Uwan Zukri yang Ku Kenal

Oleh : Amelia Naim Indrajaya

Sebagai mahasiswa baru di Institut Teknologi Bandung di tahun 1983 dahulu, kami selalu mencari-cari figur yang dapat dijadikan panutan, terutama dari organisasi primordial tempat kami merapat dan menemukan dukungan yang hangat. Nah, dari organisasi primordial Banuhampu di Bandung inilah saya menemukan salah satu tokoh yaitu Uwan Zukri. Meskipun Banuhampu adalah kampung halaman ayahanda saya Mochtar Naim, namun kehangatan budaya Bodi Chaniago yang bersifat demokratis dan egaliter dibanding budaya feodal Koto Piliang di kampung ibunda saya Batipuh, telah membuat saya menjadi dekat kepada Banuhampu.

Sebagai seorang mahasiswa baru di saat itu, saya segera saja tertarik melihat sosok Uwan yang serba bisa ini. Uwan punya kekhasan dan kharisma dengan pendekatannya yang asertif. Bagi yang belum terbiasa mungkin akan terkaget-kaget dengan tampang nya di masa mahasiswa dulu, yang cenderung sangar dan suaranya yang berat dan lantang, Namun bagi kami ini jadi jaminan keamanan. Kalau menjadi “adik-adik” sakampuang dari Uwan Zukri, tentunya tidak akan ada yang berani mengusili.

Di masa itu mahasiswa diupayakan menjadi sangat sibuk agar tidak lagi mempunyai waktu untuk mengurusi urusan politik negeri. Mahasiswa dihujani dengan beban kredit dan tugas yang bejibun banyaknya sehingga tenggelam dalam urusan perkuliahan. Sebegitu takutnya para pejabat, akan potensi dari mahasiswa yang penuh dengan idealisme dan siap mendobrak kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianggap tidak ideal.

Namun saya menyaksikan bahwa segelintir aktivis tidak dapat dikekang dan tetap aktif untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur yang mereka usung. Tentulah Uwan Zukri termasuk salah seorang diantaranya. Oleh sebab itu predikat aktivis melekat pada dirinya, meski dapat mengakibatkan waktu perkuliahan menjadi lebih panjang. Ini membuat saya semakin kagum dan mengikuti terus sepak terjang perjuangan Uwan Zukri sang aktivis kampus.

Sayang, selanjutnya saya sebagai mahasiswi, segera saja sudah lanjut dengan kiprah yang lebih penting lagi yaitu membangun keluarga. Bahkan sebelum menjadi insinyur teknik industri saya telah dipersunting oleh Indrajaya Putra Januar yang tadinya bersama di Tingkat Pertama Bersama (TPB) ITB. Namun karena beliau transfer sekolah ke Michigan USA, beliau sudah mendapatkan Master Degreenya dari sana, bahkan sebelum saya mendapatkan gelar insinyur. Beliau kemudian memboyong saya ke Amerika. Saya juga mengejar pendidikan strata dua saya di sana, alhamdulillah berhasil sambil melahirkan dua anak laki-laki perkasa di Boulder – Colorado. Ini semua telah menghilangkan kesempatan saya untuk terus mengikuti sepak terjang Uwan Zukri yang dulu menjadi tokoh panutan saya.

Namun dari jarak jauh saya juga terus mengikuti berita-berita dari kampung halaman. Dan dari yang saya baca, saya mengetahui bahwa ternyata pendekatan asertif Uwan Zukri ternyata tidak lapuk diterjang hujan dan tak lekang dimakan masa, terus berlanjut seperti sediakala.

Di saat para tamatan insinyur ITB menghilangkan segala idealismenya demi mengejar jabatan baik di perusahaan lokal maupun multinasional, maka ternyata sang Uwan dengan pendekatan asertifnya tetap mengejar idealismenya. Dan idealisme ini sejalan dengan tekad para founding fathers kita, para soko guru pendidikan di Indonesia. Dari jauh terdengar Uwan Zukri bakureh untuk mambangkik batang tarandam di Kayu Tanam.

Angku Syafei melalui INS Kayutanam adalah salah satu soko guru yang menjadi bukti betapa arifnya para pakar pendidikan pendahulu kita. Sistem pendidikan mereka amat membumi dan relevan serta mampu memecahkan masalah-masalah secara pragmatis dan tuntas. Sebelum para pendidikan Barat menemukan pentingnya multipel intelejensia, maka para soko guru nasional kita telah lebih dahulu menerapkannya. Pendidikan seyogyanya harus bersifat holistic, disamping membentuk kecerdasan intelijensi agar mampu menjadi cerdik cendekia, tetapi juga membentuk kecakapan emosional hingga mampu pula menjadi ninrus ik mamak yang peduli serta berempati terhadap permasalahan kampung halaman.

Proses pendidikan juga selalu diperkaya dengan sisi spiritual, sehingga temuan-temuan baik di sisi fisika, kimia, matematika maupun bidang ilmu lainnya selalu dilihat sebagai berkah dan karunia dari-Nya yang harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat. Bayangkan betapa digdayanya pendidikan yang dicanangkan oleh pendahulu kita, siap menghasilkan lulusan yang segala bisa, baik sebagai cerdik cendekia, niniak mamak, maupun alim ulama di ketiga tungku sajarangan yang menjadi pilar kelancaran hidup bermasyarakat.

Pendidikan saat ini seperti kehilangan marwah dari konsep tarbiyah yang digunakan para soko guru di Sumatera Barat masa lalu, yang mengusung “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dahulu pendidikan disebut Tarbiyah yang berakar dari kata Rabb. Sehingga konsep Tarbiyah seyogyanya adalah upaya membuka hijab kalbu agar anak didik mengenal Rabb. Pendidikan ditujukan untuk memahami Rahasia Ilahiyah Sang Rabb dan Sang Maha, melalui berbagai bidang ilmu-Nya.

Tentu saja dalam konsep Tarbiyah ini tidak dikenal adanya dualisme ilmu, ilmu umum dan ilmu agama, karena semua ilmu haruslah memiliki roh ilahiyah agar bermanfaat dan memiliki daya dobrak. Pendidikan bukanlah sekedar “to inform” melainkan “to transform” agar para siswa menemukan pancaran Ilahiyah dari berbagai ilmu untuk suatu tujuan luhur kemanusiaan. Pendidikan menjadikan ilmu itu sebagai alat untuk mencapai kondisi Rahmatan lil Alamin, Rahmat bagi seru sekalian alam. Pendidikan yang mengacu pada konsep Tarbiyah adalah pendidikan secara kaffah, dan inilah sejatinya pendidikan aseli Minangkabau yang dahulunya dikembangkan oleh Engku Syafei, yang batang tarandamnya kembali digali oleh Uwan Zukri kita yang berani tampil beda.

Sebelum para petinggi dunia dari Perserikatan Bangsa Bangsa tergopoh-gopoh menampangkan pentingnya Sistem Pembangunan yang Berkelanjutan atau bahasa kerennya Sustainable Development Goals, sejatinya sistem pendidikan surau dan INS Kayutanam telah menerapkan konsep pendidikan yang berkemanusiaan dan ramah lingkungan. Bahkan dengan predikat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, otomatis pendidikan sejalan dengan tugas menjadi rahmatan lil alamin. Bukan hanya untuk diri dan kelompok, tetapi juga untuk komunitas, masyarakat, lingkungan bahkan merahmati alam semesta.

Menariknya di Amerika sendiri, timbul pula gerakan The Tarbiyah project yang diusung oleh seorang bule Amerika yang menjadi Muslim di tahun 1972 dan berubah nama menjadi Dawud Tauhidi (https://tarbiyahinstitute.files.wordpress.com/2018/05/tarbiyah-overview.pdf). Sebelum berpulang di tahun 2010 beliau dikenal sebagai penggagas konsep Tarbiyah Project dan mengusung konsep pendidikan yang terintegrasi secara Islami.

Gambar :

Terlihat di sini, betapa Engku Syafei dan para soko guru Minangkabau telah terlebih dahulu menerapkan konsep Tarbiyah dalam pendidikan di Minangkabau. Dawud sendiri menurut pengakuannya, sangatlah mengagumi konsep pendidikan Islam yang holistik dan terintegrasi, serta mengakui tak ada sistem pendidikan di dunia ini yang selengkap konsep Tarbiyah yang diterapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Sayang sekali pendidikan di Indonesia cenderung malah hanya menekankan hafalan serta menelan bulat-bulat konsep pendidikan Barat yang sekuler. Pendidikan telah kehilangan roh nya, menjadi kering kerontang dan menghasilkan lulusan yang hanya mengejar kemapanan serta kekayaan dengan mengorbankan kemanusiaan serta keberlanjutan alam. Hal inilah yang ingin diperjuangkan oleh Uwan Zukri lebih lanjut melalui bukunya yang mendukung konsep pembangunan yang berkelanjutan. Tentu saja yang diperjuangkan ini sesuai dengan konsep pendidikan Minang yang lekat dengan ilmu bersendi Kitabullah.
Sayangnya lagi, orang-orang yang berani berbeda seperti Uwan Zukri jumlahnya tak banyak. Bayangkan bila semua masyarakat Indonesia dan Minang pada khususnya turut mendukung konsep pendidikan ala Tarbiyah yang kaffah ini. Tentunya tak akan terjadi dekadensi moral seperti yang terlihat saat ini di negeri tercinta, juga tak akan terjadi eksploitasi besar-besaran atas nama pembangunan yang menghalalkan segala cara.

Kami, para adik—adik Uwan ini secara sungguh-sungguh berdoa agar Uwan Zukri dan para aktivis Minangkabau lainnya dapat memperjuangkan agar kita kembali kepada kearifan para pendahulu kita yang telah mencontohkan bahwa memang tidak mungkin kita dapat memisahkan pendidikan dari rohnya. Oleh sebab itu kini saatnya untuk kembali kepada marwah Tarbiyah. Tidak perlu memilah-milah ilmu umum dan ilmu spiritual. Marilah kembali kepada hakikat sejati pendidikan bersendi Kitabullah.

Bila seorang bule Amerika saja mampu mendobrak dengan Tarbiyah Project nya di negara adidaya sekuler Amerika, dan mengatakan inilah konsep pendidikan universal yang mampu menjawab tantangan zaman dan berada di atas semua perbedaan, mengapa pendidikan Tarbiyah Minangkabau seperti yang dikembangkan Engku Syafei melalui INS Kayutanam dan diperjuangkan oleh Uwan Zukri tidak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri?

————

Dr. Ir. Amelia Naim Indrajaya, MBA
Head of Center for Sustainability Mindset and Social Responsibility (CSMSR)
IPMI International Business School, Jakarta – Indonesia.

Adikku Zukri | Azmi Saad