkungan nasional dan lokal. Tetapi saya lebih memilih menyebutnya sebagai sebagai Kyai, Kyai Lingkungan. Sebab “pesantren” lingkungannya jelas banyak, bertebaran dimana-mana dan perhatian dia pada masyarakat rentan terkait dampak kerusakan lingkungan sangat tinggi. Uwan memahami betul “sirah” atau perjalanan advokasi lingkungan di Indonesia, dan ia mengenal tokoh-tokoh besarnya secara dekat. Apalagi pada dua dekade terakhir Uwan Zukri juga sudah lebih rajin berpuasa, berhenti merokok, mentadaburi Alquran dan senang diskusi dan membahas isu “lingkungan” akhirat, disamping sesekali mendengarkan Sundari Sukoco melantunkan lagu keroncong “Mahameru” kesukaannya. Tentu sambil menghirup kopi hangat. Masya Allah. Semoga Uwan selalu sehat bersama Kakak Irina dan anak-anak tercinta di hari-hari yang akan datang.

Jakarta, 17 Agustus 2020

————

Sulaiman N Sembiring, Advokat Senior pada Kantor Hukum Sembiring and Associates, menetap di Jakarta. Alumni Fakultas Hukum Universitas Parahiyangan ini memimpin lembaga riset Institut HUkum Sumberdaya Alam – IHSA 19 … – 20.., menjadi konsultan WWF, USAID, KFW Germany dan