ZUKRI SAAD Ahli Waris Indonesia

Oleh : Eka Budianta

Indonesia adalah ibu yang memberi saya lebih dari 270 juta saudara. Satu di antara mereka adalah Zukri Saad. Ia penting karena bukan hanya saudara, tapi juga sahabat dan ahliwaris terbaik negeri ini. Zukri tahu apa yang harus dilakukan. Itulah yang membuatku tenang dan bahagia. Ia pandai menyukuri hidup dan tanah airnya. Kalau saya mati, kita wariskan negeri ini padanya.

Pertama kali bertemu dalam diskusi di Wisma PKBI, Jalan Hang Jebat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Waktu itu akhir 1986, kami sama-sama dicalonkan menjadi Fellow Ashoka. Menurut berbagai keterangan. Zukri lahir 5 November 1956, sedangkan aku 1 Februari 1956. Jadi saya merasa 9 bulan lebih tua, berhak mati lebih dulu. Waktu itu umur kami 30 tahun. Sekarang tahun 2020. Tiba-tiba Zukri telpon, “Tahun ini aku berumur 65,” katanya.

“Mana bisa!?” bentak saya. “Aku baru 64 dan kamu lebih muda 9 bulan. Kalau mau 65, tunggu tahun depan,” saya berusaha menasihati. Ternyata dia tidak menurut. Katanya dia lahir November 1955. Selama ini ia menggunakan data palsu. Entah dari mana. Jadi, alih-alih berperan sebagai kakak, ia lebih suka menjadi adik bagi saya. Minimal merasa sebagai saudara kembar.

Saya teringat pertemuan di Wisma Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dulu. Zukri bercerita tentang mimpinya menghijaukan kota-kota yang gersang di Pulau Sumatera. Bagaimana caranya? “Aku mengajak anak-anak sekolah mengumpulkan biji mahoni yang diterbangkan angin,” katanya. Saya mendengarkan saja.

Pohon mahoni – Switenia mahagony tinggi dan rindang. Batangnya kukuh. Biji buahnya jatuh bagai kitiran diterbangkan angin. Kalau kita kumpulkan, mudah sekali tumbuh di persemaian. Biji itu adalah benih gratis dari alam. Bila sudah menjadi bibit, pohon mahoni setinggi satu meter bisa dijual ribuan rupiah.

Suatu Sore di Taman Hutan Raya Bung Hatta. Desember 1990, saya mengambil cuti pulang ke Tanah Air. Sejak 1988, saya bekerja untuk Radio BBC di London – Inggris. Selama di sana, beberapa kali saya menulis surat untuk Zukri dan berjanji menengoknya ke Padang. Zukri menjemput di bandara, dan kami langsung berangkat ke Bukittinggi. Esoknya dia mengajak kami berenang di Danau Singkarak. “Supaya kita bisa merasakan bagaimana dulu Tan Malaka berenang, membawa buku dan pakaiannya ke sekolah,” katanya.

Kami menginap di rumah pengusaha terkenal, Hasyim Ning, tidak jauh dari Ngarai Sianok. Tentu, Zukri mengenalkan aku dengan banyak temannya di Ranah Minang. Di antaranya adalah keluarga penulis A.A. Navis, dan tamasya ke Istana Pagaruyung. Suatu sore, kami juga mengunjungi Taman Hutan Raya Bung Hatta. Di jalan, kami berjumpa seorang anak menangkap sepasang burung kutilang. Tentu saya turun dari mobil, membeli burung itu untuk dilepaskan merdeka.

Kami membawa burung itu ke hutan. Dan melepaskannya di sana. Tapi burung yang jantan mematok tangan saya. “Wah! Burung itu ingin berterima kasih,” kata Zukri kepada saya. “Iya Burung itu belum tahu bahwa ia mematok tangan seorang penyair terkenal”, lanjutnya.

Kedua burung itu terbang dengan gembira. Mereka pasti senang untuk kemudian ketemu kembali dengan keluarganya ditengah hutan. Kami juga senang, dari Padang kami lalu terbang ke Medan. Di sana bertemu Soekirman sebelum ke Danau Toba. Berkat terpilih sebagai Fellow Ashoka di tahun 1986, kami terhubung dengan sekitar 20-an orang yang minatnya sama. Di Medan juga ada Dr. Sofyan Tan. Di Pematang Siantar ada Ned Purba dan istrinya, Johana. Kami menginap di rumahnya.

Sebelum sampai di rumahnya, saya membeli bibit pohon cemara untuk oleh-oleh. Suka tidak suka, Ned harus menanam pohon itu di halaman rumahnya. Itulah tanda persahabatan kami. Untuk Soekirman, saya bawakan pohon kepel dari Jakarta. Sedangkan ketika anaknya menikah, saya serahkan bibit kelapa dan pohon cempaka di pelaminan. Para tamu bertepuk tangan.

Zukri selalu mendukung kalau ada kegiatan tanam pohon, melepas ikan di sungai dan burung di udara. Di Medan, kami juga menanam sepasang pohon bisbul untuk halaman sekolah Sultan Iskandar Muda, yang didirikan oleh Dr. Sofyan Tan. Sekolah itu didirikan untuk membangun kerukunan berbagai etnis anak bangsa.

Rumah tradisional Meranjat. Suatu sore di tahun 1995, Zukri datang menjemput saya dengan sebuah mobil Kijang pinjaman. “Kita tengok warga desa di Ogan Komering Ulu,” katanya. Dari Jakarta kami pergi ke Merak, dan naik feri ke Bakauheni, Lampung. Keesokan harinya kami langsung bergerak ke Palembang. Zukri tahu jalan-jalan mana yang aman di Pulau Sumatera.

Kalau melewati perkebunan, saya ganti stir mobil. Dia beristirahat – tidur kalau bisa. Melewati jalan-jalan di perkebunan harus waspada. Jalannya lurus-lurus, tapi bisa belok tiba-tiba. Banyak tikungan tegak lurus 90 derajat. Maklum semuanya ditarik seperti garis lurus, sekaligus membentuk petak-petak perkebunan itu.

Pada sore hari kedua, kami sampai di desa Meranjat, Ogan Komering Ulu. Kami mampir ke rumah warga yang paling bagus arsitekturnya. Semua bangunan dari kayu. Dan saya mulai memuji-muji bangunan yang ada di situ. “Oh, silakan bawa saja rumah saya ke Jakarta,” kata seorang pria. Kabarnya dia masih pengantin baru, dan itu rumahnya yang pertama. “Lalu anda tinggal di mana?” tanya saya.
“Oh, saya bisa menumpang di rumah mertua,” jawabnya.

Zukri langsung menawar rumah itu. Untuk pertama dan terakhir kali (mungkin) saya mendapat rumah baru dengan begitu mudahnya. Zukri menasihatkan agar teman-teman di desa itu menyewa truk yang banyak diparkir di tepi Sungai Musi.

Saya dan Zukri pulang, menyerahkan urusannya kepada Pak Naman, asisten yang menemani kami dari Depok. Di sana ada sebidang kebun, cukup untuk mendirikan sebuah rumah panggung. Dindingnya dari kayu meranjat, tiang-tiangnya dari pohon tembesu.

Tidak sampai 10 hari kemudian, rumah desa yang bagus itu sudah berdiri di antara pohon buah-buahan kami di Tanah Baru, Pancoran Mas – Depok. Zukri yang mengatur bagaimana memindahkan dan membangun kembali, dari Propinsi Sumatera Selatan ke Jawa Barat. Atapnya yang semula dari rumbia, diganti genting jatiwangi, supaya lebih awet dan kuat.

Itulah rumah rakyat tradisional, yang bisa kami lestarikan. Bisa untuk menginap dan beberapa kali dijadikan tempat berlatih menulis, oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Pesertanya para buruh pabrik dari Tangerang yang bercita-cita menjadi pengarang. Zukri dan Soekirman juga pernah menginap, sambil menikmati sahur dan tiduran, menikmati puasa di siang hari.

Zukri Sobat Semua Orang. Setelah Reformasi 1998, saya jarang bertemu Zukri. Kabarnya dia pernah ingin mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Barat, ikut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tetapi mengurungkan diri. Malah Soekirman yang berhasil menjadi Bupati, memimpin kabupaten baru, Serdang Bedagai di Sumatera Utara, sampai dua periode. Dialah yang paling sering muncul dalam berita di televisi, terutama karena berhasil membuka 200 hektar sawah baru.

Dengan Zukri, saya sering rapat bulanan, antara 1994 hingga awal 1998. Dia mewakili Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, saya mengurus Dana Mitra Lingkungan, salah satu lembaga dana yang mendukung kegiatannya. Zukri ikut mengadakan pendidikan konservasi di berbagai daerah. Seorang sahabat dekat – Fellow Ashoka juga, yang sangat aktif adalah Suryo Prawiro Atmodjo. Dia ahli burung maleo, pendiri sekolah lingkungan di Trawas – Jawa Timur dan di Takalar – di Sulawesi Selatan.

Tentu, Suryo, Zukri dan Soekirman juga pernah menginap di rumah tradisional itu. Kami bicara seperti lazimnya pemilik sah negeri dan pencinta sejati bangsa ini. Ketika berjalan ke Takalar, ada nelayan menangkap penyu besar sekali. “Penyu itu terjerat masuk jaring ikan kami,” katanya. Nah! Sekali lagi giliran saya, membeli penyu itu untuk bisa dibebaskan ke laut.

Sungguh kesempatan istimewa ketika kami berkumpul sebagai Fellow Ashoka. Saya bersyukur menjadi sobat Zukri Saad. “Definisi sahabat adalah orang yang bisa berjalan bersama, berbicara akrab, dan paling sedikit pernah makan siang empat kali berturut-turut,” katanya. Jadi, sebetulnya kita bisa menjadi sahabat semua orang, begitu ajaran Zukri Saad mengutip perkataan seorang nabi.

Saya setuju “definisi yang sakral” itu, tetapi sebetulnya perlu ditambahkan rasa kagum yang tersembunyi. Ada banyak prestasinya yang perlu dihargai. Zukri pernah menulis beberapa buku. Ia banyak memberikan pelatihan kepada masyarakat, menjadi kolumnis untuk harian Mimbar Minang dan Harian Haluan di Padang, dan menyelesaikan berbagai perkara yang rumit. Itulah Zukri Saad, pewaris bangsa ini. Sama dengan kita semua.

Jakarta, 31 Agustus 2020

————

Eka Budianta Seniman, Penulis dan Pencinta Lingkungan yang menetap di Jakarta. Direktur Lingkungan Jababeka, Mantan Direktur Yayasan Dana Mitra Lingkungan, Mantan Wartawan Tempo, Ashahi Shinbun Tokyo, penyiar BBC London, Dosen tamu Cornell University – Ithaca – USA.

Adikku Zukri | Azmi Saad