Zukri Saad, Konco saya sejak dari Bandung

Oleh : Badrul Mustafa

Bercerita tentang tokoh kita yang satu ini, yang saat ini dikenal sebagai Uwan Sukri, tentu sangat banyak yang bisa dituliskan. Sebab, sangat banyak kenangan yang kami alami, sejak kami kuliah di ITB di tahun 1976, sampai hari ini. Dalam rangka menyambut usia 65 tahun Uwan Sukri, saya akan tuliskan beberapa kenangan saja dalam kebersamaan kami selama lebih 40 tahun ini.

Zukri Saad, yang panggilan populernya di kalangan pergaulan kami sejak sekitar tahun 2000 adalah Uwan, tidak saja merupakan teman se angkatan kuliah bagi saya di kampus Ganesha 10 Bandung, tapi lebih daripada itu. Ia bahkan sudah semacam saudara bagi saya. Selain berasal dari satu kampung di Banuhampu Kabupaten Agam, ternyata ayah kami juga sudah bersahabat, sejak lama. Persahabatan ayah kami baru kami sadari setelah kami berada merantau, dan sama-sama tinggal di asrama Banuhampu Jln. Cisitu Baru 16 Bandung. Selama di Padang sejak kecil sampai tamat SMA, kami tidak pernah bertemu atau dipertemukan. Padahal orangtua kami sama-sama aktif mengurus organisasi keluarga Banuhampu (Serikat Kematian Banuhampu yanh kemudian berganti menjadi Serikat Kesejahteraan Banuhampu) di kota Padang sejak tahun 1960-an, dimana ayahanda-nya H. Saad Malik pernah menjadi Ketua dan ayah saya H. Mustafa Kemal menjadi sekretaris.

Selalu bersama hampir sepuluh tahun lamanya kami di Bandung, sejak mulai kuliah dan sempat bekerja sebelum kembali ke Padang, tahun 1985. Selama itu pula kami sering seiring sejalan. Selain memiliki “markas” yang sama, yakni tempat berkumpul setiap hari para mahasiswa asal Nagari Banuhampu, kami juga sempat tinggal di asrama tsb. Mahasiswa yang berasal Banuhampu mendapat jatah tinggal di asrama selama setahun, setelah itu harus keluar. Biasanya mahasiswa tahun kedua, setelah keluar dari asrama, akan mencari tempat kos di sekitar asrama juga. Selain bisa selalu bersilaturrahim, paling utama dapat melihat surat yang datang dari kampung, khususnya wesel bulanan dari orang tua. Pada waktu itu belum ada internet, apalagi WA, facebook dll. Jasa PT. Pos dalam mengantarkan surat dari kampung, khususnya uang belanja dalam bentuk wesel pos sangat besar kepada mahasiswa di rantau. Karena itulah asrama mahasiswa Banuhampu menjadi permanen sebagai alamat tetap kami untuk surat menyurat.

Walaupun kami bertempat tinggal di tempat yang sama, tapi tidak semua kegiatan kami bersamaan. Kecuali kegiatan terkait dengan urusan ke-Banuhampu-an dan kelompok pemuda/mahasiswa Minang Bandung, banyak kegiatan kami yang berbeda komunitas. Di kampus ITB, Uwan Sukri aktif di unit PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan) dan UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan). Di PSIK ini berkumpul para mahasiswa yang punya interes ke hal-hal yang terkait terutama dengan permasalahan sosial dan politik. Banyak tokoh mahasiswa berasal dari unit PSIK ini yang kelak menjadi tokoh nasional seperti Rizal Ramli, Jusman S. Jamal, Ramles Manampang adalah di antara contohnya.

Untuk kegiatan wajib mengikuti dua UKM ini, suatu kali saya bertanya kepada Sukri, kenapa ia memilih unit UKSS. Waktu itu kami sebagai mahasiswa baru diwajibkan memilih dua unit kegiatan mahasiswa sebagai bagian dari kegiatan OS (Orientasi Studi) KM-ITB, sedangkan ia bukan orang Sulawesi Selatan. Jawaban beliau adalah dalam rangka mencari atau meluaskan pergaulan. Tapi ada juga celetukan beberapa teman, seperti meluaskan “jariang atau tangguak” – jaring red., karena yang dari Sulawesi Selatan banyak yang “bening” kabarnya. Mungkin sinyalemen teman ini ada benarnya juga, walaupun akhirnya tak ada yang terjaring. Yang terjaring akhirnya bunga yang bening dari Padang juga. Hehehee….

Adapun tentang saya, tahun pertama ketika diwajibkan untuk memilih dua UKM, saya memilih SEF-ITB (Student English Forum) dan UATM (Unit Aktivitas Tenis Meja). Di tahun-tahun berikutnya saya mencoba menambah kegiatan ekstra di Unit Beladiri Taekwondo dan STEMA (Studi klub Teater Mahasiswa). Selain itu saya juga aktif di Masjid Salman ITB. Jadi, meskipun kami sama-sama aktif di kegiatan ekstra kurikuler, tapi kami tidak pernah bergabung di dalam UKM yang sama. Karena itu kami jarang bertemu di dalam kampus. Beda gelombang, paling-paling interaksi singkat ketika berpapasan di Student Center saja.

Tapi saya akui Sukri sangat tinggi aktivitasnya di ekstra kurikuler ini, terutama di PSIK. Ia lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang terkait dengan Dewan Mahasiswa ITB. Itulah yang menyebabkan ia dan pada umumnya mahasiswa ITB yang porsi ekstra kurikulernya melebihi SKS perkuliahan, tamatnya lama. Apalagi PBM (Proses Belajar Mengajar) di ITB waktu itu belum selancar sekarang. Kondisi waktu itu, selain fasilitas yang kurang di sejumlah Jurusan dibanding jumlah mahasiswa, ada sebagian dosen yang punya jabatan penting di Jakarta, atau punya proyek di Sumatra, Kalimantan atau daerah lainnya, sehingga dosen seperti ini kadang-kadang datang ke kampus untuk mengajar kurang dari 50%. Saat itu pun ada sebagian dosen yang nilai mahasiswanya “rapat kanan”, alias banyak yang tidak lulus. Sehingga tidak heran jika para aktivis umumnya lulusnya lama. Tidak terkecuali Uwan Sukri.

Influencer dan pabrik ide adalah salah satu predikat Uwan Sukri, ia berkembang menjadi motivator, dalam arti mumpuni mempengaruhi orang lain. Istilah sekarang yang populer adalah sebagai influencer. Tapi tidak seperti istilah yang populer hari ini, dimana influencer berkonotasi lebih kepada pekerjaan yang memberi keuntungan pribadi dalam bentuk rupiah, Uwan Sukri melakukan itu karena baginya hal itu sudah menjadi kesukaannya. Uwan Sukri sering diminta untuk menjadi trainer dalam Latihan Kepemimpinan Mahasiswa dan Pemuda, tidak saja di Bandung, tapi juga di sejumlah daerah lain. Menurut beberapa teman, itu adalah mata air ideologisnya. Ia akan berkonsentrasi penuh melakukan aktifitas itu. Waktu itu belum dikenal trainer bayaran.

Salah satu bentuk keberhasilan dalam mempengaruhi orang adalah ada sejumlah istilah yang dimunculkannya kemudian menjadi populer di tengah komunitas. Yang paling penting tentulah banyak gagasan/idenya yang kemudian berubah menjadi kegiatan besar. Misalnya Latihan Kepemimpinan Pemuda/Mahasiswa Minang Bandung, Jambore Pemuda dan Mahasiswa Minangkabau di Cikole – Lembang. Jambore ini menjadi sangat fenomenal. Belum pernah kegiatan sebesar ini dilakukan di Bandung, bahkan di tempat lain, dimana saat itu hadir dua gubernur, yakni Gubernur Sumbar Azwar Anas dan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi. Di tempat perkemahan Cikole itu dihadirkan semacam perkampungan mini minangkabau, dengan berbagai kegiatan yang meriah, antara lain penampilan seni budaya minangkabau dan tak lupa kuliner Minang. Di sini diakui peran Uwan Sukri sangat sentral. Beliau merupakan aktor utama penggeraknya.

Hal lain yang dilakukan oleh Uwan Sukri adalah mendirikan LP-INS Kayutanam. Uwan Sukri berpikir bahwa INS Kayutanam yang didirikan oleh Moh. Syafei tahun 1926 adalah sebuah sekolah yang sangat bagus dengan konsep dan filosofi pendidikan yang unik, dimana murid bukan sebagai objek, tapi subjek. Setelah dilihat oleh Sukri INS mengalami kemunduran sepeninggal Engku Syafei, maka ia punya ide untuk membantu supaya INS Kayutanam kembali maju. Maka diajaklah beberapa tokoh mahasiswa dan pemuda minang Bandung ketika itu untuk mendirikan LP-INS (Lembaga Pengembangan INS). Saya sempat bergabung sampai September 1986 sebelum saya dikirim tugas belajar ke Perancis oleh pemerintah. Selama saya bergabung, kami sempat punya ruang kerja serta kamar tidur di kampus INS Kayutanam. Tapi sayang, LP-INS Kayutanam tidak berlanjut. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya. Saat saya pulang libur dari Perancis tahun 1989 LP-INS itu sudah bubar.

Selanjutnya, Sukri juga punya peranan besar dalam penerbitan Koran Mimbar Minang. Sejumlah wartawan top di Padang seperti Hasril Chaniago, Eko Yance Edrie, Muslih Sayan almarhum dan banyak lagi, didukung tokoh ICMI Sumbar mendirikan Koran Mimbar Minang. Uwan Sukri merupakan bagian dari penerbitan media yang memiliki idealisme tinggi ini. Ide-ide Uwan Sukri ikut mewarnai perjalanan Koran ini. Saya sempat menulis beberapa artikel di Koran ini. Tapi sayang, Koran ini hanya bertahan sebentar saja. Konon kabarnya Koran ini kekurangan suplai “darah”. Sebagai media baru, sebelum mapan tentulah ia membutuhkan suntikan dana yang cukup besar. Jika sudah mapan, maka ia akan bisa hidup tenang dengan adanya iklan. Karena kekurangan sponsor, maka koran idealis ini akhirnya mati suri. Itupun bertahan cukup dramatis, berkiprah 7 tahun lamanya dengan berbagai manuver yang membangkitkan kenangan.

Sebagai influencer/motivator generasi muda, tentu saja beliau sangat akrab dengan anak-anak muda. Salah satu dari sekian ide yang masih saya ingat adalah rapat nyentrik. Saya menamakannya rapat nyentrik karena diadakan di tengah malam, diawali pukul 00.00 WIB di kolam renang air panas Ciater, yang lokasinya 31 km dari kota Bandung, dan dekat ke puncak gunung Tangkuban Perahu yang sangat dingin. Rapat nyentrik ini kalau tidak salah membicarakan tentang Jambore yang disebutkan tadi. Uwan Sukri mengajak panitia Jambore untuk mengadakan rapat di kolam pemandian air panas di Ciater tsb. Bayangkan, rapat diadakan di tengah-tengah kolam pemandian, dilakukan oleh belasan peserta. Udara sangat dingin gunung Tangkuban Perahu tidak terasa karena anggota tubuh yang terendam merasakan hangatnya air panas. Uwan Sukri menyebutkan rapat itu selain mencari kesegaran, agar tidak monoton, sambil mencari bugar dan sehat melalui mata air panas gunung berapi. Itulah ide nyentrik dari Uwan Sukri.

Kami berkawan erat tapi suka berbeda pendapat. Dalam tradisi interaksi Minang di kenal dengan istilah “Konco arek lawan kareh”. Ada satu hal yang khas dalam hubungan kami berkonco waktu mahasiswa dulu. Walaupun sering bersama di markas/Asrama Mahasiswa Banuhampu dan di tempat kos, kadang-kadang kami berbeda pandangan dalam menyikapi sebuah persoalan. Dalam menyangkut kegiatan organisasi mahasiswa Banuhampu Bandung yang bernama GPB Bandung (Gerakan Pelajar/Mahassiwa Banuhampu), kadang-kadang kami bertengkar dalam rapat. Puncaknya pernah Uwan Sukri memukul meja, yang saya balas dengan memukul meja pula tak kalah kerasnya. Padahal kami pergi ke tempat rapat berdua berboncengan sepeda motor. Uwan Sukri memboncengkan saya. Selesai rapat yang panas dimana kami bertengkar itu, kami pulangnya tetap sama. Ia membawa sepeda motor, saya duduk membonceng di belakangnya. Lalu di tengah perjalanan ia sikut saya: “Ang baa kareh bana tadi? – Sikapnya kok keras sekali tadi”. Lalu saya balas balas pukul punggungnya: “Ang iyo lo mah? Ang nan kareh dulu – Sama kan, anda yang duluan memulai ”.

Begitulah kami. Tidak selalu kami sependapat dalam memandang suatu hal. Tapi keakraban kami tidak berubah. Bagi kami, berbeda prinsip/konsep dalam berorganisasi tidak merubah sikap kami dalam pergaulan sehari-hari. Ini yang disebut dengan istilah “konco arek lawan kareh – kawan dekat lawan setimpal”. Tapi sekarang “lawan kareh” sudah tidak ada lagi. Yang tinggal “konco arek”-nya saja. Bahkan keluarga kami, istri-istri dan anak-anak kami pun akrab satu sama lain. Sementara, ada orang ketika bertengkar dalam organisasi, besoknya tidak lagi bertegur-sapa. Jadi bermusuhan satu sama lain. Itupun terkadang mempengaruhi sikap istri-isteri dan anak-anaknya.

Saya di dalam memberikan kuliah biasanya mengambil sedikit waktu untuk bercerita tentang berbagai hal kepada mahasiswa saya di dalam kelas. Ini sering saya lakukan, selain memberikan jeda waktu untuk rileks dari hal-hal yang cukup rumit mengenai materi kuliah, juga memberikan bekal pengetahuan seperti soft skill. Nah, sering kisah saya dengan Uwan Sukri yang ketika bertengkar dalam rapat tapi tidak berubah sikap dalam pergaulan sehari-hari, saya sampaikan kepada mahasiswa sebagai sebuah contoh. Contoh bagaimana kita harus memisahkan hubungan dalam organisasi (dalam hal berbeda pendapat dan pandangan) dengan hubungan pribadi.

Selanjutnya, sebagai konco arek, dalam pergaulan sehari-hari di tengah komunitas kami tentu saja sering terjadi ledek-ledekkan. Bagi konco arek, ledekan (garah) yang bagi sebagian orang terasa keras atau kasar, dalam pergaulan kami hal itu biasa saja. Itu menjadi guyonan saja layaknya, bahkan bumbu penyedap dalam pergaulan. Demikianlah, masing-masing kami di dalam komunitas ini ada-ada saja yang menjadi bahan ledekan. Misalnya saya. Sejak direkrut Uwan Sukri masuk ke dalam kelompok yang mempersiapkan LP-INS bersama uda Arsyad Ahmad, bung Ciman (Irman Ismail), Zulfahmi Amir dll, salah satu julukan yang diberikan Uwan Sukri kepada saya adalah “Kandua”. Kandua artinya kendor. Lemah. Ledekan ini diberikannya kepada saya yang kemudian seperti diamini oleh yang lain berawal dari tidak kuatnya saya ikut rapat-rapat dengan waktu yang tidak teratur. Saya yang terbiasa hidup dengan pola teratur, baik makan maupun tidur, ketika rapat dilangsungkan malam, maka pukul 22.00 saya mulai mengantuk. Kadang-kadang rapat dimulai pukul 21.00. Saya inginnya rapat diadakan pagi atau siang, sedangkan malam waktu untuk beristirahat. Nah, ketika saya terkantuk-kantuk mengikuti rapat malam itulah mulai julukan kandua dilekatkan kepada saya. Hehee….

Kebersamaan kami dalam LP-INS ini menyisakan satu julukan lain kepada saya. Julukan tersebut adalah “takicuah guru SD”. Julukan ini muncul ketika dalam setiap makan, saya selalu paling “pincit” (terakhir) selesai. Makan apapun, kecuali bubur, saya selalu selesai paling akhir. Maka diberilah saya julukan sebagai orang yang “takicuah guru SD”, dikarenakan saya mengunyah lama, 32 kali, seperti yang diajarkan oleh guru di bangku SD dulu. Memang, sampai sekarang pun, kalau saya makan bersama dengan orang lain, saya selalu selesai paling terakhir. Saya memang sangat disiplin mematuhi ajaran guru SD dulu. Hehee….

Terakhir, meskipun saya dulu diberikan julukan kandua dan takicuah guru SD oleh Sukri, saya tetap tidak berubah. Saya sampai sekarang rata-rata tidur masih pukul 22.00 paling telat. Mengunyah makanan juga masih tetap 32 kali sebelum ditelan. Ada juga yang masih tetap, yakni panggilan saya kepada Uwan Sukri. Cara panggilan saya kepada beliau tidak berubah sejak saya mengenalnya, yakni “Ri”, atau Kri. Sebab, itulah nama panggilannya di rumahnya oleh orangtua dan kakak-kakaknya. Sulit saya menyesuaikan diri dengan panggilan barunya “Uwan”. Uwan Sukri.

Padang, 30 September 2020

————

DR. Ir. Badrul Mustafa Kemal DEA, Staf pengajar di Fakultas Tehnik Universitas Andalas – Padang, menetap di Padang. Menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan Geofisika ITB – Bandung; DEA dalam bidang Geofisika di Univ. Bordeaux I – France dan Doktor dalam bidang Geodinamika/Tektonik di Univ. Pierre et Marie Curie Paris – France. Banyak terlibat dalam bidang Lingkungan Hidup dan Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia (gempa, tsunami, dll), bekerjasama dengan BNPB, BPBD serta sejumlah NGO.

Adikku Zukri | Azmi Saad