ZUKRI SAAD, Selalu Hidup Merdeka

Oleh : Armizen Wahid

Perkenalan pertama saya dengan Abang Ir. H. Zukri Saad bermula ketika beliau hadir di Kantor LBH Padang sebagai Narasumber dalam acara HUT YLBHI, persisnya saya lupa, tapi dalam tahun 1987 – 1992, semasa saya masih sebagai Pembela Umum di LBH Padang. Kesan saya, Abang seorang idealis, humanis, sayang Amai dan kemudian tiba waktunya harus realistis mengantisipasi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungjawabnya.

Abang sebagai Seorang Idealis
Abang Sukri hadir di HUT YLBHI, mewakili LSM Yayasan Insan 17 yang dipimpinnya. Selanjutnya efektif disebut sebagai Abang saja. Dari bisik bisik tetangga, waktu itu beredar cerita bahwa Abang baru saja cabut dari Lembaga Pengembangan INS Kayutanam (LP-INS), sebuah lembaga otonom dibawah Yayasan Badan Wakaf INS Kayutanam. Dikatakan bahwa dalam waktu yang tidak lama memimpin LP-INS Kayu Tanam, Abang cs. berhasil menjalin kembali kerja sama antara INS Kayutanam dengan badan dana Internasional, salah satunya yang saya ingat namanya NOVIB dari Belanda. Tapi entah kenapa kemudian Abang hengkang meninggalkan INS Kayutanam (barangkali saja karena terlalu idealis).

Tampil sebagai Narasumber di HUT YLBHI, Abang berpidato dengan sangat meyakinkan; muda, energik, suara lantang dan full ekspresi (maklum produk baru keluar fabrik/ITB, masih panas dan usia 30-an), menguasai masalah, duduk di pojok kanan depan (otomatis Narasumber yang lain berada disebelah kiri). Saya sangat ingat Abang bicara isu lingkungan hidup dengan kalimat pembuka yang bernada risau.

Setelah memaparkan pengamatannya yang dihubungkan dengan teori teori serta pengetahuannya sebagai mantan Sekretaris Eksekutif SKEPHI (Jaringan LSM yang bergerak membangun isu pelestarian Hutan Indonesia) , Abang berpendapat, apabila tidak ada pengelolaan yang baik, maka hutan di Sumatera Barat akan habis dalam tempo 25 tahun kedepan – mengingat waktu itu marak penebangan hutan oleh HPH di Kepulauan Mentawai dan Sijunjung. Seiring dengan pembukaan perkebunan besar sawit dan industri di Kabupaten Pasaman Barat dan kabupaten Sawahlunto/ Sijunjung.
Menurut Abang, hutan akan menjadi gundul, hewan akan punah dan pada akhirnya akan terjadi berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya yang akan merugikan masyarakat di nagari-nagari. Ramalan yang akhirnya terbukti, dengan berbagai bencana alam menimpa Indonesia sejak 20 tahun terakhir.

Keseharian Abang selama berdomisili di Sumatera Barat fokus ber-LSM ria. Ditengah tidak pastinya sikap aparat keamanan terhafap gerakan non-pemerintah waktu itu, Abang berhasil membuat jaringan aktivis LSM Sumatera Barat dan Forum LSM Regional Sumatera. Masa itu kegiatan LSM sangat banyak, tentulah berkaitan dengan sumberdaya alam dan dampak lingkungan.

Kegiatan yang pernah saya ikuti, baik di Sumatera Barat dan juga di luar propinsi, diantaranya adalah Pertemuan Aktivis LSM Regional Sumatera Barat di Painan. Ada cerita menarik waktu hadir di forum Lokakarya Painan itu, karena satu satunya peserta yang pakai dasi adalah saya. Rupanya dasi adalah benda tabu dan dikecam bila dipakai aktivis LSM. Maklum dikalangan aktivis LSM masa itu viral istilah anti kemapanan, sedangkan orang yang pakai dasi dicap sebagai orang yang telah mapan.

Saya datang dipertemuan formal LSM itu pakai dasi, karena biasa sehar- hari dalam melakukan tugas Pembelaan Umum di LBH Padang harus tampil rapi dan tidak boleh santai pakaian kaos. Lagi pula waktu itu saya baru selesai mengikuti Penataran P4 Pola 120 jam di BP7 Sumbar, forum yang mengharuskan pesertanya tampil necis dan rapi berwibawa. Saat itu saya tidak tahu tata tertib berpakaian di pertemuan LSM. Karena banyak yang mentertawai saya, dasi jadinya hanya saya pakai pada sesi acara pembukaan. Sesi berikutnya sampai akhir acara, dasi tidak lagi saya gunakan.

Di acara lain setelah itu, di Diklat PU Tahura, di Proyek Plasma I Pasaman Barat dan Balittan Sukarami Solok, saya selalu ditanya Abang sambil senyum simpul : “dasinya mana ?”.

Pernah pula kami melakukan aktifitas lapangan “Konservasi Bersama Masyarakat” di laggai Sinakak Kecamatan – Pagai Selatan – Kepulauan Mentawai. Kalau tidak salah sekitar pertengahan tahun 1989. Disana terdapat 4 macam primata endemik, sejenis kera berukuran tubuh kecil, yang hanya hanya ada di Kepulauan Mentawai dan tidak ditemukan dibelahan dunia lain. Kera-kera ini berkualifikasi sngat langka sesuai ketentuan CITES.

Di pulau Pagai Selatan ini kami menemukan jejak peneliti asal Amerika, DR. Richard Tenaza, yang cukup lama meneliti keberadaan primata itu dan menginformasikan kepada dunia ilmu pengetahuan. Kami temukan dermaga kayu sekaligus jalan masuk dari arah sungai kedalam hutan melewati pohon bakau dan hutan yang sangat rimbun, sisa aktifitas penelitiannya. Itulah, belakangan bila orang ingin tahu tentang 4 species primata endemik itu, nama Richard Tenaza selalu diperhitungkan.

Sampai saat ini, belum terdengar peneliti Indonesia yang mengikuti jejak penelitiannya, mungkin karena sudah keduluan peneliti asing, atau tidak cukup bernyali untuk tinggal di hutan Mentawai berlama-lama. Richard berbilang tahun meneliti primata di pulau-pulau besar sepanjang gugusan kepulauan Mentawai.

Abang banyak mendorong kelahiran kelompok swadaya, sehingga bermunculan LSM dengan isu yang beragam, mulai isu lingkungan hidup, hukum, ekonomi, pertanian, perkebunan dan perikanan. Belakangan ikut muncul isu perempuan/ gender, HAM, energy, pencemaran dan lain-lain. Bahkan pada periode awal tahun 90-an itu juga muncul isu ekonomi rakyat, dimana Abang ikut mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bersama ekonom DR. Sritua Arif, yang sejak lama menggeluti isu ekonomi untuk masyarakat marjinal.

Legalitas kelompok swadaya tampaknya tidak terlalu jadi pertimbangan para aktifis. Tidak ada akta pendirian, tidak terdaftar di instansi pemerintah, yang penting ada orangnya dan ada kegiatannya, lalu buat sajalah nama kelompok itu, seperti kelompok saya Forum Limbago Mudo. Intinya, perlawanan terhadap struktur kekuasaan sekaligus menunjukkan semangat anti kemapanan.

Saya bersyukur berkegiatan LSM bersama Abang, pergaulannya yang luas membuat saya dan yunior yang lain dapat berkenalan dengan banyak orang hebat Indonesia. Sebut saja diantaranya Menteri Lingkungan Hidup terpopuler Emil Salim, Dawam Raharjo, Fachri Ahmad, Takdir Rakhmadi, Kartjono, Tini Hadad, Zumrotin, Nursyahbani Katjasungkana, Zulkarnaen. Ada juga tokoh media seperti Debra Helen Yatim dan Sutanto Pujomartono dan banyak lagi yang lainnya. Saya akui, interaksi itu membentuk kepribadian saya sampai hari ini. Oya, saya ketemu orang bernama Tgk. M. Yazid di Meulaboh – Aceh Barat, katanya pernah ber-LSM-ria ikut Abang. Sekarang beliau berprofesi guru, dan titip salam untuk Abang.

Abang sebagai seorang Humanis.
Kalau sekarang ada orang pencinta lukisan, kucing, bunga dan tehnik bonsai, hobi mendaki gunung, bersepeda, menyelam, maka semua itu sudah menjadi hobi Abang puluhan tahun lalu. Hebatnya Abang, benda-benda yang menjadi hobinya itu akan diberikan saja kalau ada yang minta. Saya pernah minta 1 pot bunga kaktus, potnya khusus terbuat dari tanah liat yang dibakar oleh Abang sendiri di Galogandang – Payakumbuh. Tak ragu Abang memberikannya. Pot itu sekarang masih ada, tapi bunganya sudah tidak ada.
Pernah ada, seorang teman diantara kami yang pinjam speda, tapi pulang pulang jalan kaki. Sepeda operasional yang menjadi kesayangan Abang itu nyatanya hilang, tapi beliau hanya kecewa sedikit saja. Tidak minta ganti.

Abang sebagai Anak yang Sayang Amai.
Sayang timbal balik, sayang ibu kepada anak dan sayang anak kepada ibu. Tidak saja Amai yang sayang sama Abang, tapi Abang Uwan juga sangat sayang sama Amai (Amai/ Ibu – bahasa minang). Beberapa kali saya pernah diajak Abang berkunjung kerumah Amai, disekitar daerah Gunung Pangilun Padang. Kakobeh Abang yang suka cerita hebat hebat tentang dunia belahan lain, juga sering diceritakan kepada Amai. Amai mendengar saja dan biasanya diujung dialog, Amai berkata “Eri, Amai indak nio carito ang tantang Japang, Balando, Filipina tu doh. tapi Amai nio ang babini. Pailah ka Makkah, badoalah di Ka’bah, minta bini, untuang-untuang dikabuan dek Allah” jawab Amai dalam bahasa Bukittinggi yang medok. Amai bicara serius, tapi semua yang mendengar, bersorak kearah Abang. Abang tak bergeming cukup lama, masih saja sibuk dengan dunianya. Apalagi setelah Abang menjadi pejabat nasional, sebagai Direktur WALHI, jaringan LSM yang bergerak mengadvokasi kerusakan Lingkungan Hidup Indonesia sekaligus dunia.
Tuntutan berumah tangga itu akhirnya terpenuhi pada tahun 1994, Abang menikah setelah berumur hampir 40 tahun. Abang menikah dengan alumnus Fakultas Tehnik Universitas Andalas, yang sudah dikenalnya sejak lama, dan menghadirkan 3 putra putri yang sekarang semua sudah sarjana. Dua putranya lulusan ITB, sedangkan yang putri lulusan UI. Alhamdulillah.

Hidup Harus Realistis.
Sekali waktu Abang pulang ke Padang, untuk berlebaran dan kami beberapa orang kawan ideologisnya berkumpul di Palanta PKBI Sumbar, di kawasan Subarang Padang. Seperti biasa, Abang bagi bagi hadiah: buku kumpulan kolom yang diasuhnya di Koran Haluan Padang. Walaupun berkelana kemana-mana, Abang selalu menyempatkan sekali seminggu menyapa publik Sumatera Barat melalui kolom Skenario. Kumpulan tulisan di kolom skenario itu, ada sekitar 100 artikel, dibukukan dengan judul “Menjemput Masa Depan, mendukung tema besar pembangunan berkelanjutan”.

Seingat saya, pada forum silaturrahmi itu, Abang mulai bercerita, “sekarang saya sedang dalam pendakian. Apabila orang pensiun di umur 60 tahun, tapi saya diumur 60 tahun harus mulai bekerja”. Memang, tuntutan keluarga dan kewajiban membiayai kuliah 3 orang anak, membuatnya memutuskan untuk bekerja disebuah perusahaan perkebunan besar, yang berpusat di Jakarta dan Singapura.

Abang tentu bekerja sesuai minatnya, yakni di bagian Penyiapan Sosial dan Lingkungan Hidup, sesuai kompetensinya dasarnya. Pekerjaan itu, membuatnya harus selalu berpergian, keliling Indonesia. Kadang Abang bisa dihubungi dan bertemu di Jakarta, tapi dia lebih sering berpergian ke Sumatera, ke Kalimantan dan sesekali ke kebun di Papua. Kompetensi Abang sebagai mediator konflik lahan bersertifikat Mahkamah Agung, membuatnya terkadang harus menyerempet bahaya dalam mencari solusi perdamaian. Alhamdulillah, Abang dengan bangga menceritakan dalam 4 tahun berkarir, bersama tim kerja, hampir 200 kasus konflik lahan antara perusahan dan masyarakat tempatan tuntas permanen diselesaikan.

Refleksi kiprah Abang, telah melakukan berbagai cara dan strategi dalam pengabdian kepada masyarakat Indonesia yang dicintainya. Ada yang murni cara dan strategi LSM yakni melalui Yayasan Insan 17. Ada yang modifikasi dan kolaborasi LSM dan ekonomi kerakyatan; Mendirikan Koperasi Equator Minang Media yang menerbitkan Harian Mimbar Minang. Serta yang terakhir ini, Abang berkompromi dengan dirinya, realistis bekerja di perusahaan besar secara profesional untuk mendapatkan benefit agar bisa membiayai pendidikan anak-anaknya. Itu adalah cara dan jalan hidup yang tiap kita masing masing pasti tuntutannya berbeda-beda.

Dalam pandangan saya Abang juga seorang demokrat. Meskipun Abang bisa dikategori sebagai Imam Mazhab LSM di Indonesia, yang seharusnya apapun katanya harus didengar oleh pengikutnya dan tidak boleh dibantah. Namun, ada juga kawan yang berani bercanda, setelah mengetahui Abang bekerja di sektor korporasi perkebunan besar, mereka menuduh-nya sudah lari dari khittah. Abang hanya tersenyum dan tak perlu marah karena itulah demokrasi katanya.

Kalaupun terlihat akhirnya Abang takluk oleh suasana dan keadaan, hakikatnya tidaklah begitu. Saya lihat semua itu adalah proses alamiah saja, sesuai situasi dan kondisi. Kata orang bijak manusia itu berada di dua dimensi, sebagai bagian dari alam dan sebagai penguasa alam. Sebagai bagian dari alam, apabila kena hujan, maka kita akan basah. Tapi sebagai menguasai alam, supaya tidak basah kena hujan, maka kita pergunakan pakai payung.

Sikap idealis dan pengabdian kepada masyarakat Abang tidak perlu diragukan. Disamping seorang idealis, Abang juga perlu realistis !!. Tuntutan menikah dijalani, implikasinya harus berpenghasilan dan perlu bekerja secara professional mendapatkan sumber-sumber penghidupan. Tidak itu saja, akhirnya tentu perlu sedikit kelebihan penghasilan agar bisa menunaikan ibadah haji, seperti kita kebanyakan. Abang tak perlu dihakimi, sebagaimana beliau berpendapat bahwa serahkan saja kelak ke mahkamah abadi untuk penilaian akhir. Apapun itu.

Hallo Abang !.

Wassalam, Padang, 4 Agustus 2020.-

————

H. Armizen Wahid SH., Advokat di Padang, sekarang aktif di Jema’ah Tabligh, berdakwah menyampaikan agama ke berbagai propinsi dalam negeri selain di Sumatera Barat, diantaranya ke Aceh, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur serta juga ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia,Thailand, Bangladesh dan India.

Adikku Zukri | Azmi Saad