Wan Zukri Sang Pencerah

Oleh : Djoni

Itulah gambaran singkat yang bisa saya katakan, ketika menyebut nama Zukri Saad yang biasa kami panggil Uwan. Wan Zukri Saad dalam pandangan saya adalah sosok yang selalu memberikan pencerahan dalam setiap aktifitasnya, baik aktifitas dalam bentuk pandangan pembangunan yang sering ia tulis dan sampaikan ketika berkomunikasi dan berdiskusi dengan beragam kalangan, maupun dalam setiap aktifitas implementasi kegiatan pembangunan di lapangan.

Pengalaman saya bergaul dengan Uwan Zukri Saad lebih dari seperempat abad, saya melihat Uwan termasuk orang yang sangat supel bergaul dengan adaptasi yang tinggi. Ia bisa bergaul akrab dengan petani atau orang biasa di pelosok desa dan tempat, namun dalam kesempatan lain ia bisa berdialog memberikan masukan kepada kalangan pejabat dan pemegang kebijakan strategis di republik ini.

Dalam interaksinya dengan berbagai kalangan itu, saya melihat kemampuan Uwan memberikan pencerahan terhadap semua lapisan orang. Kemampuan ini jarang dimiliki orang lain. Kemampuan yang saya lihat didorong karena selalu berpikir bertindak untuk kepentingan orang lain. Hal ini terlihat ketika Uwan mengelola perumahan, Taruko Andesa Putra di Padang. Ketika ia mengelola perumahan itu banyak orang yang terbantu mendapatkan rumah, baik teman -teman sendiri , maupun orang yang tidak ia kenal, Sementara ia sendiri tidak memiliki rumah di tempat itu.

Contoh lain adalah ketika kami mengembangkan Bibit Kentang Di Alahan Panjang sekitar tahun 97-an. Ketika itu ada 9 jenis bibit kentang yang kami kembangkan yakni Azimba, Ritek, Batang Hitam, Kentang Merah, Cipanas, Median, Maglia, Desire, dan Antlantik. Tujuan kami dalam mengembangkan bibit kentang ini adalah untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani kentang di Sumatera Barat. Kami meiihat, salah satu persoalan yang dihadapi petani kentang di propinsi ini adalah sulitnya petani mendapatkan bibit kentang yang berkualitas.

Karena ini itu kami bertekad mengembangkan bibit kentang berkualitas agar persoalan petani dapat teratasi. Kebetulan kami melihat, Kawasan Alahan Panjang, di Kabupaten Solok itu sangat tepat dan cocok untuk pengembangan bibit kentang. Dan semua itu kami biayai dengan uang prbadi kami masing-masing, melalui CV Limas Bersaudara yang sengaja dan resmi kami dirikan.

Namun disini lah saya betul-betul melihat Uwan begitu peduli dengan orang lain. Itu tampak karena baru saja kami memulai pekerjaan, Uwan sudah berpikir beberapa sharing harus diibagikan pada masyarakat, bahkan sampai zakat dari hasil pengelolaan bibit kentang itu sudah dia hitung untuk didistribusikan pada mereka yang berhak. Itu contoh kepedulian terhadap masyarakat. Ia tidak pernah berpikir untuk diri sendiri. Tidak mendahulukan kepentingan pribadai, tapi selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Selain dalam bertindak yang lebih mementingkan dan mencerahkan orang lain, saya melihat pikiran-pikiran Uwan tentang pembangunan selalu mengarah pada pembangunan berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berbasis masyarakat . Ini yang selalu menjadi kerangka pikiran Uwan. Dan itu sangat cocok dan ter-connect dengan cara berpikir saya. Saya sendiri pun telah bergerak dengan konsep yang sama sejak tahun 1984.

Tak heran, ketika saya jadi kepala Balai Proteksi Perlindungan Tanaman dan Hortikultura (BPTPH) Wilayah Sumbar Riau Jambi selama 11 tahun, saya mendapat support atau dukungan yang besar. Boleh disebut Uwan menjadi ekspektir atau tenaga ahli gratis dalam perlindungan tanaman. Dengan bantuan pikiran Uwan, dalam pengelolaan Program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di Indonesia, BPTPH Sumbar Riau, Jambi tergolong yang paling sukses dalam menjalankan program PHT sehingga memperoleh penghargaan dari Ketua Bappenas ketika itu, Ginanjar Kartasasmita.

Demikian juga ketika saya menjadi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumatera Barat selama 10 tahun. Uwan sangat membantu dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berbasis masyarakat. Dalam mengembangkan kerangka berpikir itu , kami terus berkomunikasi menyusun kebijakan pembangunan pertanian tanaman pangan Sumatera Barat sampai saya pensiun sampai tahun 2015.

Yang khas Uwan lagi dan tidak banyak dimiliki orang lain adalah dia punya kemampuan merumuskan berbagai ide yang didapatnya dalam berinteraksi dengan banyak orang dan mengunjungi berbagai tempat, baik didalam maupun dari dunia luar Negeri. Ide-ide itu kemudian dia ramu dan kembangkan sehingga menjadi konsep khas Uwan yang menarik dan mencerahkan banyak lapisan orang. Dan kemampuan ini jarang dimiliki orang, bahkan tidak saya temui pada banyak orang.

Khusus dalam percepatan pengembangan produk organik dari Sumatera Barat, hambatan umum petani adalah untuk memperoleh sertifikasi organik. Bila menggunakan auditor organik profesional, biaya mendatangkan dan honornya pasti mahal sekali. Uwan punya strategi, kirim saja staf dengan kualifikasi memenuhi kriteria untuk ikut pelatihan auditor organik ke Thailand. Jadilah, 2 staf handal menjadi auditor dan kami mendirikan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Uwan kami jadikan sebagai salah seorang Dewan Pembina, bersama saya dan Prof. Rasyidin dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas. LSO sudah mendapat sertifikasi resmi dari Badan Akreditasi Organik dari Kementrian Pertanian.

Spektrum pergaulan Uwan yang luas, membuat Uwan menjadi orang mampu menelaah berbagai program pembangunan dan kemudian ia padukan dengan pengalamannya sendiri dan menjadi satu konsep yang baru khas Uwan. Dan itu terus dilakukan Uwan dalam setiap kesempatan bertemu dengan berbagai kalangan sampai sekarang.

Oleh karena itu, memasuki umur 65 tahun atau yang disebut Uwan dengan masa “Lansia Muda”, sudah saat Uwan berpikir dan bertindak lebih baanyak untuk kepentingan dirinya. Bukan berarti Uwan menghentikan berpikir untuk orang lain. Namun mungkin porsinya yang dikurangi dengan lebih banyak berbuat untuk dirinya sendiri. Bukan berarti harus “Egois”, Tapi Uwan sudah saatnya berbuat untuk dirinya baik di bidang ekonomi, sosial, maupun keagamaan. Ini yang harus dilakukan ketika memasuki Usia Lansia Muda.

Padang 31 Agustus 2020

————

Ir. H. Djoni, Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas, menetap di Padang. Berkarir sejak tahun 1982 di Departemen Pertanian RI, Pernah menjabat sebagai Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan Sumbar – Riau – Jambi selama 10 tahun. Karir selanjutnya adalah Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, juga sekitar 10 tahun. Sejak 2016 menjalani masa pensiun dengan aktif menjadi Pekerja Sosial Masyarakat.

Adikku Zukri | Azmi Saad