Zukri Saad : I am a leader…!!!,.

Oleh : Firdaus Jamal

Awal Jumpa Abang Zukri. Uwan Sukri, begitu umumnya orang menyapa. walaupun ejaan nama beliau tertulis “Zukri” menggunakan huruf Z. Mungkin saja karena huruf pertama kebanyakan nama orang menggunakan huruf S. Tapi beberapa orang termasuk saya tidak pernah memanggil beliau dengan Uwan, melainkan Abang. Dipertengahan ’80 an, Uwan sudah mulai terkenal di Sumatera Barat.

Bertemu Abang Zukri pertama kali, ketika memasuki jenjang perguruan tinggi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (FPUA), tahun 1986. Suatu tradisi di FPUA, setiap tahunnya mahasiswa baru diwajibkan mengikuti Kemah Bakti Mahasiswa (KBM). Di angkatan saya, KBM di laksanakan di lapangan sekolah Institut Nasional Syafei (INS) di Kayu Tanam – Kabupaten Padang Pariaman.

Kami diberitahu oleh para senior, panitia penanggung jawab KBM, INS Kayu Tanam saat itu sedang dikembangkan oleh satu kelompok alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), alumni kampus top dan favorit di Kota Bandung. Pada hari pertama KBM, disibukkan angkat barang dan mendirikan tenda. Kami sebagai mahasiswa baru, masih saja diwarnai dengan suasana OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Zaman itu, tindakan fisik ringan masih lazim kami rasakan.

Senja itu terasa badan sudah letih dan mata mulai mengantuk, dengan rasa terpaksa kami dikumpulkan dalam sebuah aula. Menyaksikan berbagai atraksi dari siswa INS, yang telah mengalami proses pendidikan dari tim ITB. Ketika rasa kantuk memuncak. Kami diminta mendengarkan ceramah dari salah satu pengasuh LP INS, orang nya berkumis tebal dan sedikit godrong. Diperkenalkan sebagai Zukri Saad, alumni ITB. Ini lah kali pertama bertemu Abang Zukri.

Ajaibnya, rasa kantuk yang tadinya tidak tertahankan selama mendengarkan “tausyiah” Abang Zukri kembali terjaga. Suaranya lantang dan bertutur dengan santai. Menceritakan keinginan mereka alumni ITB asal Sumatera Barat, untuk mengembangkan pendidikan alternatif di INS. Tidak kalah menariknya ceritanya sebagai aktifis kampus di zamannya.

Interaksi berlanjut, Semakin Mengenal dan “Terpikat” ke Dunia Organisasi Non Pemerintah (ORNOP). Sejak pertemuan pertama di Kayu Tanam, lama tidak bersua dan berinteraksi dengan Bang Zukri. Interaksi berikutnya sekitar tahun 1987 difasilitasi oleh para senior, pengurus Kelompok Mahasiswa Mencintai Alam (KOMMA) – FPUA. Tempat saya beraktifitas, selain hanya kuliah sebagaimana umumnya mahasiswa. Saya melanjutkan hobby waktu SMA, masuk hutan dan mendaki gunung.

Abang memberikan ceramah khusus tentang gerakan lingkungan di Indonesia. Mengenalkan berbagai ORNOP belakangan pemerintah memberikan nama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Secara internasional dikenal dengan Non Government Organitation (NGO) yang bergerak dan peduli terhadap isu lingkungan di Indonesia, seperti Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) dan Sekretariat Pelestarian Hutan Indonesia (SKEPHI). Bagi saya cerita ini sebagai informasi baru dan menambah wawasan. Saya waktu itu tidak terlalu tertarik, kecuali dengan gerakan mempertahankan kelestarian hutan. Sementara itu, saya sedang membangun mimpi untuk melanjutkan petualangan menapaki gunung-gunung ke puncaknya. Kesan saya dari awal dan mendalam adalah kemampuan orasi Bang Zukri yang luar biasa ditambah wawasannya yang luas.

Diantara kawan-kawan di KOMMA yang seiring sejalan, kawan saya yang satu ini, Fadli namanya, menunjukkan perhatian lebih terhadap ceramahnya Abang Zukri, terutama retorika si abang. Saya kira Fadli akan menulis si Abang dari sudut pandang yang lain. Saya dan Fadli khususnya, oleh kawan-kawan aktifis muda dari organisasi lain pada waktu itu, sering menyebut kami dari KOMMA sebagai “adik kandung” si abang.

Saya tidak ingat dengan pasti, mungkin sekitar tahun 1988. Baru tahu kalau Bang Zukri mempunyai organisasi di kota Padang yang mereka sebut Insan 17, berkantor di Jalan Bandar Damar. Hampir beriringan berdirinya Yayasan Bina Kelola (BILA), yang di “kompori” juga oleh si abang. Para senior saya di KOMMA – pun, di dorong mendirikan sebuah organisasi di luar kampus. Perlu dibangun sebuah wadah, untuk lebih leluasa berkiprah di luar kampus. Khususnya di sektor pertanian dan lingkungan.

Pada tahun 1988, banyak peristiwa yang membuat interaksi saya dengan Bang Zukri semakin dekat. Pertama,KOMMA di tunjuk oleh Bang Zukri menjadi panitia penyelenggara latihan investigasi hutan tingkat nasional. Pesertanya, aktifis dari berbagai Ornop yang berasal dari seluruh Indonesia. Latihan ini diselenggarakan oleh WALHI dan SKEPHI. Sumatera Barat di dapuk sebagai tuan rumah. Bang Zukri waktu itu sebagai perwakilan WALHI di Sumatera menjadi penanggung jawab dan sekaligus tuan rumah. Di KOMMA sebagai yunior saya terpilih dalam tim persiapan melakukan survey lapangan, mungkin karena kebiasaan keluar masuk hutan. Belakangan malah ditunjuk terlibat sebagai peserta aktif mengikuti pelatihan.

Media pelatihan ini menjadi pintu gerbang pertama saya mengenal dunia Ornop. Khususnya di sektor lingkungan hidup dan lebih berfokus di isu-isu masalah kehutanan di Indonesia. Pada saat latihan, saya berkesempatan berinteraksi dengan banyak aktivis senior kawan seangkatan Bang Zukri dari pulau Jawa dan luar Jawa. Beberapa yang masih saya ingat, Indro Cahyono (Sekretaris Eksekutif SKEPHI), Agus Purnomo (Direktur Walhi di jaman itu), Roem Topatimasang, Rizal Malik, Musfihin Dahlan dan Sombolinggi (peserta paling senior dari Toraja). Juga beberapa generasi lebih muda seperti, Edi Hendras, Hira Jamtani, Nina Dwisasanti, Tri Noegroho, Lili Hasanuddin, Ampong, Karya Ersada, Bimbin, Faturahman.

Pada forum pelatihan ini, terasa betul ketimpangan pengetahuan dan pemahaman saya terhadap persoalan lingkungan dan kehutan. Tidak mudah mengikuti diskusi dan perdebatan selama pelatihan. Tidak jarang kepala terasa panas dan kebingungan mencerna diskusi dan debat diantara para aktifis senior ini. Abang Zukri dan kawan-kawannya ini dengan entengnya mendiskusikan kesewenangan penguasa di era orde baru yang kong-kalingkong dengan pengusaha. Mereka hafal nama perusahaan, pengusahanya dan lokasi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang melakukan perusakan di dalam dan luar konsesi yang diberikan. Abang Zukri menunjukkan kelasnya di antara kawan-kawannya ini, dan luasnya pergaulan beliau dengan hampir seluruh peserta. Diam-diam dalam hati saya, ada keinginan untuk menjadi aktifis lingkungan seperti Abang Zukri dan kawan-kawannya ini.

Beriringan dengan pelaksanaan pelatihan ini. Bersama KOMMA, Abang Zukri menggagas Seminar Nasional Sehari tentang “Sampah dan Prospek Pemamfaatannya di Kota Padang”, tepatnya 13 Agustus 1988.  Seminar ini dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim. Pak Menteri juga menyempatkan hadir di pelatihan investigasi hutan dan menerima rekomendasi proses dan hasil pelatihan. Setelah pelatihan, semua peserta ikut menghadiri seminar. Sementara peserta sebaya saya  melanjutkan acara mendaki Gunung Kerinci dan ada juga yang melanjutkan kunjungan ke pulau Mentawai secara mandiri.

Dua acara ini bagi KOMMA FPUA merupakan even besar, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 12. Merupakan suatu kesuksesan generasi aktifis KOMMA waktu itu. Semua itu tentu tidak terlepas adanya sosok Abang Zukri yang telah memberikan dukungan, baik pemikiran, akses dan sumberdaya. Kedekatan para senior KOMMA dengan beliau semakin terlihat erat. Dapat dibuktikan dari intensifnya pertemuan dan diskusi membangun berbagai gagasan serta memperkuat Yayasan Bina Kelola.

Kedua, untuk memperkuat kaderisasi di KOMMA si abang menyarankan diadakan pelatihan khusus kepemimpinan yang disebut dengan “Pelatihan Pemantapan”. Duapuluh dua orang anggota KOMMA yang sudah mengikuti pelatihan dasar cinta alam mengikuti pelatihan ini, saya termasuk diantaranya. Pelatihan dilaksanakan di Pulau Pisang tidak jauh dari pantai Air Manis yang terkenal dengan Kisah Malin Kundang. Apabila air laut sedang pasang naik, perlu berenang untuk mencapai pulau, sebaliknya pasang sedang surut pulau dapat diakses dengan berjalan kaki di atas karang.

Beberapa hari kami menjalani proses bersama dalam pelatihan yang dipimpin langsung oleh Bang Zukri. Ada dua pendekatan pelatihan, fisik dan mental, yang berjalan beriringan. Yang luar biasa, ditengah pulau kecil ini kami sepakat untuk puasa selama duapuluh empat jam dan tetap melakukan aktifitas fisik dan mental dengan berbagai permainan. Ketika kondisi fisik sudah sangat lemah, instruksi fisik dan mental justru semakin meningkat. Selalu ada teriakan; “I am a leader…!!!!”. Dinamika pelatihan penuh bentakan dan hukuman, bagi saya pribadi tidak begitu menjadi soal. Sejak usia SMP saya dimentori oleh seorang “mamak” tentara yang sangat keras dan disiplin kepada anak dan kemanakannya. Tetapi, proses membangun sikap untuk menjadi pemimpin dan bertanggung jawab merupakan inti dari proses yang kami lalui bersama.

Ada satu peristiwa sangat berkesan bagi saya. Dua orang kawan kami peserta pelatihan salah memahami instruksi puasa dengan survival. Sebagai pencinta alam kami telah dilatih ilmu dan pengalaman survival. Kawan kami berinisiatif mengambil buah kelapa sebagai pelepas dahaga. Tindakannya diketahui oleh si Abang dan diminta pertanggung jawaban. Terjadi adu argumentasi antara kawan kami dengan Bang Zukri. Ke duanya tidak mau menerima kalau tindakannya menyalahi kesepakatan. Pada malam itu, walaupun air laut sedang pasang naik, keduanya di usir dari pulau dan tidak diperbolehkan melanjutkan proses pelatihan.

Konsistensi menegakkan aturan dan kesepakatan menjadi kesan mendalam dan pembelajaran yang selalu saya ingat sampai sekarang. Kelihatan wibawa Bang Zukri dalam menegakkan aturan dan sangat mempengaruhi moral pelatihan pemantapan kami. Saya menduga, semua yang terlibat dalam proses pelatihan mendapatkan pembelajaran yang luar biasa bagi diri masing-masing tentu akan tinggal dalam ingatan.

Menapaki Dunia Ornop: “Berguru Sambil Jalan”. Kecelakaan bermotor menimpa  saya setahun setelah pelatihan, Sehingga membatasi diri saya untuk bertualang mendaki gunung dan berinteraksi intensif dengan Bang Zukri. Se-tahun berikutnya setelah sembuh dari cidera berat, pertengahan tahun 1990 saya dipercaya menjadi Ketua KOMMA. Kembali-lah interaksi dengan Bang Zukri meningkat. Kondisi fisik saya yang terbatas pasca kecelakaan, membuat saya sangat tersanjung dengan dipercaya memimpin KOMMA yang militan. Kepercayaan saya terima, proses pendidikan dan motivasi yang telah diberikan Bang Zukri menjadi modal untuk bangkit dari keterbatasan dan ketidak mampuan fisik. “I am a leader..!!!”

Bang Zukri terus menjembatani kaderisasi di KOMMA dengan pelatihan pemantapan ke dua. Kabarnya lebih seru, di Pulau Pasumpahan, karena pelatih fisiknya didatangkan dari Bandung, Bang Amrizal Salayan. Saya menerima dukungan, terutama dari kawan-kawan yang ikut pelatihan pemantapan, untuk menjadi Ketua KOMMA. Sambil jalan, juga memutuskan untuk mulai belajar lebih jauh dunia ornop di BILA. Tentu, yang tidak kalah penting menyelesaikan studi yang tertinggal karena istirahat pasca kecelakaan.

Perjalanan hidup memang sudah ditentukan oleh Allah, kita diperintahkan untuk berikhtiar dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh serta berdoa, begitu nasehat orang tua. Alhamdulillah semua agenda yang saya rencanakan di atas dapat dijalani dengan baik, disamping itu : “I am a leader…!!!”, sangat mempengaruhi semua proses yang telah saya jalani. Abang Zukri memberikan perhatian khusus kepada KOMMA dan BILA, ini menimbulkan kecemburuan kawan-kawan aktifis muda di Padang. Dugaan saya, pilihan abang kepada KOMMA karena ada sistem pendidikan, kaderisasi dan terbangunnya proses kepemimpinan.

Untuk meningkatkan peran Ornop lokal yang baru tumbuh di akhir 80-an di Indonesia Barat dan Timur. Bang Zukri dan kawan-kawannya di Jakarta membangun komitmen pendanaan dari USAID. Badan dana dari pemerintah Amerika Serikat ini memberikan dukungan melalui program yang disebut Learning and Linkage(LELI) dalam dua tahapan LELI I dan II. Pada LELI I saya banyak terlibat dalam pelatihan untuk aktifis dalam mengembangkan manajemen nirlaba dan keuangan. Sambil tetap meneruskan studi, saya aktif mengikuti program.

Petuah Abang Zukri selalu mengiang di telinga, “jangan kuliah sampai menggangu kesempatan untuk mengembangkan diri”. Banyak orang hanya ikut track regular, sekolah, tamat, punya ijazah dan berharap diterima kerja di pemerintah atau swasta. Kemudian hidup mapan, nyaman dan aman. Sering Bang Zukri mengibaratkan mereka seperti “Ayam Ras”, makan dan tempat tinggal telah tersedia. Haruslah seperti, “Ayam Kampung”, yang mandiri dalam kehidupan. Pagi bertebaran di muka bumi dan harus berusaha untuk bisa mendapatkan makanan.

Berbekal pengetahuan dari program LELI yang sangat berharga sekali dan manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh organisasi. Biasanya, setiap KOMMA mengadakan even, selalu diakhir acara ada masalah keuangan yang tidak efisien dan efektif. Kali ini dengan bekal tata kelola manajemen dan keuangan sederhana, berbagai even dapat terlaksana dengan lancar. Menariknya, ada sisa dana yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kelembagaan, sarana dan prasarana KOMMA. Hal ini pernah saya sampaikan ke Bang Zukri, beliau tersenyum dan mengapresiasi.

Berbagai kesempatan kembali saya terima perantara si Abang, di LELI II kembali saya dipercaya untuk mengelola program. Kali ini semakin menggembirakan, sesuai sekali dengan keinginan awal saya untuk beraktifitas di dunia Ornop khususnya di isu lingkungan dan konservasi. LELI II di desain lokasinya di zona penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Meng-anyam jaringan ornop di tingkat lokal dan nasional merupakan kepiawaian Abang Zukri, dikenal luas di kalangan aktivis ornop seantero nusantara. Di program LELI II ini anyaman si Abang, menjadi cikal bakal jejaring Ornop regional. Kemudian hari, secara khusus memberikan perhatian kepada isu konservasi dan berbagai masalah di TNKS. Jejaring mana akhirnya berwujud Warung Informasi Konservasi (WARSI), tahun 1991. Jejaring berkembang menjadi badan hukum perkumpulan, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI. Sebagai senior, Bang Zukri dan saya serta beberapa orang aktivis menjadi inisiator berdirinya KKI WARSI. Sebagai penghargaan diberikan nomor anggota 001 kepada Abang Zukri.

Kesempatan saya belajar di dunia konservasi semakin terbuka, fasilitasi si abang secara langsung atau tidak terus dirasakan. Di awal tahun 92-an, jarang sekali aktivis Ornop yang telah memiliki komputer jinjing (laptop). Personal komputer (PC) ini terhitung canggih di zaman-nya, sudah memiliki internal hardisk. Sementara umumnya desktop dioperasikan dengan DOS dan program dari eksternal disket. Setahu saya laptop ini adalah milik abang Zukri, saya tidak tahu persis bagaimana  prosesnya beralih menjadi aset Yayasan BILA. Kemudian, Direktur BILA Uwan Efnizon mengamanahkan sebagai teman kerja saya di lapangan, di zona penyangga TNKS.

Menariknya, ketika dalam satu kesempatan kerjasama program dengan pihak WWF Proyek TNKS, Semua staf WWF melirik dan menyatakan kekagumannya dengan benda yang selalu menemani kerja saya. Terus terang, sebagai aktifis Ornop lokal dengan isi saku pas-pasan, bisa “tegak kepala” waktu berinteraksi dengan para pekerja WWF yang bergaji di atas rata-rata. Ingat petuah abang; “I am a Leader…!!!”.

Seiring berjalan waktu, Abang lebih banyak beraktifitas di Jakarta. Tahun 1992, beliau terpilih menjadi salah satu Direktur WALHI,  sehingga interaksi jauh berkurang. Namun yang selalu saya ingat, Abang Zukri sangat menjaga dan menghargai silaturahmi, walaupun jarak sudah berjauhan. Sebagai yunior rasanya lebih sering si abang yang menghubungi kalau sedang berada di Padang. Begitu juga, apabila ada kesempatan berkunjung ke Jakarta apabila beliau dikontak, saya akan disambangi. Bahkan kalau tidak mempunyai akses untuk penginapan di Jakarta, dapat nebeng di kost-an beliau.

Silaturahmi yang Makin Dekat. Kedekatan kami sebagai guru, mentor dan inspirator dengan murid sudah seperti saudara. Hal-hal pribadi sudah biasa kami saling diskusikan dan diketahui satu sama lain. Pada tahun 1994, di usia menjelang kepala empat, Abang menemukan jodohnya.  Pada saat yang beriringan Uwan Efnizon Direktur Bina Kelola juga mempersunting jodohnya di daerah dampingan BILA di Padang Magek, Tanah Datar.

Sementara itu saya, semakin tergelumus-tumus di pedalaman TNKS. Tahun 1995, saya dan Bung Charles dipercaya mengurus Sekretariat WARSI yang sedang dalam situasi transisi, karena persoalan mis-manajemen di Bangko, Jambi. Menurut Bang Zukri, Bangko secara geografis strategis karena berada di jalur Lintas Sumatera dan berada di kawasan penyangga TNKS. Setiap kesempatan apabila Bang Zukri ke Jakarta mengendarai Kijang Putih, akan mampir di Bangko. Saya beberapa kali “nebeng” sekalian menjadi sopir cadangan, kalau sedang ada urusan WARSI ke Jakarta.

Salah satu momen penting, me-lobby mitra dan donor pasca perubahan manajemen di WARSI. Khususnya, menemui WALHI, WWF Indonesia dan Bank Dunia.  Alhamdulillah, semua urusan berjalan sukses karena personal garansi si Abang, selain itu mitra donor juga sudah mengenal saya dengan baik. Sehingga, proses transisi dan kepercayaan kepada WARSI yang baru tumbuh dapat berjalan dengan baik. Menurut saya, peristiwa itu sangat penting dicatat oleh WARSI, yang saat ini terus berjaya dipercaturan Ornop penggiat isu hutan dan masyarakat adat.

Kisah tentang Kijang Putih berlanjut dengan sebuah episode menjemput anak daro Bang Zukri untuk di boyong keperantauan Jakarta. Abang menelpon akan mampir di Bangko dan mengajak saya bersama ke Jakarta. Sebagaimana adat di minangkabau, mertua beliau juga turut serta di perjalanan, mengantarkan anak perempuan ikut junjungannya merantau.

Dikesempatan istirahat di jalan, saya bertanya, “nanti di Jakarta tinggal di mana”.  Abang menjawab,”Di rumah kontrakan di kawasan Pondok Gede”. Abang melanjutkan kalau rumah kontrakan tersebut belum sepenuhnya siap untuk ditempati. Saya ikut risau, karena ada mertua juga akan tinggal bersama nantinya. Ternyata mertua singgah dulu di Lampung ke tempat saudara.

Singkat cerita, sampai di Jakarta kami tidak langsung ke tempat kontrakan, transit dulu di rumah kakak Bang Zukri, Uda Jimi. Besoknya saya dan abang melihat rumah penganten baru yang akan ditempati . Kemudian membeli barang-barang pokok yang masih harus dilengkapi. Juga mempacking barang dari tempat kost Bang Zukri di kawasan Mampang dekat kantor WALHI. Setelah semuanya lumayan rampung, barulah anak daro di boyong ke rumah sangat sederhana itu. Saya berkesempatan menginap satu malam disana.

Bagi saya, peristiwa di atas menjadi pembelajaran penting dalam mengarungi kehidupan ke depan. Seorang tokoh seperti Abang Zukri yang telah malang melintang di dunia persilatan Ornop Nasional dan Internasional, menjalani hidupnya jauh dari kemapanan. Padahal beliau menikah tidak lagi pada usia yang masih muda, tentulah secara finansial sudah mempunyai persiapan matang. Ternyata tidak ada persiapan itu, waktu dan pemikirannya selama ini lebih banyak tercurah kepada kehidupan aktifis.

Itulah, ketika saya akan menikah abang ini nyinyir memberi nasehat, “apabila mau berumah tangga, mesti ada dulu tangga dan rumahnya”. Beliau mendorong untuk memiliki rumah dulu sebelum menikah. Bersama kawan-kawan lainnya, kami mendapatkan perioritas cicilan rumah melalui Bang Zukri, yang sempat menjadi developer perumahan bersama Uda Johni Halim kawan beliau sama kuliah di ITB dulu. Rumah ini yang saya tempati sampai sekarang, menjadi rumah pengantin baru kami di tahun 1999. Rumah kami berjarak lebih kurang 1 km dari rumah Bang Zukri, Sehingga interaksi kami langsung kalau Abang sedang berada di Padang.

Saya yakin, pihak-pihak yang pernah berinteraksi dengan Bang Zukri pasti terkesan dengan kemampuannya menyampaikan berbagai gagasan. Runtut dan meyakinkan pendengarnya serta mampu membangun kerangka berfikir orang lain. Namun bagi saya, kemampuan Abang dalam me-lobby (istilah popular beliau meng-anyam) banyak pihak dan meyakinkan pihak-pihak lain merupakan keistimewaan yang lain. Sambil jalan, hal ini yang banyak saya pelajari dari Bang Zukri.

Dalam perjalanan hidup beliau berkeluarga, saya menyaksikan ketabahan dan sikap tawakalnya dalam menghadapi kesulitan, terutama ketika anak bungsunya Dana, terserang leukemia. Sepengetahuan saya, sejak itu Bang Zukri tidak lagi sepenuhnya di dunia Ornop. Kebutuhan biaya pengobatan di RSCM sangatlah besar. Di sinilah saya lihat, kehebatan pertemanan beliau sesama alumni ITB yang sangat luas dan terjalin baik. Sementara si Dana menjalani pengobatan jangka panjang, Abang mendapatkan akses berbagai pekerjaan sebagai konsultan oleh jejaring kawan-kawannya, yang banyak “mamacik” di pusat kekuasaan Jakarta.

Ada satu pembelajaran dan peristiwa yang juga sangat berarti dalam perjalanan hidup saya. Tahun 2006 Bang Zukri menunaikan ibadah haji berbarengan dengan Uwan Efnizon. Tanpa perjanjian dengan beliau, secara diam-diam saya dan istri juga berniat dan telah menabung untuk menunaikan ibadah haji yang jatuh porsi keberangkatannya setahun setelahnya. Bang Zukri banyak memberikan masukan dan bimbingan teknis, seperti memberikan buku “LSM Naik Haji” yang ditulis oleh Bang Soekirman, aktifis Ornop senior yang sekarang menjadi Bupati Serdang Bedagai – Sumatera Utara. Juga mendukung dengan pernak pernik yang harus disiapkan selama menjalani ibadah, jacket tebal dan celana dalam sekali pakai yang beliau belikan di Jakarta. Ibadah kami menjadi lebih khusyuk, karena tidak perlu harus mencuci pakaian dalam.

Sepengetahuan saya sejak saat itu, Bang Zukri lebih banyak menekuni aktifitasnya di Jakarta. Dunia sebagai konsultan lebih fokus di gelutinya. Sementara Ornop yang masih tetap menjadi tempat silaturahmi erat kami adalah di WARSI. Selain itu di PKBI Sumbar, posko tetap saya yang sudah cukup lama saya jalani, saya melanjutkan aktifitas di dunia Ornop. Apabila Abang Zukri pulang ke Padang, acap kali mengajak makan gulai ikan dan rendang rajo-rajo yang terkenal enak di dekat kantor PKBI Sumbar di Seberang Padang.

Ketika anak-anak beliau mulai masuk perguruan tinggi, sepertinya beliau berada dipersimpangan jalan. Pada satu kesempatan kami pernah berdiskusi, Bang Zukri menyampaikan kegundahan hatinya. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri anak-anak perlu biaya besar dan tetap secara berkala selama masa studinya, mereka ada bertiga. Jalan terjal dan mendaki harus diarungi untuk mendukung proses studi ananda. Situasi ini bertepatan saat usia si Abang menjelang kepala enam. Keadaan menuntut harus mempunyai pendapatan tetap dengan jumlah di atas rata-rata. Sekali lagi, kawan beliau sesama kuliah di ITB dulu, menawarkan pekerjaan di dunia yang selama ini posisi kepemihakannya berada berbeda dengan perjuangan beliau selama ini, yaitu industri perkebunan besar kelapa sawit.

Ketika diminta pandangan, saya menyatakan pesetujuan kalau pilihan sulit ini diambil. Ini berkaitan dengan tanggung jawab dunia akhirat kepada keluarga. Dalam fikiran saya, situasi dan kondisi perjuangan masyarakat sipil sudah sangat berbeda setelah Indonesia memasuki era-reformasi dan demokratisasi. Harapan saya, kehadiran Bang Zukri dan kawan-kawan aktifis di dalam perusahaan multinasional, akan dapat mewarnai dan mempengaruhi kebijakan perusahan terhadap tatakelola lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal sekitar perkebunan khususnya.

Cukup panjang juga Bang Zukri melakoni dunia korporasi, pada akhirnya menjelang usia beliau 65 tahun, ketiga ananda telah menyelesaikan studinya dengan baik dan cemerlang. Si abang-pun akan menghentikan langkahnya di dunia korporasi. Beliau sampaikan akan kembali ke Padang, bak pepatah; “Setinggi-tinggi terbang bangau, kembalinya ke kubangan juga”. Selamat menjalani dan memasuki kelompok usia “Demografi Plus-Plus” Bang Zukri. Merujuk usia Rasullah Muhammad saw, Abang sudah mendapatkan bonus dua tahun. Sementara kalau berpedoman kepada usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia tahun 2018, adalah 71,2 tahun. Di mana 69,3 tahun untuk pria dan 73,19 tahun untuk wanita. Semoga usia yang diberikan Allah lebih panjang lagi dari perhitungan BPS tersebut, tentu dengan keberkahan usia, kesehatan dan tetap dapat berkontribusi untuk peradaban umat manusia dan lingkungan. Semoga silaturahmi kami dengan abang sekeluarga tetap terjaga baik hingga akhir hayat. Wallahu a’lam…..

Padang, menjelang usia ke 53, 4 September 2020,

Firdaus Jamal ***)

————

Ir. Firdaus Jamal MSi., Alumi jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian dan S2 Jurusan Kebijakan Publik – Universitas Andalas, menetap di Padang. Lebih dari 30 tahun menjadi aktifis Ornop yang fokus ke isu konservasi hutan dan keluarga berencana. Ikut mendirikan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI – WARSI), pernah dipercaya menjadi Direktur pelaksana selama beberapa tahun. Karir lanjutan adalah Direktur Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Sumatera Barat. Aktifitas lainnya, konsultan di beberapa kesempatan program nasional pemerintah, khususnya Bappenas, Bank Dunia dan USAID.

Adikku Zukri | Azmi Saad