Zukri Saad Namanya

Oleh : Lahmudin Yoto

Zukri Saad namanya. Putra kelahiran Bukittinggi – Sumatra Barat. Saya memanggilnya Zukri karena kelihatan usianya relatif lebih muda. Pertama bertemu dengan dia pada suatu forum yang diselenggarakan oleh Walhi Nasional di Bali, mempertemukan jaringan LSM se Sumatera dan se Sulawesi yang terlibat dalam program Learing and Linkage, disingkat program LELI. Sebuah program Kerjasama Jaringan LSM Walhi dengan Bina Swadaya dan PACT (Private Agency Collaborating Together – LSM dari Amerika Serikat). Pembiayaan program berasal dari lembaga dukungan pembangunan internasional – Amerika Serikat, USAID.

Program LELI mencoba membangun jaringan LSM yang aktif di bidang Lingkungan Hidup dan bersinergi dengan LSM yang bergerak di bidang Pengembangan Masyarakat. Idenya adalah pengembangan program konservasi alam berdampak ekonomi untuk masyarakat desa dan atau Kegiatan Peningkatan ekonomi masyarakat berdampak pelestarian lingkungan. Sinergi mana diperhitungkan akan menghasilkan program LSM lingkungan bermanfaat ekonomi yang merupakan bidang aktifitas jaringan Walhi, serta program ekonomi lokal berakibat pelestarian lingkungan yang menjadi kompetensi Bina Swadaya.

Wujud program adalah memfasilitasi LSM kecil yang bertumbuh di region Sumatera dan Sulawesi dengan berbagai pelatihan penguatan kelembagaan, pengelolaan keuangan lembaga dan aktifitas lapangan dengan dana hibah terbatas serta diharapkan bertumbuh spirit sinergi. Hilirnya, membuat jaringan kerjasama antar lembaga sehingga diperoleh sinergi potensi untuk konservasi dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Wilayah kerja di bagi empat region: Sumbagut – Sumbagsel dan Sulselra – Sulutteng. Sejak awal program waktu itu, Zukri telah menjadi koordinator wilayah Sumbagsel, meliputi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumsel dan Lampung.

Seingat saya, waktu itu Zukri adalah juga Presidium Walhi Nasional, mewakili wilayahnya Sumbagsel. Namun, kenegarawanan Zukri terlihat menonjol sekali. Dia sibuk mengatur jalannya acara, sehingga setelah lokakarya Zukri dikenal oleh seluruh peserta lokakarya dari kedua pulau besar di Indonesia. Keterkenalan yang entah disengaja atau tidak, sangat membantunya memperoleh dukungan suara penuh dari kedua pulau waktu pemilihan Pimpinan Walhi Nasional pada 1992. Seingat saya pula, dalam Pertemuan NAsional Walhi yang diadakan sekali tiga tahun itu, dia mendapat dukungan 19 Propinsi dari 21 propinsi yang hadir. Itulah berkah menumbuh-kembangkan jaringan LSM se Sumatera dan Sulawesi.

Sejak Lokakarya LELI di Bali itu, kami semakin sering berinteraksi, baik secara langsung tatap muka, maupun lewat telepon, dan tulisan di Facebook. Zukri berkali-kali datang ke Palu, dalam rangka berbagai program untuk meningkatkan kemampuan advokasi anggota jaringan didaerah Sulawesi Tengah, khususnya advokasi masyarakat Lindu dari ancaman rencana pembangunan PLTA Lore Lindu. Beberapa kali Zukri turun ke lokasi, bertemu dengan masyarakat Lindu di enklaf Taman Nasional untuk memimpin advokasi. Akhirnya, sampai kini PLTA itu tak kunjung dibangun, tersebab advokasi nasional dan internasional Walhi yang dapat dikatakan berhasil.

Salah satu prosesnya, dalam rangka pengembangan wawasan masyarakat di 4 desa enklaf dalam Taman Nasional Lore Lindu itu, Zukri berupaya membuat program studi banding masyarakat Lindu ke Kedung Ombo – Jawa Tengah. Pembangunan bendungan besar Kedung Ombo telah menenggelamkan ribuan hektar lahan, wilayah desa-desa berupa pemukiman, lahan sawah, kebun serta berbagai sarana lainnya telah tenggelam. Masyarakatnya diikutkan dalam program transmigrasi. Studi banding yang menggugah masyarakat Lindu untuk makin yakin harus menolak keberadaan PLTA.

Sekitar 15 tahun kemudian, Zukri tiba-tiba muncul di Palu. Ada apa gerangan ? Rupanya Zukri menjadi anggota Dewan juri penghargaan Kalpataru, yang mengunjungi wilayah kerja seorang jagawana yang sedang diusulkan menjadi penerima penghargaan. Zukri berkunjung ke Kabupaten Sigi, melihat kegiatan konservasi di habitat burung maleo (Macrocephalon Maleo) yang dilindungi. Burung endemik Sulawesi Tengah ini merupakan burung cerdas karena selalu membuat sarang palsu, untuk pertahanan bitatnya. Burung Maleo diperhitungkan terancam punah bila tak dilakukan pelestarian.

Zukri kawan saya ini tak pernah berhenti berpikir dan menawarkan gagasan. Di usia lansia muda, ini Zukri tetap sarat gagasan orisinil. Salah satu yang saya dengar, di Sumbar dia ingin mengembangkan kebun bambu berbasis nagari, nama lain dari desa. Bila nagari-nagari memiliki lahan yang cocok, ia menawarkan kebun bambu di lahan ulayat, yang kelak akan mendukung kebutuhan kayu nasional. Ia meyakini 60 juta kubik kebutuhan akan kayu nasional perlu diantisipasi.

Zukri melihat, riset pemuliaan bambu di Yogyakarta telah berhasil melakukan pemuliaan. Bibit bamboo terpilih bias diproduksi jutaan unit pertahun. Teknologi pengolahan bambu untuk menjadi papan dan balok tersedia dan bisa dibeli. Ada produsen Jepang, Korea dan China yang memperoduksi mesin pengolah bamboo menjadi berbagai produk akhir.

Pikiran ekonomi berbasis lingkungan telah melekat pada setiap tindakannya. Setiap langkah diayunkan, ada semangat mengatasi kemiskinan dan berdampak konservasi alam. Zukri ingin mewariskan alam yang makmur-lestari untuk generasi ber-generasi. Itulah Zukri, teman baik saya dari Sumatera Barat.

Palu – Sulawesi tengah, 13 Agustus 2020

————

Lahmudin Yoto, aktifis senior dari LSM Tanah Merdeka yang beraktifitas di Sulawesi Tengah. Menetap di Palu sambil terus konsisten beradvokasi untuk pelestarian Lingkungan Hidup dan advokasi tanah untuk rakyat Indonesia.