Zukri Saad dan Silaturahmi Berkelanjutan

Oleh : Sabirin

Urang awak satu-satunya yang selalu dipanggil oleh kawan-kawannya “Uwan” ini, sangat dekat dengan lintas generasi per-elesem-an yang ada di kawasan Sumbagut saat itu. Tahun 1986, aku sudah mengenalnya lewat jaringan Ornop. Uwan banyak berkiprah di Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), sementara aku bersama kawan lain berjaringan di Krapp (Kelompok relawan anti penyalahgunaan pestisida). Uwan ini punya kendaraan perjuangan yang ada di Padang yakni Yayasan Insan 17. Sepak terjang dan perjalanan hidupnya mampu mewarnai kehidupan barisan perjuangan banyak kader, penerus gerakan akar rumput di tanah air. Namanya masih harum dikalangan semua kawan dan bahkan mungkin lawan (kalau ada). Kini dengan usia yang menginjak 65 tahun, Uwan belum surut untuk terus berjuang dalam gerakan lingkungan, siapa kawan-kawan en-ji-o yang tidak kenal dengannya. Bak pepatah “Pantang surut berjuang, selagi nafas ada di kandung badan”. Bener-bener Lansia yang terus harus berkarya dan berjaya !.

Hingar bingarnya ornop kala itu dan Walhi menjadi pilihan banyak kawula muda yang ingin berkiprah di negeri yang memang menuntut untuk melakukan sesuatu yang beda walau banyak tekanan dari negara. Bayangkan, di era Soeharto dengan birokrasi disemua lini pemerintahan sangat patuh dan tunduk dengan satu garis komando dari pusat. Semua aktivitas yang dikerjakan oleh kawan-kawan ornop saat itu selalu dalam pengawasan yang ketat dan intensif oleh aparatur negara. Namun, kejelian para aktivis dalam mengelola kegiatan, terkadang menjadikan para aparat pengawas ini cepat-cepat meninggalkan arena kegiatan. Bayangkan saat itu, seorang polisi yang ditugaskan mengamati kami-kami kader muda yang sedang latihan “Teater Rakyat” dilibatkan oleh Sang Pemandu/Fasilitator untuk ikut sebagai peserta latihan. Otomatis, hanya hari itu saja pengawas ini berani dekat-dekat kami, paling-paling hanya melihat dari jarak jauh dan apalagi sudah dikasi kopi, dia akan tenang tak beranjak dari meja. Itulah cara kawan-kawan aktivis saat berkegiatan saat diawasi oleh aparat.

Kapan Kenal Dekat.
Tahun 1988, tahun ini menjadi tahun perkenalanku dengan Uwan ini. Aku memanggilnya Bang Sukri. Kala itu, aku sebagai pendatang dari Medan ke Padang. Aku selalu bermain dengan kawan-kawan jaringan yang sudah terbangun sejak aku pernah menjadi pelaksana tugas Sekretariat Wim (Wahana Informasi Masyarakat), sebuah forum ornop se Sumatera. Beberapa kawan yang sudah kukenal baik dan mereka semua ada di Padang, ada Ayang PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), ada Yongki, ada Yuhirman, ada Armeynd) dan lain-lain. PKBI saat itu dinakhodai sehari-harinya oleh Bung Ichsan Malik. Karena banyaknya kawan ini meleburlah aku dalam komunitas kawan-kawan di Padang ini dan mereka semua seperti sudah menjadi keluarga besar. Ketika itu ada serangkaian even “Jambore Nasional Pramuka” yang diselenggarakan di Sumatera Barat. Tentu, anak-anak muda yang selalu bermarkas di PKBI dan Ornop di Padang menjadi para pemandu dalam mempersiapkan Pelaksana Lapangan untuk pelaksanaan even tersebut. Hasil training di Ladang Padi, telah menghasilkan kader-kader muda baru dari Ranah Minang ini, muncullah beberapa nama saat itu seperti Firdaus, Fadhli, Ridho, Rezki Hainidar, dan lain lain. Pasca Jambore, semakin banyak kawan-kawanku di Padang dan kebetulan menjadi Kota Baru untuk tempat hidupku, minimal untuk 4 atau 5 tahun di Padang. Saat itu, masih sesekali bertemu dengan si Uwan Sukri ini, namun manakala ada pertemuan dengan para penggede en-ji-o di Padang pasti Uwan ada didalamnya.

Pasca aku kembali ke pangkalan di Medan, justru Uwan sering kontak email denganku. Beberapa kali aku diajaknya untuk sama-sama berkegiatan di Pertambangan Nikel di Sorowako Sulawesi Selatan, untuk menghijaukan ulang areal bekas tambang. Tambang Batubara di Meulaboh Aceh Barat. Beberapa hal Uwan juga selalu bertanya padaku, untuk ide-ide lapangan dalam persoalan budidaya tanaman. Disisi lain dengan banyaknya aktivitas dan dinamika en-ji-o di Medan, juga sering menghadirkan Uwan ini. Kami di Medan menyebutkan bahwa kehadiran Uwan untuk “mencas ulang gagasan/ide baru” Tim Bitra. Minimal setaun sekali, Uwan selalu dihadirkan di Rapat Tahunan BI (Bitra Indonesia). Bahkan kalau dalam setahun dia tidak diundang BI, Uwan selalu telpon, menanyakan perkembangan teranyar di BI dan Medan. “Kapan mau ngundang Gua Rin ?”

Mengispirasi dan Kawan Dimana-mana
Setidaknya Bitra Indonesia, terinspirasi oleh hadirnya sosok Uwan ini. Beberapa cacatan hasil inspirasinya dituangkan dalam wujud nyata adalah, model bangunan TCSS (Training Center Sayum Sabah) yang ada di Desa Sayum Sabah Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Banyak gagasan Uwan yang dituangkan dalam Landscap Bangunan. TCSS terkenal karena Konsep dan Penterjemahan Polikultur, yang mampu menginspirasi banyak pihak dan khususnya petani. Bagaimana berbudidaya pertanian selaras alam untuk petani yang mampu menopang kehidupannya untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Kawan awak yang satu ini kami sebut juga sebagai penyambung persaudaraan baru. Bahkan di suatu daerah yang sedang mengalami konflik, justru dia hadir untuk mencoba mencari solusi kebaikan bersama. Adanya aktivitas di Sorowako, aku dikenalkan dan akrab dengan Sarwendo, Daniel dan hubungan silaturrahmi masih terus berjalan sampai saat ini. Di Meulaboh, aku juga dikenalkan dengan orang-orang penting yang mampu memperlancar berbagai aktivitas lapangan.

Soal kawan, Uwan ini juga sangat beragam, mulai dari kalangan kampus, tokoh adat/masyarakat. Bahkan dari kaum muda sampai yang tua-tua. Hal yang selalu membanggakanku juga, bahwa si Uwan ini sebagai seseorang yang memang jadi model dalam menerapkan Silaturrahmi Berkelanjutan dan ini yang telah dibuktikannya. Terus terang, si Uwan inilah yang setiap kali mau atau begitu nyampai di Medan selalu mengabari kehadirannya. Dia tetap menyapa kondisi kita, khabar kita dan kawan-kawan kita. Lalu ngajak bertemu untuk silaturrahim. Walau hanya ketemu, ngopi, atau merokok sebatang dua. Kuncinya, Bertemu Muka. Bang Sukri ini juga yang selalu ingat dengan senior kami di Medan. Mbah Tarjo (alm) yang dia tanyakan, manakala dia mengontakku, ataupun bertemua untuk sekaligus “kapan kita lihat dan kunjungi dia, orang tua itu. Serta selalu ingat buah tangan khusus tuk orang tua tadi yakni 2 bungkus 234 Black atau GG Exlusive. Selamat Menempuh Usia ke-65 Bang, Tetap Sehat, Panjang Umur, Murah Rejeki dan Tetap Jalin Silaturahim. Wassalam.

Medan, 09092020

————

Ir. H. Sabirin, Alumni Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, menetap di Medan. Aktifis pengembangan Masyarakat Pedesaan melalui Yayasan Bitra Indonesia dan Jaringan Pertanian Alternatif Nusantara, banyak berkiprah mengelola Sekolah Lapang sebagai model belajar di Komunitas Petani Desa dibawah proyek NGO Nasional dan Internasional, cukup lama yakni tahun 1987 – 2014. Sejak tahun 2015, berkonsentrasi pada pengembangan produk perkebunan organik berbasis petani kecil, on-farm s/d off-farm.

Banyak melakukan research dan study tentang pertanian pangan (padi dan kedelai), tanaman perkebunan (kakao, kopi dan kelapa), baik tingkat on-farm dan off-farm. Mengembangkan berbagai alternatif input pertanian yang aplikatif dan mudah diterapkan oleh petani pedesaan.
Mengembangkan alternatif pengendalian berbagai OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan).

Penerima penghargaan nasional sebagai Pemandu Teladan Tingat Nasional oleh Menteri Pertanian RI Tahun 1998 dan Inovator Nasional oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi RI Tahun 2012

Adikku Zukri | Azmi Saad