Zukri Saad – Sang Petualang, Sekali Tebas Langsung Putus

Oleh : Rusdi Bais

Menetap di perantauan bertahun-tahun – bahkan hingga akhir ayat, sesuatu yang biasa bagi orang Minang. Tetapi, merantau lalu tiap sebentar pulang kampung,  memang tak lazim. Apalagi rantau yang ditujupun sangat variatif, mulai dari segenap provinsi di Tanah Air hingga manca negera: Benua Asia, Eropah, Amerika dan Afrika.

Itulah sosok Zukri Saad – biasa dipanggil Uwan Sukri, tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang telah melanglang-buana di banyak provinsi di Indonesia dan puluhan negara di dunia. Lebih banyak memanfaatkan usianya di rantau, mulai dari usia muda, berstatus bujangan hingga bekeluarga dan masih belum berakhir hingga kini. Profesi seperti itu, Uwan Zukri menyebutnya lebih keren dengan “Galeh Babelok”. Istilah yang digunakan oleh pedagang tradisional di Minangkabau, yakni berjualan keliling kampung ke kampung. Pasar tradisi satu ke pasar lainnya. Itulah, Entah sampai kapan akan dilakoninya.

Karena itu, bagi saya, Zukri Saad adalah petualang tulen. Berpisah dengan keluarga, meninggalkan isteri dan anak-anak bagi saya, sungguh sangat berat. Nah, itulah yang dialami Uwan Zukri, meski yang dicari itu justru untuk keluarga juga. Ya, demi masa depan keluarga. Sungguh, sesuatu perjuangan yang amat berat.

Hebatnya, keluarga-pun tetap terayomi. Pendidikan anak-anak berjalan lancar hingga ke perguruan tinggi dan lulus dengan hasil memuaskan. Ketiga anaknya sukses dari perguruan tinggi ternama dan sudah berkiprah di dunia kerja di usia masih sangat muda. Di luar rumah tangga, menabur benih kebajikan terus berkelanjutan, baik dalam bentuk gagasan memajukan ekonomi masyarakat, peduli lingkungan, termasuk memasyarakatkan produk pertanian organik yang menjadi komitmennya sebagai praktisi lingkungan hidup. Begitu pula, ia tak segan kontribusi terhadap penyiapan anak-anak muda pencinta alam tangguh.

Maka tak  mengherankan, Uwan Zukri menjadi sangat populer,  bahkan sebagian menjadi idola segenap kawula muda pencinta alam. Namun jejaring ke berbagai lembaga, instansi pemerintah, secara personal pun terus berkembang, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam artian, kenalan Uwan Zukri, mulai dari petani kecil hingga pejabat tinggi di negeri ini dan luar negeri.

Berani, karena memilih jalan hidup berbeda dengan orang kebanyakan. Itulah tekad yang sudah ditancapkannya sehabis kuliah, saat usai wisuda. Banyak rekan-rekan seangkatan lulusan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia mengidolakan profesi pegawai negeri, merintis karir birokrat atau menjadi pekerja profesional, namun Uwan memilih jalan sendiri, bergiat sebagai aktifis LSM. Profesi yang penuh resiko di akhir tahun 80-an.

Saya kenal Uwan Zukri pertengahan tahun 1991, ketika masih aktif di jaringan LSM Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dan tinggal sekaligus berkantor di jalan Damar Padang. Saat  itu saya  sedang mencari tokoh LSM minta tanggapan  eksploitasi terumbu karang di perairan Sumatera Barat oleh perusahaan swasta yang berkantor di Jl. Hayam Wuruk Padang.

Sorotan atau protes dari berbagai instansi sudah bermunculan, rata-rata diterbitkan di halaman depan di Harian Singgalang yang terbit di Padang. Sorotan dan protes itu, mulai dari Walikota Padang Syahrul Udjud, Ketua DPRD Sumbar Kolonel  (Pol) Purn. Bulkaini BA, Ketua Komisi D DPRD Sumbar Burhanudin Putih, Kepala Dinas  Pariwisata Sumbar  Hawari Siddik, Kakanwil Parpostel Sumbar Djanu Ismadi Djohari,   Pengurus ASITA Sumbar diwakili Sekretarisnya Jefrizal Syukur Dt. Paduko Rajo, Dinas Perikanan Sumbar Ir. Gusti Arsal,  Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta Padang dan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Pariwisata Joop Ave.

Ternyata, reaksi itu semua masih belum mangkus. Gubernur Drs. H. Hasan Basri Durin tak bergeming. Perusahaan swasta yang telah mengekspor sembilan kontainer terumbu karang ke Jepang dan Amerika Serikat itu, masih terus mengambil terumbu karang di perairan Sumatera Barat. Bahkan telah menyiapkan empat container lagi  terumbu karang  untuk segera di ekspor ke Jepang.

Memang, terumbu karang saat itu masih belum banyak dikenal masyarakat, termasuk wartawan sendiri.  Berita kasus terumbu karang pertama kali muncul di koran Singgalang, menjadi berita utama di halaman depan edisi Minggu, 14 Juli 1991, berjudul “Bunga Karang , Primadona yang Bakal Punah” .

Sejak itu, beritanya terus dikembangkan. Tujuannya, eksploitasi aset wisata bahari bernilai tinggi itu harap segera dihentikan.  Stop eksploitasi terumbu karang. Sorotan dan protes bermunculan, tetapi tak mempan. Inilah yang sangat mengkhawatirkan.

Di saat saya hampir putus asa mencari nara sumber yang kompeten untuk memperkuat daya gedor pemberitaan, tiba-tiba saya diberitahu teman bahwa ada seorang tokoh LSM yang patut diminta tanggapannya. Teman tersebut menyebut nama Zukri Saad, aktivis Walhi, tinggal di Jl, Damar Padang.

Informasi ini bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Hari itu juga saya menemui Zukri Saad di Jl. Damar. Mengesankan, bicaranya ceplas-ceplos dan tangkas. Tatapan matanya tajam dan cenderung beringas. Pernyataannya saat ditemui sungguh di luar dugaan. Keras, tegas dan mengancam. Bunyinya kira-kira begini ,” Eksploitasi terumbu karang di perairan Sumbar harus segera dihentikan. Apakah eksportir itu punya izin atau tidak, saya tidak peduli. Pokoknya, hentikan pengambilan terumbu karang dari perairan Sumbar. Pak Gubernur harus tegas. Kalau tak digubris, saya akan surati teman-teman aktivis Greenpeace di Amerika dan Jepang agar produk kelautan Sumatera Barat lainnya dicegat  untuk masuk ke Jepang dan Amerika”. Siapkan boikot konsumen negara maju untuk produk asal Sumatera Barat !!.

Ancaman Zukri Saad ini saya tulis dan tampil di halaman depan Harian Singgalang esok harinya. Berita itu, menggelegar, menyambar Rumah Bagonjong (kantor Gubernur Sumbar). Gubernur Sumbar segera memerintahkan Sekwilda Sumbar Drs. Karseno MS memimpin rapat guna membahas berita ini.

Rapat yang dipimpin Karseno pada 11 November 1991 itu, memutuskan bahwa izin pengambilan terumbu karang  perusahaan swasta yang berkantor di Jl. Hayam Wuruk No.10 E Padang, yang diperoleh dari Kanwil Dep. Kehutanan Sumbar yang telah direkomendasikan oleh BKSDA Sumbar tanggal 10 November berlaku hingga 31 Desember 1991 tidak diperpanjang lagi.  Dengan demikian, kata Kepala Biro Bina Pengembangan Daerah Setprov Sumbar Drs. Alimin Sinapa, masalah eksploitasi terumbu karang di Sumatera Barat telah selesai.

Dari uraian di atas dapat dibayangkan, betapa besarnya pengaruh seorang Zukri Saad waktu itu. Sekali tebas, langsung putus. Bagi saya sebagai seorang wartawan, Zukri Saad tak akan saya lepas begitu saja. Dan akhirnya saya lebih dekat dengan putera Agam alumnus Institut Teknologi Bandung ini, setelah bergabung melalui Koperasi Ekuator Minang Media yang menerbitkan Koran Harian Mimbar Minang tahun 1999. Uwan Zukri Saad menjadi Ketua Koperasi merangkap Dewan Redaksi dan saya sebagai wartawan-nya.

Nah, dalam perjalanan waktu, tahun berganti, matahari telah condong ke barat. Namun tradisi Galeh Babelokyang telah mendarah daging bagi Uwan Zukri tampaknya masih akan belum berakhir. Sampai kapan? Bukankah tahun ini menapak usia 65 tahun ? Hanya waktu yang akan menjawabnya.*

Padang, 17 Agustus 2020

————

Rusdi Bais – Wartawan Senior dan Penulis Buku, menetap di Padang. Mengawali karir jurnalistik sebagai korensponden Harian Singgalang di Kualalumpur, lalu keterusan menggeluti profesi jurnalistik melalui berbagai media cetak di kota Padang. Berkali-kali meraih peringkat di berbagai kejuaraan karya jurnalistik bidang Lingkungan hidup, Pariwisata dan Koperasi. Menerima penghargaan Pemerintah RI Adikarya Pariwisata, Bhakti Koperasi dan Tanda Kehormatan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo pada 21 Juli 2016. Terakhir, pada 7 Agustus 2020, memperoleh penghargaan Pin Emas dari Walikota Padang sebagai Penggerak Koperasi dan UMKM pada Peringatan Hari Jadi Kota Padang ke 351.

Adikku Zukri | Azmi Saad