Zukri Saad, Pejuang Masyarakat, Pahlawan Keluarga

Oleh : Melani Budianta

Mungkin judul ini terdengar bombastis, tapi begitulah kesan dan pengalaman pribadi saya terhadap satu sosok manusia bersama Zukri Saad, lelaki kelahiran BUkittinggi tahun 1955 ini.  Saya mengenalnya dari suami saya, Eka Budianta, ketika terpilih menjadi Ashoka Fellow, penghargaan dari Ashoka Internasional untuk innovator publik di berbagai belahan dunia,  di tahun 1986.  Pada waktu itu di antara lima orang yang terpilih, Soekirman, pembina petani di Sumatra Utara, dan Zukri Saad yang saat itu memimpin Lembaga Pengembangan – Sekolah INS Kayu Tanam di Sumatera Barat. Setelah itu, hubungan personal kami terjalin dan berkembang menjadi persahabatan yang erat.

Di antara ketiga penerima penghargaan Ashotka itu, hanya Zukri yang belum berkeluarga pada waktu itu. Mobilitasnya paling tinggi dan ia rajin mengunjungi sahabat-sahabatnya. Tapi saya baru bertemu dengannya sesudah kami sekeluarga pulang dari Amerika Serikat di tahun 1992. Saya melihatnya sebagai aktifis yang “militan” dan sangat peduli pada implikasi sosial setiap keputusan yang diambil.

Ketika menanyakan tentang topik disertasi saya, tentang karya Stephen Crane dan kondisi Amerika di tahun 1890an, Zukri tak dapat menahan rasa herannya: “manfaatnya apa ya, untuk masyarakat Indonesia?”   Saya lupa apa jawaban saya waktu itu. Mungkin tentang pentingnya perspektif kritis dalam menyikapi persoalan bangsa, dan bagaimana persoalan rasial di era 1890an di Amerika dapat menjadi cermin kondisi global di tahun 1990-an.  Jelas pertanyaan itu menunjukkan komitmen sosial dan nasionalismenya yang besar.

Ketika Zukri kemudian menjadi salah satu Direktur WALHI di tahun 1993, terhembus gosip bahwa PT Freeport akan tawari kerja pada pejuang-pejuang lingkungan seperti dia.  Saya ingat pernah menanyakan, apakah Bang Zukri akan tergiur? Dengan tegas ia mengatakan tidak, berapapun besar nilai imbalannya. Pada waktu itu, Zukri masih membujang. Akankah keteguhannya bertahan setelah ia berkeluarga?

Pada 25 Juni tahun 1994, Zukri menyunting seorang gadis Batak, bernama Irina Mastri Chairina Harahap. Suami saya pun berangkat ke Padang untuk menghadiri acara yang penting itu. Betapa tidak. Zukri Saad, Sang Bujangan Sejati akhirnya melepaskan status lajangnya di usia ke 39 tahun.Setahun kemudian, di bulan Juni 1995, Zukri berhasil membujuk kami untuk  mendatangkan sebuah rumah kayu dari desa bernama Meranjat di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan untuk didirikan di lahan kosong yang kami miliki di Pancoran Mas – Depok.

Sebelumnya, setiap kali suami saya mengajak Zukri berkunjung ke tanah seluas 1250m2 itu, mereka duduk berteduh di atas tikar di bawah pohon-pohon jambu yang kurang rindang. Timbul gagasan untuk membuat pondok kayu untuk berteduh.  Suami saya pun berangkat bersama asisten kami bernama Naman, diantar Zukri untuk memilih sebuah rumah panggung berbentuk limas seluas 42 meter persegi  di desa Meranjat, tempat penduduk memproduksi rumah-rumah panggung dari kayu yang disebut sama dengan nama desanya.

Setelah sampai pada kesepakatan, suami saya pulang ke Jakarta, dan Naman tinggal di desa itu untuk membantu penduduk membongkar dan mengangkut rumah itu ke Jakarta.

Dalam waktu beberapa hari, Naman telah sampai kembali ke tanah Beji, bersama 3 orang dari desa Meranjat, dengan sebuah truk yang membawa balok-balok kayu meranjat yang sudah diberi nomor dan tanda. Dalam waktu 3 hari, rumah panggung dari desa Meranjat itu sudah berdiri di pojok yang menghadap ke Utara.

Kami baru muncul setelah rumah itu berdiri, dengan uang pinjaman Rp 9 juta untuk menutupi harga rumah dan ongkos perjalanan.  Itulah “hadiah” dari Zukri Saad, yang sampai saat ini masih kami nikmati.  Zukri pernah dua kali menginap di rumah panggung Depok itu. Yang pertama bertiga bersama suami saya dan Sukirman, tentunya di sela salah satu acara Ashoka di Jakarta.

Setelah itu, waktupun berlalu dan kami semua disibukkan dengan kegiatan yang menyita waktu dan perhatian. Zukri, lulusan ITB yang sempat menjadi Ketua Dewan Mahasiswa di tahun 1980 itu menjadi Penasehat dan Dewan Pengurus 7 LSM di Medan, Palembang dan Jakarta.  Ia juga menjadi Ketua Kelompok Tani Kabogi (Kelompok Agribisnis Rimbo Tinggi) dan menjadi Komisaris di berbagai koperasi / perusahaan untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan dan pembangunan kemasyarakatan yang menggabungkan isu konservasi dan ekonomi.

Sementara itu, keluarganya pun bertambah. Zukri dan Irina diberkahi tiga anak, yakni Jaka Kelana Putra, Rindu Aninditha Putri dan Dana Putra Kembara. Nama “Anindhita” merupakan nama pemberian suami saya.

Di awal tahun 2003, kami mendapat berita kurang baik. Dana, putra bungsu yang berusia 4 tahun terkena Luekemia Lifmositik Akut atau kanker darah.  Untuk pengobatannya,  Zukri dan Irina menemani Dana selama 104 hari di RSCM, dan selama tiga tahun berikutnya berobat rutin. Jadi perjalanan Jakarta-Padang rutin dilakukan selama itu. Syukurlah berkat doa, iman dan kesabaran kedua orangtuanya, Dana pulih dari penyakitnya. Di situ kami menyaksikan peran Zukri dan Irina yang sangat luar biasa untuk membesarkan hati anaknya.

Tapi ujian sebagai ayah tidak berhenti di situ.  Di bulan September 2009 gempa berskala 7.6 Richter menggoncangkan gedung-gedung di Kota Padang.  Kami mendengarkan berita dengan cemas, tetapi menjadi lemas  ketika menerima telpon dari Zukri, kira-kira pukul 5 sore.  Gedung bertingkat tiga STBA Yayasan Prayoga, Padang, tempat ketiga anak Zukri sedang berlatih beladiri Aikido di lantai teratas sebagai persiapan naik tingkat ke sabuk biru, runtuh rata dengan tanah.  Berikut ingatan Zukri tentang peristiwa 11 tahun yang lalu:

Setengah jam sebelumnya, saya antar mereka ke lokasi. Setelahnya saya pergi ngopi ke GOR  Agus Salim karena diajak ngobrol oleh Bung Edy Utama. Biasanya saya tunggu di mobil karena ada AC, sambil buka internet untuk balas surat dan baca berita.  Seandainya saya di sana, tentu sudah tertimpa reruntuhan 3 lantai.

Zukri tidak ingat lagi, kekuatan apa yang menghinggapinya, ketika ia menghambur untuk menyelamatkan anak-anaknya di antara puing-puing yang bertumpuk di atas tanah itu. Menurut akal sehat, tak mungkin seorang manusia sekuat apapun dapat mengangkat dan membongkar beton, dan balok. Tak mungkin juga tiga orang anak bisa selamat dari reruntuhan itu.  Nyatanya Zukri berhasil menemukan dan mengangkat ketiga anak nya, yang cedera dan menderita patah tulang di sana sini, tetapi ketiganya selamat.

Dalam ceritanya di kemudian hari, Zukri mengingat jasa serombongan tukang urut yang datang sukarela dari Cimande – Sukabumi. Mereka mengobati hanya dengan tangan mereka saja, dan menyembuhkan banyak korban. Imbalan yang diberikan orang kepada mereka dikumpulkan dalam kain putih yang diikat di pinggang mereka. Semua hasil sumbangan itu kemudian dikembalikan lagi oleh para suhu dari Cimande ini  pada masyarakat.  Banyak keajaiban terjadi di tengah bencana besar itu, dan kesaksian Zukri dan keluarganya sungguh menguatkan iman kami akan kebesaran-Nya.

Nampaknya peristiwa-peristiwa terkait dengan anak-anaknya itu merupakan titik balik yang penting dalam hidup Zukri.

Kejadian-kejadian itu menyadarkan saya akan tanggung jawab seorang ayah terhadap anak-anaknya. Itu pulalah yang menjustifikasi sikap saya untuk mundur dari pencalonan gubernur Sumatera Barat.

Ia seperti diingatkan, bahwa “tanggung jawab untuk 3 anak saja belum saya lakukan dengan maksimal. Bagaimana saya mau mengambil tanggung jawab untuk 5 juta penduduk Sumatera Barat?”  Padahal untuk persiapan pencalonannya ia sudah “membangun basis di kalangan petani dan penyuluh pertanian di delapan kabupaten” mulai tahun 2009 untuk persiapan pilkada tahun 2010.

Zukri Saad tidak berubah. Ia tetap seorang yang konsisten memperjuangkan kepentingan orang banyak. Hanya, ia lebih realistis, dan secara bijak mencari solusi yang saling menguntungkan, baik untuk pemodal maupun petani dan penggarap lahan.  Ketika Zukri Saad memutuskan untuk bekerja sebagai konsultan bidang resolusi konflik dan hubungan para pemangku kepentingan, untuk pemenuhan regulasi di bidang lingkungan  PT Sinar Mas di tahun 2016-2020, banyak aktifis melontarkan kritik yang keras.  Bagaimana mungkin aktifis teras WALHI melayani kepentingan konglomerasi?

Zukri tidak main-main dalam melaksanakan tugasnya. Dalam waktu 5 tahun ia menyelesaikan hampir 200 konflik pertanahan. Ia memberikan pelayanan, pelatihan untuk staf lapangan dan yakin betul bahwa mendukung perkebunan sawit berkelanjutan artunya memberdayakan 10 juta  petani tanaman industry minyak nabati itu. Usaha Zukri dan tim untuk membuat industri mengikuti semua standar dan persyaratan nasional dan internasional membuat harga komoditas menjadi naik.  Akibatnya ekspor Indonesia yang semula sering ditolak, malahan meningkat harganya. Harga minyak sawit yang memenuhi standar yang diberlakukan, nyaris 3 X harga pasar.

Bagi Zukri sendiri tidak ada prinsip yang harus dikorbankan. Tambahan pula, ia mempunyai prioritas, untuk bertanggungjawab secara ekonomi bagi keluarganya. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan posisinya untuk hal itu.  Setelah menunaikan tugasnya, Zukri berniat untuk menetap lebih ajeg di Padang. Ia menyebut sebagai kembali merantau ke kampung halaman jilid 3. Ia  berencana akan membantu putra bungsunya untuk mengolah dan mengembangkan peternakan ayam organik.

Selamat berulang tahun ke 65, Bang Zukri Saad. Teruslah menginspirasi kami semua sebagai pejuang masyarakat dan pahlawan keluarga.

Jakarta, 31 Agustus 2020

————

Prof. Dr. Melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menetap di Jakarta. Menyelesaikan pendidikan S3 di Cornell University

Adikku Zukri | Azmi Saad