Uwan Zukri : The Volcano

Oleh : Mahendra Taher

Uwan Zukri, pertama sekali saya mendengar orang-orang di sekitar saya menyebut nama ini, pada sekitar awal tahu 1991.  Waktu itu saya baru bergabung dengan KOMMA FPUA (Kelompok Mahasiswa  Mencintai Alam – Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Beberapa senior KOMMA terlibat dalam beberapa NGO di Padang.  Dari merekalah nama ini sering saya dengar. Jadi boleh dibilang, beliau ini sangat berbeda dengan tokoh Lord Voldemort dalam serial Harry Potter. Jika Lord Valdermort adalah “Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut”, sedangkan Uwan Zukri adalah “Dia Yang Namanya Selalu Disebut”.  Tapi sampai sekitar tahun 1994, saya hanya sebatas mendengar namanya dan cerita sepak terjangnya saja, sebagai salah satu pentolan aktivis lingkungan bersuara lantang di Indonesia.

Interaksi pertama dengan beliau terjadi ketika saya didapuk teman-teman KOMMA untuk menjadi ketua panitia Pekan Konservasi Alam Nasonal (PKA-N) pada tahun 1994.  Kegiatan ini direncanakan pendanaannya diperoleh melalui WALHI Eknas Jakarta, yang  sedang dikomandani oleh Uwan Zukri waktu itu.  Untuk keperluan ini, akhirnya saya dan beberapa teman bertemu dengan beliau di Kawasan Gunung Pangilun, rumahnya di Padang.  Walaupun level saya hanyalah seorang pencinta alam pemula, beda jauh dengan beliau, tak ayal saya tetap terpesona oleh lontaran-lontaran gagasan dan provokasi beliau tentang dunia kepecinta-alaman dan juga isu lingkungan hidup.   Keterpesonaan saya itu menjadi bertambah ketika  komitmen pendanaan Walhi Nasional untuk PKA-N diperoleh dari hasil diskusi kami tersebut.

Tahun 1996 awal, saya bergabung dengan Warsi – sebuah jaringan NGO berbasis di Sumatera Bagian Selatan. Lembaga ini diinisiasi oleh Uwan Zukri bersama rekan-rekan jaringannya di Sumatra.  Di masa ini, barulah saya makin sering bertemu Uwan Zukri. Pada fase ini saya mulai bisa menyerap topik pembicaraan mantan tokoh aktifis mahasiswa ITB ini. Ibaratnya saya mulai bisa menikmati frekuensi FM dengan suara jernih setelah sebelumnya menangkap topik beliau pada gelombang SW yang tangkapannya gelombangnya hilang timbul.

Saya bisa melihat para penggiat  NGO yang tergabung dalam jaringan Warsi waktu itu menjadikan gagasan-gagasan Uwan Zukri yang visioner sebagai patokan.  Penguasaan isu yang luas di level makro disertai jejaring yang dimiliki membuat lontaran-lontaran gagasan beliau dalam rapat-rapat kepengurusan Warsi selalu menjadi dasar untuk membuat rencana tindak lanjut dan arah  organisasi.  Keterlibatan Warsi sejak awal dalam Integrated Conservation and Development Project (ICDP) di Taman Nasional Kerinci Seblat tidak terlepas dari peran beliau. Proyek ini adalah yang pertama di Indonesia yang mencoba menggabungkan gagasan konservasi di satu sisi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa disisi lain.  Gagasan beliau yang lain adalah ketika Warsi berubah dari Yayasan berbasis jejaring Lembaga, menjadi perkumpulan berbasis keanggotaan perorangan.  Tidak dapat dipungkiri itu adalah gagasan Uwan Zukri, terlepas dari apakah pilihan itu tepat atau tidak.  Toh sampai hari ini Warsi sebagai jaringan NGO yang berubah nama menjadi KKI Warsi masih eksis dengan anggota yang lumayan banyak.

Selama periode aktif di Warsi, saya mengkoordinir sebuah program dengan isu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.  Program ini membutuhkan dukungan pengambil kebijakan, mulai dari level kabupaten sampai pemerintah pusat. Program ini merupakan kegiatan persiapan untuk proyek yang lebih besar. Pada fase tersebut, kami mengharapkan adanya MoU  yang melibatkan para Bupati, Gubernur dan juga Departeman terkait di Jakarta.   Tantangannya menarik, tetapi beberapa stakeholder berada diluar jangkauan kami, seperti para Bupati, Gubernur,  dan juga Menteri Lingkungan Hidup waktu itu serta Departemen Kehutanan.

Oleh karenanya saat itu kami dalam tim memutuskan untuk ‘memanfaatkan’ Uwan Zukri, guna mendapatkan akses kepada beberapa kepala daerah dan Menteri Lingkungan Hidup.   Sekalian untuk mentes “kesaktian” jaringan beliau.    Kami jadikan beliau semacam tenaga lobby untuk menembus inner cycle pejabat kunci tersebut.  Kira-kira fungsinya mirip para pelobi profesional di Washington DC yang bertugas menembus Kongres dan Kementrian.

Saya ingat betul, Bupati Solok waktu itu, Bapak Gamawan Fauzi akhirnya mendukung gagasan kami berkat lobby Uwan Zukri.  Juga Walikota Sawah Lunto dan Bupati Sawahlunto Sijunjung. Puncaknya adalah kesediaan Menteri Negara Lingkungan Hidup waktu itu, Bapak Nabiel Makarim untuk ikut menandatangani MoU lengkap, yang juga melibatkan Menteri Kehutanan, Gubernur Sumatera Barat dan Gubernur Jambi serta Bupati yang wilayahnya masuk agenda program.

Selepas aktif di Warsi tahun 2009, saya dan beberapa teman mendirikan perkumpulan Pundi Sumatera.   Dengan sendirinya saya mulai kurang berinteraksi dengan Uwan Zukri. Tetapi pada akhir tahun itu juga saya diterima menjadi mahasiswa program master dalam bidang INRM melalui dukungan beasiswa dari Ford Foundation di Universitas Andalas.  Sejak hari pertama perkuliahan, saya memutuskan untuk tidak mencari tepat kost, tetapi memilih menumpang di rumah kayu yang berdiri dalam pekarangan rumah mertua Uwan Zukri di Padang.  Saya menjadi penghuni gelap tetap disitu, melanjutkan reputasi saya semasa S1 dulu, yang juga menjadi penghuni gelap tetap di asrama mahasiswa.

Semasa menumpang di rumah kayu ini kami jadi sering bertemu lagi.  Pada masa itu juga, terjadi bencana gempa besar di Padang, dimana ketiga anak Uwan Zukri menjadi korban gempa.  Yang membuat saya angkat tangan, ditengah kondisi sebagai korban, beliau masih menyempatkan diri mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan dari berbagai elemen masyarakat, terutama alumni ITB untuk korban gempa.  Rumah kayu tersebut dijadikan posko.  Saya sekali-sekali ikut dalam aktifitas ini, sehingga makin banyak saya menyerap gagasan-gagasannya yang bak mata air, tidak pernah kering.

Pasca bencana gempa besar, seingat saya Uwan Zukri  pernah mengungkapkan keinginan menjadi Gubernur. Beliau mengusung sebuah gagasan yang disebut ‘selendang marapi’.  Pada beberapa kesempatan saya juga bertemu di rumah kayu tersebut dengan beberapa petani petambak dari Danau Maninjau yang hendak bertemu dengan Uwan Zukri.  Sambil menunggu Uwan, saya iseng bertanya maksud mereka bertamu. Salah seorang menyampaikan bahwa gagasan Uwan Zukri untuk membangun Kawasan Danau Maninjau dengan basis petani petambak sangat bagus.  Mereka ingin gagasan itu terlaksana dan mereka yakin jika orang seperti Uwan Zukri menjadi pemimpin di Sumatera Barat, maka 70 % masalah bisa selesai.

Namun terhadap hal itu, saya tidak pernah memberi komentar, baik kepada Uwan Zukri sediri maupun kepada petani petambak yang datang bertamu tersebut.  Dalam hati saya mengatakan bahwa jika kondisi ideal, maka semua yang direncanakan Uwan Zukri dan mimpi  petani tersebut bias direalisir.  Namun kita semua tahu bahwa arah condong Matahari telah berubah.  Dunia perpolitikan telah berubah jauh dimana para pemikir, aktivis, para idealis, nyaris tidak mendapat tempat lagi.  Ujungnya kita tahu, Uwan Zukri akhirnya tidak pernah betul-betul mencalonkan diri menjadi Gubernur.  Bagi saya pribadi, itu lebih baik.

Selepas gempa besar Padang, untuk waktu yang cukup lama, saya tidak pernah berjumpa Uwan Zukri.  Ruang interaksi saya dengan beliau memang nyaris tidak ada lagi.  Sesekali sempat berpapasan di berbagai Bandara, tapi seringkali dalam keadaan salah satu dari kami tergesa-gesa. Sampai suatu pagi dipenghujung bulan Oktober 2018, di lounge Garuda Indonesia – Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.  Saya baru dari perjalanan lapangan ke daerah Pasir Pangaraian dan berencana pulang ke kota Jambi via bandara Soetta.  Saya segera mencari bangku kosong di pojok karena itu sudah menjadi kebiasaan.  Rasanya  lebih nyaman menyantap sarapan kecil yang tersedia sambil  melihat orang lalu lalang masuk dan keluar lounge.   Selagi saya mengunyah jagung rebus panas, sebuah suara yang  familiar terdengar menyapa : “Dari mana Lu Her ?”

Refleks saya menoleh ke asal suara itu dan menemukan wajah Uwan Zukri sedang menatap saya dengan senyum. Beliau bersama seorang rekan yang juga saya kenal.  Ya ampun, padahal tadi saya melihat sosok ini tapi tidak mengelainya.  Posturnya jauh berubah, lebih kurus.

Sepertinya Uwan bisa membaca tanda tanya dalam kepala saya, beliau langsung menjelaskan : “Gue  diet Keto Her, makanya bisa begini” jelasnya. “Apalagi itu Uwan ?” tanya saya tersenyum. Seingat saya beliau dulu juga pernah berpromosi mengenai diet berbasis golongan darah. Lalu kemudian meluncurlah penjelasan panjang lebar mengenai diet yang  nampaknya cukup berhasil. Saya mencoba mendengar lebih seksama. Siapa tahu suatu saat relevan untuk saya.  Tapi untuk saat ini, perkara diet belum menjadi prioritas saya karena apapun yang saya makan, bobot saya selalu berada pada kisaran 59 – 61 kg.  Jadi saya mendengarkan dengan seksama hanya untuk pengetahuan saja.

Puas menjelaskan soal diet Keto dan bertanya urusan saya ke Pasir Pangaraian, secara tiba-tiba Uwan Zukri beralih ke topik lain.  “Bagaimana rekan-rekan di Pundi sekarang, apa program yang sedang dikerjakan ?” Saya baru hendak menjelaskan ketika beliau melanjutkan, langsung ke inti.  “Bagaimana persiapan rekan-rekan itu menuju masa tua..? kan tidak mungkin mengandalkan gaji dari lembaga yang masih bergantung dari donor. “Tolong Lu  pikirkan, terutama teman-teman yang mulai mendektai usia 50-an”. “Iya Uwan” jawab saya singkat.  Beliau masih melanjutkan beberapa kalimat lagi.

Beberapa kali Uwan mengambil contoh pada berbagai fase transisi hidup yang dilaluinya. Inti yang saya tangkap, betapa Uwan memberi perhatian sangat besar terhadap masalah masa tua para aktivis NGO.   Juga terlontar beberapa ide beliau untuk menjawab masalah ini.  Saya tidak banyak menjawab, lebih memilih untuk banyak mendengar.  Lagipula lontaran-lontaran beliau dan juga gagasan-gagasan yang dikemukakan terkait topik tersebut jelas-jelas tidak untuk dijawab saat itu.  Sangat jelas itu adalah sebuah pesan dari seorang senior, seorang cruiser yang telah lebih dahulu menerobos goa gelap dan tahu apa yang akan ditemui di ujung nanti.  Kami akhirnya terpaksa menyudahi obrolan ketika panggilan boarding bergema.

Beberapa saat setelah pesawat take off, kesibukan mengikuti prosedur keselamatan telah selesai dilakukan, saya mengingat-ingat lagi sosok Uwan Zukri ini.  Sungguh sosok yang luar biasa. Selalu rendah hati, penuh semangat, dan ide-ide yang tidak pernah habis. Beliau seperti gunung api aktif yang magmanya selalu bergelora.  Kini, diusianya yang akan memasuki fase “Lansia Muda” di penghujung tahun 2020 ini, saya senang sekali melihat beliau tetap sehat dan yang penting, setiap bertemu selalu penuh perhatian.  Lebih penting lagi, si gunung api dalam dirinya masih setia menyemburkan ide, semangat dan aura positif bagi siapapun. Sehat selalu Uwan Zukri.

Jambi, 31 Agustus 2020

————

Ir. Mahendra Taher MS., Alumni Fakultas Pertanian Unand S1 dan S2, kini menetap di Jambi. Mengikuti panggilan jiwanya, hampir 20 tahun Taher menggeluti isu-isu konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi kecil melalui berbagai NGO seperti KKI Warsi, Pundi Sumatra, dan Yayasan Kehati. Beberapa penghargaan diantaranya : Man and Biosphere Award dari UNESCO dan LIPI (2003), Social Leadership Programm di SEARSOLIN Philipina (2007), dan International Visitor Leadership Program (IVLP) di US pada tahun 2012. Saat ini, selain masih aktif dalam kerja-kerja social sebagai Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Pundi Sumatera, Taher lebih banyak menghabiskan waktu sebagai peternak dan merangkap sebagai Chief Finance and Operation Officer pada PT. BEMBA, sebuah perusahaan yang didirikannya bersama beberapa rekan tahun 2014 lalu yang berfokus pada ketahanan dan keamanan pangan rakyat.

Adikku Zukri | Azmi Saad