Zukri Sebagai Saintis, Aktifis Sosial dan Lingkungan

Oleh : Umar Juoro

Saya mengenal Zukri dua bulan sejak masuk ITB pada 1978, sebagai senior yang membimbing mahasiswa baru. Ketika itu mahasiswa ITB melakukan aksi mogok kuliah, kampus diduduki oleh tentara dan mahasiswa berdemo menentang Presiden Suharto yang dianggap ororiter dan mengabaikan kesejahteraan rakyat. Mahasiswa senior yang masih datang ke kampus, biasanya para aktifitis, pada umumnya mengolok-olok kami mahasiswa baru sebagai tidak ada solidaritasnya dan takut, sehingga tetap kuliah sementara para seniornya mogok kuliah.
Berbeda dengan aktifis mahasiswa senior lainnya, Zukri lebih toleran dan mengajak dialog dengan mahasiswa baru mengenai harapan-nya sebagai putera-puteri terbaik bangsa dan kesadaran mahasiswa baru mengenai hak sosial dan politik. Pendekatannya persuasif, dialogis dan tidak menggurui. Zukri tidak menunjukkan berlebihan keseniorannya sebagai aktivis mahasiswa. Ia low profile sejak saya kenal.
Di kampus ITB Zukri adalah senior yang antara lain mengorganisasikan unit aktivitas mahasiswa PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan), yang menghimpun mahasiswa yang mempunyai minat pada ilmu-ilmu sosial dan kegiatan sosial. Kegiatannya lebih pada berdiskusi, menulis, dan aktivitas sosial yang mendapatkan banyak minat dari mahasiswa. Banyak para ahli sosial, politik, dan ekonomi tingkat nasional diundang ke kampus untuk memberikan pemikiran dan pandangan mengenai konsep dan permasalahan sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Tentu saja para aktifis dan pemimpin mahasiswa yang paling aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan ini memberikan dasar dan bahkan pengembangan pemikiran mahasiswa untuk bidang sosial, politik dan ekonomi secara ekstra kurikuler. Zukri selalu hadir sebagai mentor dan fasilitator dalam kegiatan tersebut. Saya sendiri menaruh minat besar dalam bidang ekonomi dan bahkan dapat menerbitkan tulisan dalam bidang ekonomi di media ternama seperti Kompas, Pikiran Rakyat dan Prisma ketika mahasiswa.
Berbeda dengan tokoh mahasiswa lain yang pada umumnya selalu mendorong mahasiswa junior nya untuk berdemonstrasi dan bahkan melakukan tindakan yang berani melawan pimpinan ITB dan aparat keamanan, Zukri selalu mengedepankan pendekatan dialog, sumbangan pemikiran dan juga tata cara sopan santun untuk tidak sekedar menyerang secara kasar, kepada pihak- pihak yang dikritik mahasiswa.
Zukri dan para aktifis mahasiswa pada 1970an dan 1980an memperjuangkan dibangunnya demokrasi yamg memberikan hak suara kepada seluruh rakyat untuk menentukan wakil rakyat dan presiden. Bahkan kami menyuarakan supaya presiden RI dipilih langsung. Untuk memberikan contoh, Dewan Mahasiwa memilih ketuanya secara langsung, dengan setiap mahasiswa mempunyai satu suara. Pemilihan senator mahasiwa juga dilakukan secara langsung. Begitu pula pemilihan Ketua Himpunan Jurusan (di ITB ketika itu tidak dikenal senat mahasiwa fakultas).
Zukri adalah salah satu tokoh mahasiwa yang memberikan penekanan pada pentingnya pendidikan dan kesadaran masyarakat untuk berdemokrasi, yang tidak hanya dengan mobilisasi politik. Tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat menentukan apakah demokrasi dapat berkembang di Indonesia.
Zukri juga sering memberikan nasehat untuk tetap menjadi mahasiswa yang baik secara akademis, sekalipun kita menjadi aktivitas mahasiswa. Walaupun kita adalah aktifis mahasiswa yang sering berdemo, banyak kegiatan ekstra kurikuler, resiko di skors oleh rektor dan bahkan ditangkap aparat keamanan, kita harus tetap mengutamakan akademis.
Kita harus lulus ITB dengan gelar dan hasil yang baik , orang tua kita sangat megharapkannya, begitu pula masyarakat, dan tentu saja dengan gelar sarjana kita dapat memberikan pengabdian yang lebih besar kepada masyarakat. Jadi jangan meninggalkan kuliah karena aktifitas kemahasiswaan dan politik, pesan Zukri, yang tentu saja Saya ikuti.
Zukri adalah mahasiswa Kimia saya Fisika, sama-sama di Fakuktas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Ia juga memberikan nasehat bahwa penguasaan sains seperti Kimia dan Fisika tidak hanya bermanfaat di bidangnya tetapi juga dapat memberikan sumbangan luas kepada masyarakat. Baik dalam aplikasi ilmu maupun dalam metoda berfikirnya. Sebagai saintis kita lebih berfikir mendasar mencari kausalitas, teori dan bukti empirikal sekaligus, dan memberikan solusi yang kuat dasarnya terhadap suatu permasalahan.
Zukri menjelaskan bahwa kimia itu menjadi dasar ilmu pengetahuan karena semua aspek kehidupan ini dasarnya adalah kimia. Tabel periodika kimia adalah dasar dari bangunan alam semesta ini. Kimia tidak saja berkaitan dengan benda-benda nyata, tetapi juga dipakai istilahnya dalam aspek psikologis dan sufi (Al Ghazali dan Ibn Arabi) seperti kimia cinta, dalam bahasa Inggris Alchemy of Love dan dalam bahasa Arab kimia al shahadah.
Tentu saja, Saya sebagai mahasiswa Fisika berpendapat bahwa Fisika adalah ibu dari ilmu pengetahuan (mother of science). Bahkan dengan perkembangan Fisika Quantum aplikasinya bukan saja di bidang fisika dan sains lainnya, seperti quantum kimia, quantum biologi, kosmologi, rekayasa (engineering), kesehatan tetapi juga ekonomi, keuangan, psikologi dan bahkan juga spiritual.
Mahasiswa ITB berasal dari berbagai daerah di Indonesia, putera-puteri terbaik bangsa, sehingga merepresentasikan kebhinekaan. Zukri sebagai mahasiswa dari Padang, menarik bagi saya menanyakan kepadanya mengapa tokoh-tokoh nasional dari Minangkabau seperti Hatta, Syahrir, Agus Salim, mereka itu pandai dan mendunia tetapi tetap menjaga ke Islaman dan tradisi Minang yang kuat. Zukri menjawab “itulah yang harus kita contoh. Pandai serta kosmopolitan tidak berarti meninggalkan agama dan tradisi karena itulah dasar nya. Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Adat mangato, syara’ mamakai. Supayo pandai rajin berguru, supayo tinggi naikkan budi. ” katanya dalam logat Minang yang kental. Saya sangat berterima kasih atas nasehat ini yang sampai kini masih tetap menjadi pegangan hidup Saya.
Pada saat perhatian terhadap kelestarian lingkungan meningkat, Zukri aktif di WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) bersama-sama dengan aktifis mahasiswa ITB dan universitas lainnya. WALHI menjadi pelopor dan penggerak kelestarian lingkungan di Indonesia. Bersama Zukri dan teman-teman mahasiswa lainnya, Saya turut serta dalam berbagai aktivitas WALHI yang langsung memberikan jawaban terhadap kerusakan lingkungan. Mulai dari advokasi kebijakan, kampanye, sampai pada aksi di tingkat masyarakat. Saya masih sering bertemu Zukri dalam kegiatan berkaitan dengan lingkungan dan pembangunan setelah selesai kuliah dari ITB.
Ketika masa Orde Baru dengan politik otoriter di bawah Suharto dan memasuki masa demokrasi yang berlangsung dengan cepat di bawah kepemimpinan Habibie pada 1998, Zukri menyampaikan kepada saya, “ akhirnya apa yang kita perjuangkan sejak masa mahasiswa yaitu demokrasi menjadi kenyataan”. Namun saya sampaikan juga ke Zukri, “Iya tetapi mengapa banyak teman-teman alumni ITB sendiri yang begitu bersemangat untuk menjatuhkan Habibie lewat demonstrasi jalanan, Habibie kan berjanji dan merealisasikan untuk membangun demokrasi di Indonesia”. Entahlah.
Pada waktu itu Saya menjadi Asisten EKUIN Presiden Habibie. Zukri dengan ciri bijaknya menjawab “itulah politik, yang utama memang kekuasaan dan kepentingan, tetapi jangan menyerah, kita harus terus bersama membangun demokrasi ini. Kita harus membangun demokrasi yang berjalan bersamaan dengan pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat”.
Saya juga bertanya kepada Zukri, mengapa tidak masuk langsung ke dunia politik praktis seperti banyak teman-teman alumni ITB, ada yang di PDIP, Golkar, PAN dan PPP sebagai pimpinan dan anggota DPR. Zukri menjawab “biarkan mereka yang terjung langsung sebagai politisi, kita dukung mereka untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan hanya kepentingan pribadi dan kelompok. Saya berada diluar system, mencoba konsisten mengabdi langsung saja kepada masyarakat”.
Saya juga bertanya kepada Zukri, mengapa tidak bergabung dengan perusahaan besar yang sangat membutuhkan keahlian dan pengalaman dalam bidang kimia dan lingkungan seperti yang dipunyai Zukri. Banyak teman-teman alumni kita bekerja di perusahaan besar dan tetap masih bisa memberikan kontrobusi pada kegiatan sosial. Saya sendiri juga bekerja sebagai komisaris bank swasta. Zukri dengan bijak menjawab “kepuasan dan kebahagiaan saya adalah bekerja langsung dengan masyarakat. Ini tidak bisa dinilai dengan uang dan kenyamanan hidup”. Walaupun periode 5 tahun terakhir, saya mendengar Zukri bekerja di sebuah group swasta besar di bidang perkebunan dan industry kelapa sawit. Tentu ada justifikasi, katakanlah kebutuhan domestik mendesak karena 3 anak-anaknya perlu dukungan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Alasan yang sangat manusiawi.
Cukup lama tidak mendengar khabar dari Zukri, sampai suatu saat Zukri menelpon saya bahwa dia tinggal di Padang aktif dalam kegiatan sosial di sana. Zukri bilang kepada saya “ Kita juga harus berkontribusi langsung membangun kampung halaman ”. Jiwa pengabdian kepada masyarakat nya demikian besar sehingga di manapun Zukri selalu mengabdikan kemampuannya, pemikirannya, pengalamannya, dan kegiatannya kepada masyarakat luas. JIwanya terpaut disana.
Semangat itu terus berkembang pada diri Zukri sejak saya kenal masa Mahasiswa sampai sekarang ini, ketika kita sudah memasuki tahapan kehidupan paruh yang terakhir. Selamat menjalani usia Lansia Muda Bung, usia berkah 65 tahun. Teruslah bergerak sesuai nurani, tidak perlu harus berhenti.
Jakarta, 15 Agustus 2020

————

DR. Umar Juoro, Alumni Jurusan Fisika ITB 1984, Jurusan Ekonomi di University of Philippines – Filipina; Boston University USA dan Keil University – Germany. Saat ini menetap di Jakarta, aktif sebagai Senior Fellow di The Habibie Center, Senior Fellow di ACI LKY School of Public Policy – National University of Singapore dan Komisaris Independen HSBC Indonesia. Pernah bekerja sebagai Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia, Asisten EKUIN Presiden Habibie, Konsultan Bank Dunia, ADB, UNDP dan ILO. Peneliti di ISEAS Singapore dan LP3ES Jakarta.

Adikku Zukri | Azmi Saad