ZUKRI SAAD: Dinamis dan Sarat Gagasan

Oleh : Alfitri

Manusia merdeka. Demikian Adi Sasono, Menteri Koperasi di kabinet Presiden Habibie, pernah menulis tentang beliau. Sebagai aktifis mahasiswa di Bandung, di akhir tahun 1970-an, beliau menolak membungkuk pada kekuasaan otoriter Orde Baru. Sejak tamat kuliah di ITB pada tahun 1985 beliau lantas aktif mendatangi berbagai pelosok nusantara sebagai pejuang lingkungan dan pengembangan masyarakat. Lama di rantau, namun toh perhatiannya untuk ikut membangun kampung halaman, Sumatera Barat, tidak berkurang. Antara lain, pada suatu kesempatan beliau ikut bersitungkin mengembangkan INS Kayutanam lebih dari 5 tahun.

Beliau ini, Zukri Saad, 10 tahun lebih tua dari saya. Tapi, tiidak seperti kebanyakan teman lain di Padang yang memanggil beliau dengan Uwan, saya lebih senang menyapa beliau Uda. Kendati, beliau jauh lebih senior tapi ngobrol dengannya terasa hangat dan egaliter. Namun, tetap tak terhindarkan kalau ngobrol atau diskusi, beliau kadang lebih dominan. Ini bagi saya wajar saja karena, beliau memang lebih kaya pengalaman dan sarat gagasan. Otaknya seperti tidak berhenti berpikir, mengolah gagasan.

Aslinya saya dan Uda Zukri ini sekampung. Sama dari Banuhampu, pinggiran Bukittinggi, Kabupaten Agam. Saya di Parabek dan beliau di Kubang Putiah. Konon kata orang, sejak dulu warga Banuhampu ini banyak yang punya semangat bersekolah yang tinggi. Untuk itu, sejak dulu ada asrama mahasiswa Banuhampu di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Selepas SMA cukup banyak anak muda dari Banuhampu yang melanjutkan kuliah di Jawa. Antara lain di ITB seperti Uda Zukri ini. Lebih banyak lagi dari Banuhampu ini yang berkuliah di Universitas Andalas. Antara lain ya saya sendiri.

Kendati sama-sama tidak menamatkan SMA di kampung, tapi rasa berkampung atau rasa “berbanuhampu” Uda Zukri dan saya ya lumayan lah. Mungkin beliau lebih, karena beliau dedengkot di organisasi mahasiswa Banuhampu Bandung dan sekaligus juga salah seorang tokoh mahasiswa Minang di Bandung. Waktu itu di tahun 1980-an Uda Zukri bersama teman-teman mahasiswa Banuhampu Bandung sudah mampu menerbitkan majalah yang cukup “berisi” dan terbit sekali sebulan yang dikirim ke perantau Banuhampu di seluruh Indonesia. Motto majalah itu adalah “Untuk Nusa Ku Bangun Desaku”. Majalah ini waktu itu cukup mampu menjembatani dan berbagi informasi tentang isu-isu pembangunan kampung halaman di kalangan perantau Banuhampu.

Saya sendiri pertengahan 1980-an adalah anggota organisasi mahasiswa Banuhampu di Padang yang tergolong “mualaf” lah. Waktu itu, saya dan kawan-kawan cukup terkesan dengan kehadiran Uda Zukri yang sempat hadir sekali dua dalam rapat- rapat yang diadakan. Beliau yang waktu itu, baru selesai menamatkan studi di ITB dan sudah malang melintang di berbagai LSM, berbagi pengalaman tentang bagaimana menggerakkan roda organisasi secara efektif.

Beliau dengan semangat mem-“briefing” kami agar organisasi mahasiswa Banuhampu di Padang bergerak dinamis dan lebih terlibat dengan isu-isu pembangunan di kampung halaman. Saya masih ingat, bagaimana waktu itu Uda Zukri mengkritisi kami yang tidak jeli dan tajam memisahkan mana yang kegiatan rutin dan mana yang program dari organisasi. Beliau menegaskan pentingnya energi dari suatu organisasi dicurahkan lebih banyak pada program ketimbang kegiatan-kegiatan rutin.

Setamat saya kuliah saya di akhir tahun 1987, saya merintis karir sebagai dosen di Universitas Andalas. Sementara itu, Uda Zukri terus bergerak dinamis di seantero nusantara sebagai aktivis LSM, antara lain juga sebagai Direktur Eksekutif WALHI. Saya terus mengikuti sepak terjang beliau dalam membina berbagai LSM di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa teman S2 saya tahun 1990 – 1992 di UGM, mengaku mendapat ilmu dan pengalaman yang berharga dimentori oleh Uda Zukri dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan komunitas di daerahnya masing-masing. Sebagai orang sekampung tentu saya ikut senang dan bangga pula.
Hubungan saya yang cukup intens dengan Uda Zukri berlangsung antara akhir 1990-an sampai awal tahun 2000-an. Ketika itu, sejumlah orang berhimpun dalam wadah koperasi untuk menerbitkan koran. Beliau bersama Irman Gusman, Musliar Kasim, Hasril Chaniago dan beberapa teman lain adalah tim inti penggerak Koperasi Ekuator Minang Media (KEMM) yang menerbitkan Koran Mimbar Minang. Mengusung semangat reformasi, di penghujung 1990-an itu, sejumlah tokoh dan anggota masyarakat Sumatera Barat baik yang di kampung halaman maupun di rantau bertekad untuk mendirikan koran yang lebih “berisi” dan “mencerahkan”. Saya masih ingat pada suatu rapat KEMM, Uda Zukri menyampaikan apresiasinya atas idealisme mereka yang mau menempatkan dana di KEMM ketika waktu itu bunga deposito bank sampai 60 persen.

Saya dan Werry Darta Taifur serta beberapa teman dari Universitas Andalas di samping menjadi anggota koperasi ikut antusias mengembangkan Koran Mimbar Minang ini dengan kerap menulis artikel. Uda Zukri sendiri menulis kolom setiap hari Senin di bawah rubrik “Inspirasi”. Kolom tetap beliau tersebut diterbitkan dalam bentuk buku November 2001 oleh Pustaka Mimbar Minang dengan kata pengantar dari Adi Sasono. Adalah beliau pula bersama Budi Putera dan Zul Effendi yang mengompori saya untuk juga ikut ambil “kaveling” kolom tetap di Koran Mimbar Minang ini. Tantangan beliau dan kawan-kawan itu akhirnya saya terima dengan ikut menulis setiap Kamis di bawah rubrik “Visi”.

Hubungan yang intens dengan Uda Zukri ketika itu juga terkait dengan diskusi-diskusi yang cukup sering dilakukan di kantor Koran Mimbar Minang, Jl. Patimura 18, Padang. Maklum saja, pada awal reformasi suasana sosial politik sangat dinamis, apalagi awal tahun 2000 itu juga akan digelar pemilihan Gubernur Sumatera Barat. Selain itu, minimal sekali seminggu, sore sepulang dari kampus saya mampir untuk mengantarkan tulisan sekaligus shalat ashar di surau kantor Koran Mimbar Minang ini. Saat itu lah kadang kesempatan untuk bertemu, bertukar kabar dan mendengarkan berbagai gagasan dari Uda Zukri dan juga kawan-kawan lain di KEMM.

Ada-ada saja gagasan yang Uda Zukri ini lontarkan. Umumnya bersifat inovatif, penuh terobosan, dan sering juga out of the box. Sebagian besar masuk akal, tapi buat saya pribadi ada juga yang kurang masuk akal. Seperti yang juga pernah beliau tulis, gagasannya yang menarik dan aplikatif misalnya, adalah tentang penataan Bukittinggi sebagai Kota Wisata. Antara lain, melalui upaya strategis membagi konsentrasi pusat kota dengan mengembangkan kawasan satelit tujuan wisata baru di radius 5 – 10 kilometer dari Jam Gadang. Kantong-kantong parkir, ruang terbuka hijau dan jalur pedestrian di sekitar pusat kota. Sebagian dari gagasan beliau tersebut sekarang sudah ada yang terwujud, seperti dengan adanya berbagai objek wisata baru di sekitar Bukittinggi seperti Janjang Saribu ke arah Koto Gadang.

Gagasan lain Uda Zukri 20 tahun lalu yang kini terasa pas dan relevan adalah untuk kembali bersepeda. Ini tidak hanya terkait dengan aktivitas olahraga semata, tapi sebagai alternatif untuk memecahkan masalah transportasi kota. Ini akan mengurangi kerumunan warga menunggu angkot pada jam-jam sibuk. Jika aktivitas bersepeda untuk jarak sedang di perkotaan kembali digalakkan maka ini akan berefek pada kesehatan warga dan berkurangnya polusi udara. Namun, menurut beliau ini perlu disertai dengan penataan infrastruktur dan redesain jalan-jalan utama agar pengendara sepeda aman dan nyaman.

Gagasan Uda Zukri yang kurang masuk akal bagi saya adalah tentang pergi haji dengan naik kapal. Seperti yang juga pernah beliau tulis dan hitung, naik haji dengan kapal ini akan lebih murah. Karena itu, secara kumulatif ini tentu akan menghemat banyak rupiah. Waktu, yang belasan hari di kapal selama berlayar dari Teluk Bayur menuju Jeddah itu, menurut beliau bisa pula dipakai untuk memantapkan persiapan ibadah haji para jemaah.
Gagasannya ini menurut saya sulit terwujud. Alasannya, orang enggan naik haji dengan kapal. Karena, bagi sebagian orang pergi naik haji adalah kesempatan pertama bagi mereka untuk naik pesawat. Kalau pun sudah pernah beberapa kali naik pesawat, menuju Mekkah untuk naik haji adalah kesempatan pertama pula bagi sebagian orang untuk menikmati pesawat berbadan lebar sejenis Boeing 747. Selain itu, tentu alasan lebih praktis dan menghemat waktu ketimbang pergi naik haji dengan kapal.

Setelah periode sama aktif di KEMM lebih kurang 4 tahun dan Koran Mimbar Minang berhenti terbit di tahun 2003, kami jadi jarang ketemu. Saya tetap sebagai dosen di Universitas Andalas. Sementara Uda Zukri tetap beraktifitas ke sana kemari sebagai manusia merdeka untuk pelestarian lingkungan hidup dan pengembangan komunitas. Beberapa kali saya dan Uda Zukri jumpa di bandara. Ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena beliau pasti akan mentraktir di kafe bandara sambil berbagi gagasan serta cerita berbagai aktifitasnya. Paling lama saya ngobrol berdua beliau adalah lima tahun yang lalu ketika bareng naik Bus Damri dari Bandara Soetta menuju Bogor.

Seperti biasa kalau ketemu selalu saja ada gagasan yang diceritakan Uda Zukri ini. Kadang seolah mengajak kita untuk juga ikut. Beliau bercerita dengan antusias, sedemikian rupa meyakinkan seolah itu akan segera terwujud. Sekali waktu, beliau menyampaikan bahwa beliau dan kawan-kawan serta Siswono, seorang mantan Menteri zaman Soeharto akan mendirikan suatu institusi pendidikan terpadu yang modern di Sumatera Barat. Diceritakan pula bahwa lahan untuk kampusnya sudah didapat di sekitar Kiambang dengan pemandangan yang indah ke arah laut. Di ujung cerita, beliau bertanya seolah menawarkan juga untuk ikut serta, “Bagaimana, Alfitri mau di dalam atau di luar?”

Saya tidak tahu bagaimana realisasi dari ceritanya itu sekarang. Sampai beberapa waktu yang lalu, pada suatu pagi beliau menyapa saya lewat WA. Rupanya beliau sekarang banyak di Jakarta. Kami pun saling bertukar kabar, termasuk tentang anak gadis masing-masing yang kebetulan satu sekolahan sewaktu SD. Anak gadis beliau sudah bekerja di FAO kantor Jakarta, suatu badan PBB yang mengurus pertanian. Alhamdulillah, anak saya pun telah bekerja di salah satu perusahaan Korea di Jakarta. “Kapan-kapan ke Jakarta kita ketemu Al. Kita makan siang, kita ajak anak-anak sekalian…” ujar beliau di WA. “Inshaa Allah Da…” jawab saya dengan takzim. ***

————

Drs. Alfitri MS., adalah Dosen tetap Universitas Andalas – Padang. Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Andalas dan S2 di Universitas Gajah Mada – Yogyakarta. Saat ini tengah merampungkan pendidikan S3 Studi Pembangunan di almamaternya dengan fokus perhatian Kolaborasi Multipihak dalam pengelolaan sampah plastik di kota Padang.

Adikku Zukri | Azmi Saad