Zukri Saad : Kawan aktivis kampus dan LSM

Oleh : Cahyono Eko Sugiharto

Saya dengan pak Zukri Saad terkategori sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa 1977 – 1978, dengan ciri pokok gerakan mahasiswa “berbasis aksi massa dari kampus masing-masing dan terkoordinasi dengan visi serta missi yang sama”. Di masa puncak gerakan mahasiswa itu yakni antara bulan Oktober 1977 – bulan Maret 1978, kami secara personal belum saling mengenal. Saya dari kampus Unpad, beliau dari kampus ITB.

Saya mulai mengenal nama beliau kala yang bersangkutan menjabat ketua UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) ITB yakni PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan) – ITB. Tetapi belum mengenal langsung. Melainkan efek interaksi ‘internal’ sebuah studi grup, dimana tiga personalnya adalah mantan ketua PSIK – ITB yakni pak A. Hafidz, alm pak Sapto Kuntoro dan pak Sugeng Setyadi.

Studi grup itu bernama Perkumpulan Penggemar Buku, dibangun dan diawaki oleh 5 orang sebagai perintis sepanjang kurun waktu 1979 – 1980. Yakni terdiri ketiga persons yang sudah saya sebut terdahulu, pak Fachzenil (dari Unpad) dan saya sendiri.

Barulah sekitar pertengahan 1980, saya mengenal langsung pak Zukri Saad. Yakni dikenalkan oleh pak Sugeng Setyadi dalam rangka “program clandestin” kaderisasi aktivis mahasiswa ITB dan Unpad (untuk yang lebih junior dari kami) dengan metode “pendidikan andragogi”. Kaderisasi atau training tsb berlangsung sekitar dua minggu. Kami bertiga dan seorang lagi yakni pak Pudji Asmoro, turut mendampingi peserta training.

Setelah acara tsb, tenggang sekian bulan, saya dan pak Zukri Saad bersama beberapa teman terlibat dalam rangkaian program ‘jenis’ lain. Yakni program LSM. Tentu per program berbeda komposisi teman team, tapi saya dengan pak Zukri Saad bersama dalam satu team.

Dari serangkaian “kerja-kerja LSM” akhirnya sekitar bulan April 1982, beliau dan saya didapuk menjadi anggota Komite Pengarah pada Pertemuan Nasional ke dua dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Acara tsb berlangsung di Bandung, mengambil lokasi di kompleks gedung SECAPA AD – Hegarmanah, Bandung. Cukup banyak anggota Komite Pengarah-nya mewakili berbagai ‘spektrum’ problem lingkungan hidup di Indonesia. Jumlahnya berkisar 30an orang, a.l. ada Gus Dur, ada Sutjipto Wirosardjono, ada Nashihin Hassan, dan beberapa teman segenerasi usia. A.l. Rizal Malik, Pang Cu ( Toni Driyantono ), Falatehan Siregar, Sugeng Setyadi, alm Adi Mawardi, alm Arief Mudatsir dll.

Jelang akhir konggres kedua WALHI itu, beberapa anggota Komite Pengarah (termasuk Zukri Saad, Rizal Malik dan saya) serta beberapa peserta dari daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi membicarakan “membuat gerakan”. Gerakan tsb terkait dengan problem lingkungan hidup yang sedang mencuat kala itu. Ada tiga problem yang dipilih yakni kebakaran hutan, penyalahgunaan pestisida dan kelestarian trumbu karang.

Untuk kebakaran hutan, ada 12 orang sepakat mendirikan LSM untuk menaunginya. Dinamakan SKEPHI (Sekretariat Kerjasama Kampanye Pelestarian Hutan Indonesia). Untuk penyalahgunaan pestisida, ada 14 orang sepakat mendirikan LSM untuk menaunginya. Dinamakan SKRAPP (Sekretariat Kerjasama Anti Penyalahgunaan Pestisida). Untuk ‘problem’ yang ketiga, saya hanya ingat dideklarasi LSM tentang “program aksi kampanye perlindungan kelestarian trumbu karang”. Nama wadah LSM nya, mohon maaf lupa.

Dari ketiga LSM yang didirikan itu, pak Zukri Saad dan saya turut sebagai pendiri dan pengurus. Namun saya sendiri relatif hanya dua – tiga tahunan sebagai aktivis “generasi perintis” kedua LSM yakni SKEPHI dan SKRAPP. Sedang pada LSM ketiga hanya turut mendirikan atau mendeklarasikan.

Khusus untuk scope Bandung di tahun 1983 (setahun setelah mendeklarasikan SKEPHI dengan SKRAPP), dengan pak Zukri Saad, pak Djadjat Sudradjat, pak Subawanto dll. merintis gerakan tanam pohon peneduh dari jenis tanaman perintis untuk peruntukan ruas jalan ‘besar’. Karena saat itu ada ruas jalan baru (kemudian dinamai oleh pemerintah, jalan bypass Sukarno – Hatta) hampir dua tahun berfungsi, agak dibiarkan tanpa tanaman peneduh oleh pemerintah lokal setempat. Nama gerakan itu adalah KaTePe TekaB. Yakni akronim dari Kelompok Aksi Tanam Pohon Tanah Kosong sekitar Bandung. Program aksi fase pertama, tiap hari libur (Minggu) menanam jenis tanaman perintis untuk peneduh ruas jalan bypass Sukarno – Hatta, Bandung. Aksi berlangsung sekitar 3 – 4 bulan, setelah itu peran tsb dilanjutkan oleh suku dinas terkait dari pemerintah setempat.

Jadi perkawanan saya dengan pak Zukri Saad cukup intens dari pertengahan tahun 1980 hingga memasuki tahun 1984. Karena disertai dengan berbagai jenis program. Tetapi di pertengahan tahun 1984, saya mulai ada aktivitas lain di Jakarta. Sehingga mulai kurang intens berdomisili di Bandung. Fase ini mengurangi intensitas hubungan ‘fungsional’ saya dengan pak Zukri Saad. Akhirnya di tahun 1985, relatif saya tak ada lagi hubungan ‘fungsional’ dengan pak Zukri Saad. Karena mulai September 1985, ada aktivitas baru di Bandar Lampung. Yakni menjadi tenaga akademis di Universitas Lampung.

Walau demikian tetap saya ada aktivitas 3 – 4 bulan sekali ke Bandung. Itu berlangsung hingga 3 – 4 tahun. Dan kerapkali ada perjumpaan dengan pak Zukri Saad di basis LSM beliau di kota Bandung, yakni Yayasan Mandiri. Selanjutnya setelah tahun 1990 mulai jarang berjumpa beliau. Hanya di moment seperti menghadiri undangan perkawinan atau seminar tertentu berjumpa. Karena sama-sama berstatus sebagai undangan.

Namun walau jarang berjumpa, mulai tahun 2008 terjalin bentuk “hubungan baru”, yakni hubungan perkawanan melalui media sosial Face Book.

Kilas waktu, terakhir saya berjumpa pak Zukri Saad pada minggu ketiga bulan Januari 2020. Perjumpaan kami di Bogor. Yakni melayat teman lama alm Sapto Kuntoro, yang berpulang kerahmatullah. Bersamanya dan dengan pak Sukmadji Indro Tjahyono (dan istri), kami turut mengantarkan alm pak Sapto Kuntoro ke pemakaman di daerah perbatasan kabupaten Bogor dengan kabupaten Sukabumi.

Sepulang dari pemakaman, saya dengan pak Zukri Saad dan pak Sukmadji Indro Tjahyono kembali ke rumah alm pak Sapto Kuntoro. Kemudian dengan kendaraan pribadi pak Sukmadji, kami berdua turut serta dan turun di jalan Merdeka – Bogor untuk melanjutkan kembali ke Jakarta dengan KRL. Sedang pak Sukmadji (dan istri) melanjutkan perjalanan pulang.

Di stasiun Bogor, kami bernostalgia dulu di sebuah restaurant. Setelah itu naik KRL, turun di stasiun Karet Bivak. Kami berpisah disitu. Pak Zukri Saad melanjutkan jalan kaki, pulang ke apartement sekitar 400 meter dari stasiun. Dan saya naik gojek ke rumah singgah saya di Kemanggisan – Slipi.
Karena tak lama memasuki pandemi, ada agenda kita bertemu dibatalkan. Dan beberapa bulan belakangan pak Zukri Saad pindah domisili ke kota Padang.
Melalui medsos WA, pada akhir Juli 2020 beliau meminta saya menuliskan hubungan perkawanan kita. Menurut rencana akan dibukukan oleh keluarga dan temannya dalam satu bunga rampai. Yakni dalam rangka mencapai usia 65 tahun.
Selamat berulang tahun ke 65.

Jakarta – Bandar Lampung, 8 Desember 2020

————

Cahyono Eko Sugiarto, Alumni Fakultas Fisip Unpad dan S2 di .setelah pension menetap di Jakarta.

Adikku Zukri | Azmi Saad