Zukri Saad (Uwan) yang kukenal

Oleh : Hardjoni Harun

Hi, Uwan baa kabaa…lamo indak basuo….basuo abuak lah mamutiah dan lah botak pulo sabagian ( Uwan apa kabar.. lama tidak berjumpa.. ketemu rambut sudah memutih dan sebahagian sudah botak pula )… Itu sapaan hangat ketika Saya ketemu Uwan Zukri Saad pada acara kumpul-kumpul kami Anak Banuhampu Bandung, di rumah Amwazi Idrus di Bogor tgl 25 Februari 2017.

Itulah pertemuan pertama saya dengan Uwan, setelah hampir 40 tahun tidak berjumpa. Banyak cerita dan pengalaman yang mengiringi pertemuan nostalgia, dimana teringat di era tahun 1975-1978. Nostalgia manis ketika main ke Asrama Banuhampu Jl Cisitu baru, Uwan akan berteriak memanggil Amwazi : “Ado ransanak dari Lampuang” – ada tamu saudara dari Lampung. Betul saya dan Amwazi kenal sejak kecil , dikarenakan usaha orangtua kami berdekatan di Kecamatan Sukohadjo – saat ini berlokasi Kabupaten Pringsewu – Provinsi Lampung ( dulu Sukohardjo hanyalah sebuah desa pinggiran provinsi, tak dikenal orang banyak).

Di Asrama kalau ada Uwan, pasti heboh dan rame cerita kesana kemari. Uwan kalau berbicara sungguh bersemangat dan kadang meletup-letup. Perilaku ini berulang, tak berubah pada saat pertemuan yang merupakan bagian dari nostalgia, kangen-kangenan di Bogor bulan Februari 2017 itu. Itulah reuni anak-anak Banuhampu Bandung yang jarang terjadi.

Dalam pertemuan di Bogor tersebut, saya terkagum dengan semangat dan jiwa Zukri Saad temanku /sahabatku dan saudaraku yang benar menjiwai motto anak Banuhampu Bandung dalam berkampung-bernagari : “Untuk Nusa Kubangun Desaku”; Pantang menyerah dan putus asa dalam menghadapi tantangan hidup serta selalu berpikir positif dan optimistik.

Mungkin karena motto tersebut “Untuk Nusa Kubangun Desaku” , walaupun Uwan Alumni ITB jurusan Kimia, tapi beliau tidak berkiprah di dunia Kimia. Uwan menggeluti bagaimana mengembangkan masyarakat terpinggir, bagaimana membangun desa untuk mensejahterakan masyarakat pedesaan, kiprah itu yang digeluti dengan terjun langsung ke pedesaan. Untuk itu Uwan memilih kembali ke Padang setelah di wisuda pada awal Maret 1985. Sebagai seorang sarjana yang punya talenta dalam kepemimpinan yang dicerminkannya sejak mahasiswa, dimana Uwan pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB bidang Pengabdian Masyarakat dan Aplikasi Teknologi.

Posisi di lembaga sentral kemahasiswaan ITB itulah, yang membuatnya bergelut dengan bidang yang bersinggungan dengan dinamika kemasyarakatan dipulau Jawa khususnya. Uwan seakan ingin mengimplementasikan motto mahasiswa berasal dari Banuhampu “Untuk Nusa Kubangun Desaku”. Rasanya motto ini yang mungkin menjadi salah satu penggerak hatinya “Aku akan bangun desaku !!.” Kepulangannya ke Sumbar untuk membangun desa-desa (kini di Sumaera Barat disebut dengan Nagari).

Tekad bulat yang makin mengental setelah Uwan berkesempatan beberapa kali mengunjungi perfektur Oita di Jepang. Menyimak pengalaman di Oita, bagaimana masyarakat desa-desa disana bisa maju dan sejahtera, itulah basis keyakinan Uwan untuk melakukan pengembangan desa-desa di Indonesia tercinta, dan salah satunya menjadi ajang dominan kiprahnya di nagari-nagari di Sumatera Barat.

Uwan mencoba mengembangkan pertanian/perkebunan, di beberapa daerah berhasil dan gagal itu sudah menjadi suatu resiko yang tidak membuat patah semangat, petani di desa menjadi lebih faham dan mendapat ilmu bagaimana cara mengembangkan pertanian.

Foto ini diambil saat Uwan menyampaikan gagasan dan pengalamannya di dunia pertanian dalam rangka idealisme untuk nusa kubangun desaku dihadapan teman-teman grup ABB ( Alumni Banuhampu Bandung) dalam pertemuan yang di adakan di Bogor pada 25 Februari 2017.

Diakhir acara diadakan sesi foto bersama dengan teman-teman yang hadir pada saat itu dan Uwan membagikan kenangan kepada teman2 berupa buku “Menyimak Pengalamn Oita” yang ditulisnya. Melalui buku kumpulan kolomnya di harian Mimbar Minang – Padang ini, Uwan menceritakan pengalaman-pengalaman pribadinya dan pemikirannya di sektor pertanian, wisata, transportasi, perdagangan skala kecil dan lingkungan hidup. Uwan sangat piawai dalam menjelaskan masalah Lingkungan hidup didalaminya sehingga sangat menguasai, salah satunya karena beliau berkiprah dalam organisasi lingkungan hidup Wahana Lingkungan Hidup Indonesia – WALHI. Uwan 3 tahun menjadi Presidium Nasional dan hampir 4 tahun menjadi salah satu Direktur Eksekutif-nya.

Sedikit kritik/saran jika buku Menyimak Pengalaman OITA jika bisa di revisi / terbit ulang yakni : (1) Judul tidak / kurang menggigit karena tidak semua orang tahu apa tentang OITA. Jadi judulnya mungkin bisa dipoles menjadi “Bunga Rampai Pengalaman di OITA (Pengalaman Desa Mandiri di Jepang, yang sukses dalam perekonomian lokal); (2) Munculkan foto/gambar / sketsa atau ilustrasi yg relevan agar buku tidak kering.

Kesimpulan yang saya dapatkan tentang sahabatku Uwan Zukri sebagai berikut : (a) Uwan punya prinsip dan motto yang melekat dalam setiap langkah dan tindakannya; (b) Uwan mencintai daerah asal nya sehingga motto Untuk Nusa Kubangun Desaku melekat, terpatri dijiwanya dan sekuat tenaga ingin diwujudkannya; (c) Demikian pula Uwan pantang menyerah, seperti diceritakan Uwan saat pernah mengalami masa masa sulit ekonomi, seperti roda kehidupannya berkeluarga yang pernah berada pada posisi titik nadir. Ceritanya Uwan pernah berkata kepada keluarga, bahwa untuk menunjang kehidupan dan sekolah anak2 disiapkan langkah-langkah darurat dengan skenario : “kalau keadaan ekonomi tidak membaik, mobil satu-satunya kita jual untuk penunjang pendidikan anak-anak. Jika masih belum membaik juga, siap-siap rumah satu-satunya kita jual dan kita ikutan tinggal dengan mertua atau cari kontrakan”. Itu skenario terburuk yang sudah disiapkan dan disampaikan kepada seluruh keluarga, khususnya dihadapan anak-anak yang sedang mendewasa dan perlu biaya besar untuk menuntaskan pendidikan tingginya.

Hasil akhirnya ternyata lain sama sekali. Karena Uwan punya tali silaturahim yang baik dengan teman-teman – bahasa kerennya punya network – yang baik dan benar saja semua teratasi. “ Jika ingin umurmu panjang dan dan rezekimu baik, peliharalah tali silaturahim (network)”. Alhamdulillah, dengan tali silaturahim yang baik kondisi terburuk kondisi keluarga itu tidak pernah terjadi, dan anak2 terpacu dan punya motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan sekolahnya. Dua anak laki-laki lulusan ITB seperti Ayahnya, anak perempuannya lulusan UI. Dua kakaknya sudah bekerja mapan, si bungsu barusan di wisuda virtual dan siap memasuki dunia kerja. Benar, kadang kita tidak tahu dibalik musibah, rangkaian kesusahan, berbagai cobaan jika dihadapi dengan tawakal dan selalu bermohon kepada Allah SWT, selalu saja ada Rahmat yang tersembunyi didalamnya. Itulah Rahasia Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Salah satu hal lain lagi adalah Uwan selalu berpikir positip dan optimis. Nopember 2018, kami berempat sesame alumni ITB, yakni Uwan, saya, Alita Ilyas dan Sofwandi Tarmizi, bertemu di basement Pasaraya Blok M, di kedai Sate Mak Syukur. Kami membahas kasus banjir yang sedang melanda di beberapa daerah, khususnya di Padang. Uwan bercerita banyak tentang kondisi daerah Padang, Sumbar secara umum dan keprihatinan Sofwandi dan Alita tentang musibah banjir yang sering melanda kota Padang.

Ketemu kangen, sambil ngobrol tentang suasana kampung dan masalah banjir, Uwan memberikan pendapat bagaimana mengelola dan menanggulangi banjir sekaligus memanfaatkan potensi airnya. Tinjauan dari segi lingkungan hidup, sebagai mantan Direktur Walhi yang akrab dengan masalah lingkungan, Uwan melihat penanggulangan diawali dengan meningkatan daya resapan air di hutan hulu 18 sungai yang ada, moratorium penebangan hutan di hulu dan seluruh bangunan di kota memiliki sumur / bak resapan proporsional untuk menyalurkan air ke dalam tanah. Di berbagai titik lokasi yang memungkinkan, dibangun embung-embung berbagai luasan umtuk menampung limpahan air sungai-sungai yang kelak akan menjadi sumber air bagi warga kota, perikanan darat berbasis RT/ RW dan bisa pula untuk wisata dan olah raga.

Uwan menjelaskan ia sudah membuat sumur resapan di rumahnya yang sedrhana di kawasan Gunung Pangilun, yang bila diukur berdasarkan perhitungan iklim, setindaknya ia mengkonservasi 100 ribuan kubik pertahun air permukaan. Kumpul ngobrol ini hanya merupakan wacana dan sudah menunjukan betapa pedulinya Uwan dan teman teman akan kampung halaman. Ia sangat mengkhawatirkan bahwa bencana banjir akan selalu berdatangan dengan frekwensi makin rapat pertahunnya, akibata perubahan iklim yang mengencerkan es di kutub. Hal mana berakibat kenaikan muka air laut, muka air sungai dan berdampak banjir tahunan dengan ketinggian yang meningkat pula. Harus ada langkah-langkah, baik itu melalui kebijakan pemerintah, tapi harus diiringi dengan partisipasi warga kota.

Inilah selintas yang bisa saya ungkapkan sepanjang silaturahmi kami. Selamat merayakan hari kelahiran pada 5 November 2020, sekalian capaian usia ke 65. Semoga disisa usia Uwan tetap sehat dan mendapat barokah bahagia bersama keluarga, Aamiin YRA.

Bekasi, 3 Oktober 2020

————

Ir. H. Hardjoni Harun, Alumni Departemen Tehnik Geologi – FTI ITB 1979, menetap di Jakarta. Bekerja di bidang Geologi Tehnik dan pengembangan Air Tanah selama 5 tahun dan 32 tahun berkarir sebagai profesional bidang Oil dan Gas di beberapa perusahaan internasional. Saat ini menikmati masa pensiun dengan momong 4 orang cucu.

Adikku Zukri | Azmi Saad