Uwan Zukri Tak Ragu Mengambil Langkah Radikal

Oleh : Ade Robi Cahyadi

Mengenal Uwan (begitu Pak Zukri Saad kerap dipanggil) kali pertama di awal 2010. Uwan tampil dalam forum lokakarya pemberdayaan masyarakat pada perusahaan tempat kami bernaung sebagai tim Community Development dibawah payung program CSR perusahaan sawit yang beroperasi di beberapa propinsi, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Kami kerap mengalami kesulitan mengurai berbagai permasalahan yang dihadapi seputar konflik, antara perusahaan dengan masyarakat sekitar.

Tampil sebagai pembicara, Uwan mengurai bahwa perlu ada kebijakan strategis dari perusahaan agar persoalan-persoalan konflik yang dihadapi dengan masyarakat sekitar dapat diselesaikan tuntas permanen. Resolusi konflik yang permanen akan memberikan jaminan keberlangsungan usaha yang kondusif dan interaksi berkelanjutan. Interaksi yang harus dipelihara dengan mengembangkan sinergi produktif perusahaan dan masyarakat. Baik melalui program CSR yang ditetapkan melalui Undang-Undang, maupun melalui hubungan bisnis sejauh masyarakat sekitar kebun mampu mengelola kontribusi sesuai standar yang ditetapkan. Kemampuan mana terkadang harus diinisiasi dan digenjot melalui program pengembangan kompetensi masyarakat dan pada gilirannya kelak masyarakat mampu memenuhi standar kerja yang menghasilkan kualitas produksi sesuai permintaan konsumen. Standar mana yang bertumbuh terus, karena organisasi sawit nasional dan lembaga standarisasi global terus menerus meningkatkan standar kualitas produk. Dengan kualitas presentasi menarik dan kemampuan komunikasi yang tinggi, Uwan mampu menjelaskan berbagai kerumitan yang dihadapi industri sawit.

Uraian Uwan yang unik mengandung berbagai gagasan-gagasan bernas, lahir dari pengalamannya yang panjang sejak aktif di kegiatan mahasiswa di kampus ITB dulu, hingga sebagai aktifis lingkungan, ditukuk oleh inspirasi yang diperolehnya waktu beberapa tahun sebagai petani dataran tinggi, di kampungnya Sumatera Barat.
Ide-ide dan gagasannya sejalan dengan aspirasi kami di lapangan. Namun melalui Uwan, ide-ide itu dapat dipahami oleh manajemen sehingga mampu diyakinkan dalam membuat kebijakan yang lebih strategis dan tepat untuk penanganan-penanganan kasus yang bersinggungan dengan masyarakat, tentu sekaligus menyusun strategi dan program pemberdayaan yang tepat sasaran. Perlu re-orientasi kebijakan tingkat manajemen puncak untuk kelak memperolah dukungan masyarakat berkelanjutan – social licence to operate.

Bersama Uwan, juga diperkuat senior kami yang tidak kurang jam terbangnya di dunia pemberdayaan dan penanganan konflik, Heironymus Tumimomor, saya dan tim menyaksikan langsung bagaimana kepiawaian Uwan di forum diskusi dapat dibuktikan melalui penanganan permasalahan yang sebelumnya tak kunjung terselesaikan. Kemampuan Uwan dalam bernegosiasi, membaca situasi dan psikologis lawan bicara, mampu dioptimalkan dalam membantu menyelesaikan kasus-kasus konflik antara perusahaan dan masyarakat.

Banyak kasus terselesaikan permanen dengan berbagai gaya negosiasi dan re-negosiasi Uwan, yang kemudian menjadi lebih produktif karena lawan berkonflik berubah permanen menjadi mitra kerja potensial. Mitra kerja yang kelak berfungsi ganda dalam menghalau kemungkinan konflik berikutnya, yang dimotori oleh para pemburu rente beralasan konflik lahan mengatas-namakan masyarakat sekitar. Belakangan, para pemburu rente berani mengatasnamakan diri sebagai masyarakat adat. Menurut Uwan, tanpa kejelasan yang diakui undang-undang nasional dan undang-undang adat yang diakui masyarakat setempat, mayoritas mereka bisa dikategori sebagai “preman adat”. Mestinya tak usah dilayani !!.

Tidak itu saja, budaya literasi Uwan menjadikan ide-idenya dapat disajikan dalam berbagai tulisan dengan menghasilkan berjilid-jilid buku yang dapat dicerna mudah dan mampu menginspirasi pelaku dan aktifis pemberdayaan, sekaligus menyuarakan berbagai permasalahan sosial berikut solusi yang ditawarkan. Singkatnya, Uwan tidak hanya memosisikan sebagai pemberi gagasan, namun juga sekaligus pelaku yang tidak pernah ragu mengambil langkah radikal dan ber-resiko fisik dalam mewujudkan gagasannya.

Sebagai contoh dalam beberapa kesempatan, Uwan dengan berani sendirian mendatangi pihak yang berkonflik dengan perusahaan dan dengan penuh percaya diri untuk membuka jalur komunikasi. Buat Uwan, penyelesaian konflik permanen adalah seni berkomunikasi. Dan tentunya, tidak semua orang bisa mencapai posisi negosiator handal. Butuh waktu untuk berpengalaman dan komitmen kerakyatan yang melatarbelakangi sikap sebagai negosiator pihak perusahaan. Ada ideologi dasar untuk bisa berperilaku seperti yang ditampilkan Uwan. Itulah.

Menuju usia 65 tahun, Uwan memulai perantauan-nya yang ketiga. Selamat kembali menjadi Petani. Semoga Petani kita semakin berjaya dan mandiri, khususnya paska Covid-19. Salam hangat.

Depok, 17 September 2020

————

Aderobi Cahyadi, Alumni jurusan Sosiologi – FISIP UI angkatan 95, menetap di Depok. Pemerhati masalah-masalah sosial, pegiat pemberdayaan masyarakat pada beberapa lembaga social sebagai senior community empowerment specialist. Disamping berwira-usaha, pernah bekerja di perusahaan sawit besar Indonesia, sebagai anggota tim Uwan Zukri. Saat ini bekerja di Departemen Pengembangan Masyarakat dibawah paying CSR salah satu perusahaan pembangkit panas bumi – Geothermal yang berlokasi di Sumatera Utara.

Adikku Zukri | Azmi Saad