Zukri Saad, Aktifis Kelebihan Neuron

Oleh : Iswan Kaputra

Awalnya gampang-gampang susah melafazkan nama aktivis senior bertaraf internasional yang legendaris ini. Ada yang memanggilnya dengan Sukri Saad, namun ada juga yang memanggilnya dengan Zukri Saad dengan pengucapan huruf “Z” dengan penekanan. Ada pula tertulis Sukri Zaad. Kami, para rekannya di Sumatera Utara, lebih akrab menyebutkan dengan kata Zukri Saad, meskipun dalam penyebutan tetap berbunyi Sukri Saad, saat mengucapkan huruf “Z” tidak dengan penekanan yang jelas, malah terjadi peleburan. Nah… Gampang, tapi susah dan … susah, tapi gampang kan?

Belakangan waktu, pada era menjelang reformasi, saat beliau menulis 3 judul buku seri sosialnya, kami mengenali istilah baru lagi untuk panggilan Beliau, yakni Uwan Sukri. Begitu beliau menyebut-nyebut dirinya dalam 3 buku yang berjudul Inspirasi, Imajinasi Sosial, dan Partai Lokal, tersebut. Tiga judul buku tersebut berisi tulisan-tulisan pendek, antara 2 sampai 6 halaman buku per judulnya. Sebelum dibukukan, tulisan-tulisan tersebut dimuat sebagai tulisan kolom, dalam harian lokal di Sumatera Barat, yakni Mimbar Minang. Harian ini adalah sebuah media yang dinaungi dan diterbitkan oleh Koperasi Ekuator Minang Media yang dipimpinnya, di mana Bang Zukri menuliskan gagasan-gagasannya untuk stimulus pemikiran masyarakat agar menjadi trigger kemajuan dalam bingkai pemberdayaan. Gagasan dalam tulisan-tulisan ini beliau kumpulkan dari berbagai perjalanan dan pengalaman menggagas banyak hal, tentang keberdayaan masyarakat di seluruh negeri, bahkan hingga ke mancanegara.

Kisaran rentang tahun 2004 hingga 2006, saat Saya sangat giat membangun organisasi di kampung halaman, yakni Forum Masyarakat Labuhanbatu (FORMAL). Dalam rangka memompa semangat para kader organisasi, kami menyelenggarakan semacam award untuk para anggota FORMAL yang bekerja pengorganisasian dan pemberdayaan di lapangan masyarakat sekitar mereka masing-masing. Saat ulang tahun dan kongres organisasi, setelah dilakukan penilaian selama 4 bulan, dipilih 6 orang yang memiliki kualifikasi tinggi dan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat terbaik di Labuhanbatu. Selain sertifikat, hadiah barang, Saya ingin buku Bang Zukri yang berjudul “Inspirasi” menjadi semacan hadiah intelektual utama bagi anggota kader, karena buku ini sangat inspiratif untuk menggagas keberdayaan masyarakat, terutama di pedesaan.

Saya kontak Bang Zukri untuk menanyakan keberadaan buku tersebut, dan kami berniat membelinya 6 eksemplar. Ternyata Bang Zukri sendiripun telah kehabisan unit buku tersebut di tangannya. Karena Saya masih menyimpan 1 unit, Saya minta izin agar buku tersebut boleh digandakan menjadi 6 eksemplar buku mirip dengan cetakan aslinya, untuk dibagikan kepada para pemenang award sebagai hadiah intelektualnya.
Enam orang kader FORMAL yang menang dan telah membaca buku tersebut. 3 orang kader diantaranya mengimplementasikan dan mengembangkan gagasan yang lahir pasca membaca buku Bang Zukri. Mereka mengembangkan program namun dengan pilihan komoditas yang berbeda.

Saya ingin menceritakan agak panjang tentang salah satu sosok pemenang award, yakni Udin, begitu panggilan akrabnya. Pemuda ini hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena kondisi ekonomi orang tuanya, dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Udin merantau ke Malaysia, mencari sesuap nasi di perantauan. Pengembaraan dan mobilitas Udin terus berlanjut hingga akhirnya sampai ke Thailand. Di kota Bangkok, karir Udin di sebuah di restoran sangat moncer, sehingga mencapai posisi puncak : chef bertaraf internasional bersertifikat.

Singkat cerita, karena sesuatu dan lain hal di perantauan, Udin memutuskan pulang ke kampung. Mengurus lahan di kampung, mulai bergiat pada komunitas sosial masyarakat dengan menjadi anggota FORMAL. Saat award FORMAL diselenggarakan, Udin menjadi salah seorang dari 6 pemenang. Setelah membaca buku hadiah karangan Bang Zukri, unsur neuron sensorik sel saraf Udin melompat-lompat menghantarkan impuls yang diserap dari inderanya. Dalam waktu yang tidak berapa lama setelahnya, akhirnya Udin mengembangkan 1,5 ha lahan warisan di kampungnya dengan tanaman cepokak atau rimbang (solanum torvum) yang biasa digunakan untuk campuran sekaligus bumbu penyedap dalam menyayur daun ubi tumbuk.

Udin melakukan survei pasar pada 3 kota, yakni Rantau Prapat (ada 2 pasar, yakni Pajak Baru dan Pajak Lama), Aek Nabara dan Kota Pinang. Tentu langkah-langkah yang dilakukan Udin ini hasil dari imajinasi yang berkembang setelah membaca buku “Inspirasi”, dimana di dalamnya ada kisah-kisah dengan kalkulasi yang sangat jelas dan realistis, sehingga dengan tidak kesulitan Udin dapat menerapkannya.

Udin menemukan ada kisaran 35% ceruk pasar rimbang yang bisa diisinya dari kebutuhan yang telah dipenuhi pemasok yang menghasilkan rimbang secara tradisional. Untuk itu, Udin ingin menanam rimbang dengan budidaya, yang dirawat secara profesional dan intensif. Ia membandingkan dengan petani tradisional yang hanya memetik rimbang dari tanaman yang tumbuh sendiri secara liar, atau yang asalan ditanam hanya disekitar halaman pekarangan rumah, atau di perbatasan ladang.

Udin mulai pembenihan, kemudian membenamkan 1000 batang pohon rimbang pada lahan 1,5 ha dengan sistem polikultur, dimana pohon buah besar tidak semua dibersihkan atau ditebang. Pohon seperti durian, duku, pinang, manggis dan kemiri masih tetap tegak dan berbuah, baik yang musiman maupun yang berbuah sepanjang tahun. Dalam hamparan 1 hektar lahan, tanaman rimbang bisa tumbuh hingga 700 batang dalam kondisi model polikultur. Hanya dalam jangka waktu 6 bulan dari tanam, satu pohon rimbang sudah dapat menghasilkan rata-rata 1,5 kg dalam sekali panen, sedangkan dalam 1 bulan bisa dipanen 3 kali. Itu artinya, ada 4,5 kg rimbang dari 1 pohon perbulan.

Harga tolak (jual) rimbang di pasar ke pedagang eceran saat itu dalam fluktuasi kisaran Rp 1.500,- hingga Rp 3.000,-/kg. Jika diambil rata-rata tengah, yakni dengan harga Rp 2.000,-/kg saja, dikalikan dengan 4,5 kg dalam 1 bulan, dikalikan 1000 pohon yang ditanam Udin, maka hasilnya, paling sedikit Udin mengantongi 9 juta rupiah kotor dari hasil panen rimbang 1,5 ha lahan.
Karena menggunakan sistem polikultur, hasil dimaksud di atas, akan ditambah lagi dengan hasil dari tanaman buah musim tahunan yang angka penghasilannya juga hampir mendekati angka yang sama, terutama dari durian dan beberapa buah lain yang memiliki nilai ekonomis baik. Jika dihitung keseluruhan jumlah kotor yang didapat Udin dari hamparan 1,5 ha mendekati angka 20 juta.

Itupun kita tidak menghitung hasil kayu yang akan dipanen saat akhir, ketika replanting akan dilakukan terhadap lahan. Sebelum ditanam rimbang, lahan ini berisi karet tua yang hanya menghasilkan kurang dari 3 juta sebulan, saat harga karet normal dan musim getah karet tidak trek.

Beberapa tahun berhasil mengembangkan rimbang, ekonomi keluarga Udin jauh meningkat. Udin pun segera melangsungkan pesta pernikahan, kemudian membina keluarga kecil yang sangat bahagia. Tibalah saatnya, hasil tabungan Udin lebih dari 5 tahun mulai digunakannya untuk melanjutkan pengembangan bakat dari Thailand. Ada sebuah rumah makan yang bangkrut, dibeli dan diambil alih Udin manajemennya. Rumah makan yang berada di jalan lintas Sumatra ini adalah tempat yang sangat strategis. Hanya kurang dari 1 tahun dikelola Udin, rumah makan berkembang pesat ditangan pemilik sekaligus chef barunya ini.

Masakan khas dan menu utama yang disajikan adalah sayur daun ubi tumbuk rimbang khas Rantau Perapat dan anyang ayam khas makanan raja-raja Kota Pinang. Sayang, belakangan waktu Udin tertarik dengan dunia politik, dan menceburkan diri bermain dalam belantara politik, hingga kebun rimbang dan rumah makan khasnya mulai tidak terurus. Sedangkan pada dunia politiknyapun, Udin tidak mencapai prestasi maksimal.

Dari cerita kesuksesan Udin yang cukup panjang di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa gagasan yang ditulis Bang Zukri, sangat menginspirasi dan dapat mengubah pola pikir seseorang, sehingga menghantarkan pada kesuksesan. Saya menyaksikan bukan hanya Udin yang berubah karena gagasan dan inspirasi Bang Zukri Saad.

Kami, yang dulu dikata orang salah satu LSM besar di luar Jawa, memiliki puluhan program yang inovatif, dimana sebahagian darinya berasal dari mendengar cakap (ceramah) dan mengasup bahan bacaan dari Bang Zukri. Buah pikirannya yang akhirnya kami wujudkan jadi program-program kegiatan pemberdayaan masyarakat di Sumatera Utara, belakangan waktu jadi unggulan dan dibangga-banggakan oleh banyak kalangan. Bahkan oleh pemerintah provinsi.

Selain aktifis inspirator, jika ditarik jauh ke belakang, sejarahnya Bang Zukri dikenal sebagai aktifis sejak masih mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB adalah kampus tempatnya berkuliah, Beliau eksis sebagai aktifis pada organisasi mahasiswa yang paling disegani sekaligus dimusuhi Orde Baru, yakni Dewan Mahasiswa (dahulu lebih akrab disingkat Dema atau DM). Bang Zukri aktif dari tahun 1976 hingga 1982. Saat muda, begitu banyak “karier aktivisme” Beliau, hingga beberapa jabatan pada organisasi mahasiswa maupun di luar kampus Beliau duduki. Banyak sekali.

Hampir seluruh karier Beliau waktu muda tidak jauh-jauh dari dunia aktivisme dengan isu politik kebijakan pro rakyat, pemberdayaan masyarakat sebagai totok fokus pembangunan, keadilan sosial dan pelestarian lingkungan hidup. Tentu tidak gampang buat Bang Zukri, aktif sebagai aktivis gerakan mahasiswa pada masa yang begitu keras hingga terjadi perubahan sistem dan sejarah mahasiswa negeri ini. Bang Zukri bersama para senior aktivis berada di tengah “bubur panas” sejarah perubahan dan pembungkaman terhadap mahasiswa, dimana pemerintahan Orde Baru mulai menancapkan tonggak-tonggak awal otoritarianismenya.

Bang Zukri dan rekan-rekannya yang lain adalah aktifis senior yang menjadi guru dan panutan aktivisme kami, juniornya. Saya mulai aktif menjadi aktivis mahasiswa sejak tahun 1990, satu tahun setelah masuk kampus, menjadi mahasiswa di Jogja. Lalu pada tahun 1992 pindah kuliah ke Medan dan mulai memimpin dan membangun gerakan mahasiswa dengan kendaraan organisasi yang kami namai Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima), yang beranggotakan gabungan mahasiswa dari 10 kampus dari Medan dan sekitarnya.

Bang Zukri, kami kenal sebagai aktivis yang cukup aneh dan nyeleneh! Bagaimana tidak, bagi kami yang pemahaman aktivismenya standar dalam kerangka umum, dimana aktifis berbuat bersama rakyat untuk membela dan menyuarakan ketidak-adilan, kesewenang-wenangan, hak-hak masyarakat yang dicurangi atau dirampas, berdasarkan kerangka hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi, namun Bang Zukri sering datang pada kami dengan gagasan-gagasan yang terkadang kami anggap terlalu tinggi. Gagasan yang terkesan tidak rasional bagi kerangka berpikir aktifis yang sudah dibatasi dengan “pagar” keadilan sosial.

Musim kemarau tahun 2001, Bang Zukri datang ke Medan dengan informas baru. Beliau baru saja mendirikan perusahaan kongsi lintas Negara, yang didirikan oleh 4 orang yang berasal dari 4 negara yang berbeda. Salah satu unit usaha yang akan dikelola oleh perusahaan ini adalah berdagang satelit bekas !!. Inilah yang Saya maksud, bahwa Bang Zukri ini termasuk jenis aktivis aneh dan nyeleneh! Yang pertama, para aktivis pada masa lalu, biasanya anti dunia bisnis dan kapitalisme. Mendirikan perusahaan dianggap bagian dari kapitalisme. Yang kedua adalah komoditi yang akan didagangkan “satelit bekas”, benar-benar merupakan hal yang tak pernah terpikirkan sama sekali oleh kalangan aktifis! Bahkan gagasan ini dianggap obrolan warung kopi atau imajinasi yang tidak mungkin ditindaklanjuti secara nyata.

Begitulah Bang Zukri, aktivis senior yang cukup sulit difahami karna kelebihan lonjakan neuron di kepalanya. Sampai saat ini, Bang Zukri tetap menjadi Dewan Pakar lembaga. Kedatangan terakhir ke Medan, beliau menawarkan untuk kami punya program di Danau Toba. Bang Zukri melihat, bila aliran modal besar masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus- KEK Pariwisata ini, jelas akan menggusur keberadaan penduduk lokal. Bila dipersiapkan, masyarakat-lah yang seharus mengambil manfaat terbesar dari helat investasi itu. Usul Bang Zukri sebagai pakar, Lembaga kami kalau perlu menjual asset yang ada untuk segera berinvestasi di Danau terbesar di Indonesia ini. Nampaknya, neuron di kepalanya mulai memberi sinyal, agar mempersiapkan rakyat di seputar Danau Toba untuk tidak tergilas pembangunan pola KEK. Mereka haruslah penerima manfaat utama.

————

Iswan Kaputra, Master Sosiologi dari Universitas Sumatera Utara, Aktivis Advokasi Tanah dari Yayasan Bina Keterampilan Desa (BITRA) Indonesia, Medan – Sumatera Utara. Meneta[ di Medan, sampai kini sedang giat memfasilitasi pengembangan kopi rakyat di dataran tinggi Sumatera Utara.

Adikku Zukri | Azmi Saad